Mengabadikan Kota Lewat Sketsa

[two_third last=”no”][/two_third]

TAK ada hal yang tidak bisa diabadikan. Setiap peristiwa, atau tempat-tempat, punya caranya sendiri untuk dikenang, namun ingatan manusia hanya pendek; sebatas merekam, kemudian hilang. Karena itu, manusia berkarya, mengabadikan setiap detil yang menarik dalam kehidupan. Potret, tulisan, gurat cat pada kanvas hanya beberapa jalan. Sketsa, pun termasuk salah satunya. Hal itulah yang menjadi dasar bagi Urban Sketcher Surabaya (USS), sebuah komunitas yang terdiri dari para sketser asal Kota Pahlawan. Dibentuk oleh LK Bing sejak Mei 2013 lalu, saat ini USS telah memiliki 6 anggota.

 

Tahun ini, USS berencana membuka peluang bagi siapa saja yang berminat untuk bergabung. Diawali dengan membuka workshop atau kelas menggambar. Hal ini, menurut LK Bing, sketser sekaligus penggagas USS, juga bertujuan untuk memberikan wadah bagi mereka yang berminat untuk mendalami dunia seni sketsa.

IMG_0191_2

“Kami melihat sebenarnya banyak sekali yang ingin belajar sketsa, terutama para mahasiswa. Sayangnya belum ada wadah yang mumpuni untuk mereka belajar secara serius,” terang Bing.

Selain itu, pria kelahiran 10 Juni 1972 itu mengatakan, bahwa USS sangat terbuka kepada siapa saja yang berminat untuk  bergabung ataupun sekadar sharing dan kumpul-kumpul. “Kami tidak pernah membatasi apakah seseorang harus menjadi  seperti kami atau tidak. Bagi teman-teman profesional, penikmat sketsa, atau yang hanya ingin kumpul dan makan-makan, silakan. Kami selalu menyambut dengan terbuka.”

Meski usia komunitas ini bisa dibilang baru seumur jagung, namun saat ini USS telah memperlihatkan sebuah prospek yang menjanjikan. Seperti yang tampak ketika tim redaksi berkunjung, terlihat seorang anggota yang sedang membuat sketsa pesanan. “Ini pesanan dari Intiland,” ujar Deny, sang sketser. “Mereka minta dibuatkan sketsa untuk seluruh properti.”

Urban Sketcher memang suatu perkumpulan bagi para pelaku seni sketsa yang memfokuskan diri untuk mengabadikan karya-karya arsitektur perkotaan. LK Bing menjelaskan, saat ini USS cenderung mengabadikan tempat-tempat atau bangunan yang memiliki cerita dan nilai sejarah yang tinggi, termasuk bangunan-bangunan cagar budaya. Hampir seluruh bangunan cagar budaya di Surabaya pernah dirupakan ke dalam sketsa oleh para punggawa USS.

“Meski begitu, kami tidak pernah bosan untuk menggambar kembali bangunan-bangunan heritage tersebut. Tentu dalam sudut pandang dan teknik yang berbeda,” ujar Bing.

Veteran streetLebih lanjut, Bing mengungkapkan, tujuan dirinya menggagas komunitas Urban Sketcher Surabaya ini adalah untuk memacu daya kreatifitas dari para sketser di Surabaya, hingga kelak bisa bersuara sampai ke tingkat dunia. “Kami ingin menunjukkan kepada dunia kesenian, bahwa sketser Surabaya itu ada. Kami nyata dan kami berkarya. Dan, saya yakin kelak karya-karya sketser Surabaya akan ada yang bisa bicara sampai ke dunia internasional,” tegas Bing.

Selain mendirikan kelas menggambar konvensional, rupanya LK Bing juga ingin mengadakan semacam kursus gratis yang ditujukan bagi orang-orang yang ingin serius mendalami seni sketsa, namun terbentur oleh kondisi ekonomi. Dia menyebut hal tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial dirinya kepada masyarakat.

Untuk itu, Bing berencana menggandeng sejumlah perusahaan yang bersedia menjadi donatur program tersebut. “Nanti kami bisa meminta perusahaan-perusahaan untuk mengkaver biaya peralatan untuk para peserta,” ujarnya.

Meski berupa pelatihan gratis, bukan berarti para peserta nantinya akan dibekali materi yang pas-pasan. Bing menyatakan akan tetap bersikap profesional, bahkan dirinya menginginkan agar program tersebut berjalan secara berkesinambungan, agar nantinya bisa muncul bibit-bibit sketser muda yang potensial dan profesional.

“Lewat program ini, saya murni ingin memberikan semacam wadah dan kesempatan bagi mereka untuk berkarya dan menjadi profesional. Dan saya tidak mengharapkan apa-apa,” jelas Bing.

Pria berkacamata ini pun mengungkapkan, suatu kali dirinya pernah bertemu seseorang yang rela datang jauh-jauh dari Sidoarjo untuk menghadiri pameran sketsa di Surabaya, hanya dengan mengendarai sepeda onthel. Begitu mengetahui hal itu, sontak Bing merasa terharu melihat kegigihan orang tersebut. Ia menuturkan, suatu saat dirinya ingin bisa mengajak orang-orang seperti itu  dalam sebuah pameran sketsa sehingga dapat mendongkrak kepercayaan diri mereka dalam berkarya.

EarlyMorningAtKebonRojoNamun Bing mengakui, untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah. Selain persoalan biaya, juga mental rata-rata sketser pemula masih merasa takut bila harus mulai menggoreskan karya mereka dengan bahan-bahan yang mahal. Hal ini yang menyebabkan para sketser tersebut sulit berkembang menjadi seorang profesional. “Umumnya mereka masih takut jika nanti hasil karyanya jelek, padahal kertasnya sendiri harganya sudah mahal. Mereka belum mengerti, jika bahan-bahan tersebut sudah didesain sedemikian rupa agar kita bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Hal ini yang harus terus disosialisasikan kepada mereka,” tegasnya.

Karena itu, dalam mengajar membuat sketsa Bing selalu berusaha menciptakan ruang diskusi dengan memaparkan secara rinci mulai dari asal, kegunaan, hingga kepada medium apa setiap bahan dapat digunakan dengan tepat. Hal ini bertujuan untuk memberikan ruang kebebasan kepada sketser tersebut untuk berkreasi dengan karya mereka. “Saya ingin mereka punya filosofi sendiri, memahami karakter setiap bahan dan media yang akan digunakan. Dengan begitu, mereka punya kesempatan untuk berimprovisasi, bahkan bisa jadi suatu saat mereka bisa menemukan bahan maupun teknik baru yang belum pernah ada,” tukasnya.