Mencuri Start Barter, Disemprit

Oh Lembata; Pulau Pemburu di Lautan (3)

lembata barter (1)Inilah daya tarik saya saat mengunjungi Pulau Lembata. Di pasar barter yang dilaksanakan di Lamalera setiap Jumat pagi itu, ada 8 desa lain yang ikut. Mereka merupakan desa-desa dengan hasil pertanian dan perkebunan, dan desa nelayan.

Pasar ini biasanya dilaksanakan setiap jam 8 sampai jam 10 pagi. Kali ini karena hujan mengguyur deras di pagi hari, pasar dimulai pukul 10. Ada peraturan tertentu dalam pelaksanaannya; semua orang yang terlibat dalam pasar barter dari 8 desa harus sudah berkumpul.

Mereka juga harus siap mengatur dagangannya dengan tertib. Dua orang pengawas bertugas mengawasinya. Jika terlihat ada yang mencuri start dengan melakukan penukaran sebelum peluit tanda dimulai transaksi, pengawas bertindak.

Pengawas memarahi pedagang dan meminta supaya barang yang akan ditransaksikan dikembalikan ke pemilik masing-masing. Mereka kembali menunggu peluit ditiup sebagai tanda dimulainya transaksi barter. Unik ya?

lembata barter (2)IMG-20161230-WA070Dua orang pengawas ini lalu menarik restribusi dengan cara berkeliling membawa karung. Para pedagang memberikan sedikit sayur, beras, atau buah sebagai pembayarannya. Penduduk dari desa nelayan bisa pula menukarkan seekor ikan asin atau ikan kering dengan satu macam hasil bumi dari petani.

Dalam barter, alat tukar yang mempunyai nilai paling tinggi adalah daging ikan paus yang sudah dikeringkan. Daging ini bisa ditukarkan dengan tiga macam hasil bumi yaitu sayur, beras dan buah. Tidak menutup kemungkinan seseorang bisa menukarkan roti buatan mereka dengan pisang, sayur atau beras. Tapi tidak ada uang terlibat sepeser pun.

Ini membuat saya berpikir bahwa manusia ternyata bisa melangsungkan hidup tanpa uang jika mereka butuh untuk memenuhi basic need saja. Pertanyaan kepada saya sendiri; apakah saya bisa melakukannya? Se-hippie hippie-nya saya, sepertinya tantangan ini terlalu berat. Hmmm mungkin untuk beberapa hari saya akan bisa melakukannya kalau kembali ke era berburu dan meramu.

lembata 6Keterbatasan waktu membuat saya tidak bisa berlama-lama tinggal di Lamalera. Setelah berkunjung sejenak di rumah nenek teman saya di Lamalera, saya pulang ke Lewoleba. Terkesannya, saya pergi setelah si nenek menghidangkan makan siang berupa daging ikan paus, tumis daun pepaya dan beras merah. Nikmat sekali…..

Hati saya juga lega karena membawa satu lagi cerita tentang kekayaan tradisi sebuah desa kecil, di sebuah pulau di Indonesia. Sebuah cerita yang bagi saya merupakan  harta yang bisa saya simpan, tidak akan hilang, berkurang dan bisa saya teruskan ke anak cucu saya nanti. Ohhh  feel old now. (naskah dan foto: Monique Aditya/editor: Heti Palestina Yunani)