Menerima Bintang Budaya Parama Dharma dari SBY

Mengenal Kwee Tek Hoay, Sastrawan Besar Melayu-China (2)

KTH 2-aSastra bagi Kwee Tek Hoay merupakan alat untuk mendidik masyarakat dan sesamanya. Gagasan pertama yang ingin disampaikannya adalah mengenai asimilasi. Itu banyak ditulis Kwee Tek Hoay dalam bukunya.

Nilai-nilai aslimilasi itu agaknya tercermin dari pribadi Kwee Tek Hoay sendiri. Pria yang lahir 31 Juli 1886 itu dikenal sukses menekuni semuanya hampir secara bersamaan mulai pengusaha, kritikus, organisator, sastrawan, jurnalis, penulis, pendidik, pencetak, sekaligus penerbit dari karya-karyanya sendiri. Bahkan belakangan ia adalah seorang rohaniwan.

Kwee Tek Hoay juga seorang pria dengan segudang pemahaman. Masalah politik, ekonomi, pendidikan, sastra, sosial, dan keagamaan ia kuasai. Setidaknya dari apa yang tuangkan dalam karya-karyanya. Sebagai anak bungsu dari Kwee Tjiam Hong, pedagang obat-obatan dari Tiongkok yang kemudian juga membuka toko tekstil dan tinggal di Bogor, Kwee Tek Hoay juga piawai berdagang.

Begitu banyak pilihan aktivitas hidup yang dilakukan, maka layaklah Kwee Tek Hoay menerima Piagam Tanda Kehormatan yang diberikan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma sebagai sastrawan Melayu, pada 7 November 2011 lalu.

Dari semua hal itu yang menarik adalah sosok Kwee Tek Hoay sebagai jurnalis dan penulis. Minatnya pada dunia tulis menulis sudah terlihat sejak kecil. Ia sudah menjadi seorang kutu buku dan kepandaiannya mengarang sudah tampak sejak masih sekolah. Kegemarannya menulis berkembang menjadi profesi dan tulisan-tulisannya tersebar pada berbagai media masa, seperti mingguan LI PO, Surat kabar Ho Po, dan Bintang Betawi.

KTH 2-bIa juga pernah menjadi kepala Redaksi Harian Sin Bin (Bandung, 1925). Kemudian berturut-turut menjabat pimpinan redaksi Mingguan Panorama (1930-1932) yang kemudian menjadi majalah bulanan Moestika Panorama (1930-1934) dan  berganti nama menjadi Moestika Romans, Mingguan Moestika Dharma (1932-1934) dan majalah Sam Kauw Gwat Po (1934-1947) yang khusus membahas masalah agama.

Tahun 1931, Kwee Tek Hoay mendirikan percetakan dan penerbitan Moestika di Jakarta dan dipindahkan ke Cicurug, Bogor pada 1935. Salah satu perhatian Kwee di dunia jurnalistik adalah kehidupan masyarakat Tionghoa peranakan di Indonesia. Mengenai hal tersebut, Leo Suryadinata, ahli ilmu politik dari National University of Singapore mengatakan jika kemungkinan Kwee Tek Hoay adalah penulis peranakan yang paling kompeten mengenai masalah Tionghoa Indonesia sebelum perang dunia kedua.

“Kaum peranakan berpendidikan universitas yang menulis tentang orang Tionghoa Indonesia baru muncul dalam tahun empat puluhan,” tulis Leo dalam buku Politik Tionghoa Peranakan di Jawa. (naskah: Heti Palestina Yunani/foto: net/editor: hpy/bersambung)