Mendaki Gunung Berletusan Terkuat

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (7)

Sampai di basecamp dekat Gunung Tambora saya bertanya-tanya pada pengurus pendakian. Ternyata untuk mencari teman berbagi tenda tidak ada karena hanya saya saja yang datang hari itu. Tambora tidak seramai Rinjani, mungkin karena akses transportasi baik darat maupun udara Sumbawa yang relatif lebih sulit dibandingkan Lombok.

Tambora memiliki keindahan alam yang unik dan berbeda dengan Rinjani. Tambora setinggi 2851 mdpl ini memiliki nilai sejarah tentang kekuatan letusannya. Bayangkan, letusan pada 1815 konon memangkas ketinggian gunung dari 4300 mdpl hingga menyisakan hampir setengahnya saja.

Saat ini akibat letusan dahsyat tersebut terbentuk kaldera seluas 7 km2. Menurut Wall Street Journal, saat itu gunung ini mengakibatkan gagal panen hingga Tiongkok, Eropa, dan Irlandia. Maka dari itu, acara ulang tahun Tambora kemarin mengambil nama ‘Tambora Menyapa Dunia.’

Malam hari saya putuskan untuk menggunakan jasa pemandu untuk menemani pendakian sekaligus menyewa tenda di sana. Akhirnya saya packing seluruh perbekalan lalu beristirahat di homestay basecamp tersebut. Tak banyak barang yang saya bawa karena rencana hanya berkemah satu malam di atas gunung.

7-Kerimbunan TamboraSelesai sarapan, langsung saya dan kawan baru saya ini menanjak kaki Gunung Tambora. Diawali dengan tanah yang relatif basah dan daun berembun selama melintasi kebun kopi di Gunung Tambora. Sinar mentari melewati celah-celah batang pepohonan yang masih sangat rimbun.

7-Biji Kopi TamboraSelesai melewati jalur perkebunan kopi, kami masuki daerah hutan tropis. Benar kata orang, jumlah pendaki di sana sangat sedikit. Itu terlihat dari jalur yang masih banyak tertutup alang-alang atau rumput, dahan pohon yang menutupi jalan, hingga batang pohon tumbang menutupi jalur masih cukup banyak dan besar.

7-Ukuran Pohon Tumbang di TamboraTiba di Pos 1 sekitar pukul 08.30, sambil melakukan pendekatan sosial dengan teman baru yang relatif pendiam ini. Pendakian gunung dengan perasaan senang antar satu orang dengan kawan lainnya akan sangat membantu stimulus penyemangat yang muncul dalam diri setiap individu. Itulah suasana yang selalu saya bentuk dalam setiap pendakian.

Langkah kami terus mendaki jalur Tambora hingga melewati Pos 2 yang sangat dekat dengan sungai kecil berair bersih dan jernih. Selesai membasuh dan menyegarkan diri dengan meminum air itu, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 3. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari kawan baru saya ini, ayam hutan dan satwa unggas lainnya masih sangat banyak.

Wajarlah sebab di sepanjang jalur banyak saya temui bulu-bulu unggas berserakan. Salah satunya bulu burung kampodu (sebutan masyarakat sana). Sayangnya masyarakat setempat masih melakukan perburuan. Kegiatan ini masih belum dilarang tegas karena petugas kehutanan taman nasional belum berperan efektif layaknya petugas taman nasional di gunung lainnya. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)