Mengemas Engklek Jadi Potensi Wisata

Warna-Warni Kampung Wisata di Tepi Kapuas (3)

3-Bermain engklek dengan anak KampungMelihat kampung wisata baru Kuantan di tepian Sungai Kapuas itu saya merasa geliat wisata berbasis pemberdayaan masyarakat ini patut didukung siapa pun. Saya jadi berharap banyak pada masyarakat, wisatawan dan pemerintah bisa menjaga keberlangsungannya. Salah satunya dengan menyediakan sarana yang nyaman seperti fasilitas parkir kendaraan, toilet umum dan tempat sampah.

Selain Kuantan, ke depannya kampung-kampung lain lain di pinggiran Sungai Kapuas bisa disulap menjadi kampung wisata baru. Dengan begitu, menikmati tepian Kapuas akan lengkap. Wisatawan bisa sekalian cuci mata, berolahraga, sekadar kongkow atau melakukan kegiatan lain. Saat saya di sana, saya sempat berpapasan dengan seorang anak yang bermain engklek yang dilukis di atas jalan semen ini. Saya menyapa anak ini yang tersenyum malu-malu. “Boleh ikot maen ndak?,” saya menawarkan diri.

Anak ini tersenyum tanda setuju. Saya mencoba berlompatan bermain engklek sembari pikiran saya melayang saat saya masih seumurannya. Selama menikmati sore di sana banyak sekali interaksi dan aktivitas bermuatan wisata yang saya temukan. Walaupun Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat sudah berkembang menjadi perkotaan yang maju, namun masyarakatnya masih banyak yang beraktivitas di tepi sungai. Mulai sekadar mandi, mencuci hingga memancing.

3-Pak Santo dan layang layang buatannyaSore itu, saya mendapati ibu-ibu bergerombol sembari berbincang hangat di depan rumah. Saya mendapati juga beberapa anak-anak yang dengan bahagianya bermain di tepi sungai. Mereka melompat dengan riang gembira dari beberapa galangan. Sambil tertawa mereka jungkir balik dengan ceria. Tak ada rasa sedih, hanya bahagia yang terdengar dari suara mereka. Betapa bahagianya melihat pemandangan yang jarang saya temui sekarang. Anak-anak bermain di luar rumah, yang jauh dari kepungan teknologi.

Beberapa rumah di kampung wisata ini memiliki galangan. Salah satu yang cukup ramai ada di paling pojok kampung wisata ini. Saya melihat ada rumah produksi layang-layang. Santo, salah satu pembuat layang-layang sempat saya tanyai; “Berape harga layang-layang siap maen ni Bang?” Dengan ramah sembari tersenyum ia menjawab; “Rp 10 ribu jak Bang, kalau belom ditambah tali dengan cat Rp 8 ribu jak.” Selain Santo, terlihat beberapa orang sibuk menggulung benang.3-Bermain layang layang di pinggir Sungai Kapuas

Sementara di galangan depan rumah terdapat seorang pria yang bertugas memainkan layang-layang untuk mencoba apakah sudah layak terbang dan dijual. Puas melihat geliat warga di kampung wisata itu, maksud hati saya ingin beristirahat sejenak di cafe yang ada di galangan lain. Namun ternyata saya kurang beruntung. Sore itu ternyata banyak yang mampir ke kampung wisata hingga tidak ada satupun bangku yang tersisa untuk saya. (naskah dan foto: Donny Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)