Mendulang Untung dan Kejutan di Negeri Orang

photo nurSolo traveling? Wah aku suka sekali. Beberapa daerah di Pulau Jawa pernah aku jabanin, juga negara tetangga antara lain Thailand, Malaysia, Singapore, Kamboja, China. Hobby solo traveling ini kumulai sejak tahun 2000-an. Solo traveling bagiku mengasyikkan. Salah satunya karena kita lebih bebas menentukan rencana trip sesuai dengan kemauan dan lebih fleksibel. Kalau kita mendadak merubah rencana sesuai dengan mood selama perjalanan, ya tinggal putuskan sendiri.

Dengan solo traveling, kita jadi lebih membuka diri ke sesama traveler lain yang kita temui di perjalanan. Malah ada banyak keuntungan atau rezeki yang kita dapat dari sesama traveler ini. Sensasinya? Bebas dan banyak kejutan. Yang asyik sih ketika aku jalan sendiri ke Golden Triangle. Di perbatasan Thailand, Myanmar dan Laos itu, aku dapat teman seperjalanan, seorang cewek Rusia untuk sharing tour cost. Kami sewa jasa tour guide anak sekolah pariwisata di sana yang murmer (murah meriah) untuk keliling seharian.

Lucunya cewek Rusia ini sama sekali nggak bisa bicara bahasa Inggris. Jadi komunikasi kami lucu; dia memakai bahasa Rusia dan aku berbahasa Inggris. Nyatanya, komunikasi kami masih bisa nyambung juga. Kala berkunjung ke Doi Suthep Temple di Chiang Mai, aku sharing menyewa angkot untuk pulang pergi dengan suami-istri dari Jepang yang kebetulan kutemui di terminal angkot. Kejutannya; ternyata mereka mengerti bahasa Indonesia, bahkan si istri sangat fasih. Maklum, mereka pernah tinggal di Bali selama 1,5 tahun.

solo traveling nur 1 chiang rai
Chiang Rai

Saat di dalam perjalanan kereta Beijing-Xi’an selama 15 jam, sebuah rombongan keluarga yang duduk bareng di kereta, memberiku camilan-camilan. Mungkin aku mirip dengan anak-anaknya kali ya, hahahaha. Tak hanya itu enaknya solo travelingsolo traveling. Di Xi’an, aku dapat rezeki postcard-postcard Tibet cantik dari seorang traveler asal Taiwan.

Di salah satu temple di atas bukit di Chiang Rai, aku malah beruntung bertemu salah seorang bhiksuni yang mengajakku ke salah satu sudut teras temple. Dari sini, aku bisa melihat pemandangan matahari terbenam yang oh sungguh cantik sekali. Tentang destinasi ini, sopir mobil sewaan yang merangkap tour guide sampai surprise karena dia sendiri belum pernah tahu spot itu. Katanya itu bukan spot umum. Beruntung kan?

Ada lagi. Waktu ke Kampung Naga di Garut, aku diizinkan menginap. Padahal biasanya menjelang Ramadan, masyarakat setempat tidak mengizinkan orang luar kampung untuk stay. Buktinya, rombongan sebuah televisi yang datang bersamaan untuk melakukan liputan tidak diizinkan menginap. Alasan mereka karena aku cewek sendirian dan datang menjelang Maghrib, jadi mungkin nggak tega mengusirku ya, hahaha. Nah, masih keder untuk melakoni solo traveling? Saya sih nggak. (naskah: Nurdianing Ayu/foto: itn/hpy)