Mencicipi Surga Dunia di Pulau Peucang

Pernahkah Anda merasa hidup Anda begitu bising? Lelah dengan segala keruwetan dan kemacetan lalu lintas yang menguras kesabaran? Atau, pusing oleh dering ponsel yang seolah tak pernah berhenti? Anda mungkin perlu berhenti sejenak dari segala aktivitas Anda, lalu membuka peta dan mencari sebuah tanda di mana terdapat sebuah pulau tanpa penghuni. Sebuah tempat tersembunyi dan tak terjangkau oleh sinyal, hanya ada deru ombak, suara binatang, serta teduh pepohonan tropis berusia ratusan tahun.

Lalu apa yang bisa dilakukan di tempat yang jauh dari peradaban seperti itu? Jangan buru-buru mencibir. Bayangkan apa yang bisa Anda lakukan, sesuatu yang rasanya mustahil bisa Anda dapatkan di kota besar seperti Jakarta; memancing di laut lepas tanpa diganggu hilir mudik kapal-kapal dagang, snorkeling menikmati terumbu karang dan ikan-ikan kecil berwarna-warni, dan trekking sepanjang 7 km di antara pohon-pohon raksasa sambil menyaksikan binatang-binatang bebas berkeliaran. Bahkan, Anda bisa bangun pagi dengan kijang, rusa, merak, babi hutan dan monyet yang telah menyambut di depan kamar Anda.

Bayangkan sebuah surga yang damai dan teduh; Anda bisa bermalasan di atas pasir putih yang lembut, menikmati suara ombak dan kicau burung, atau hanya diam mengisap warna laut dalam gradasi biru, hijau dan putih. Sebuah keindahan yang sempurna! Dan surga dunia itu ternyata ada, tak jauh dari Jakarta. Surga itu bernama Peucang, sebuah pulau kecil  tanpa penghuni, dengan luas 450 hektar dikelilingi pasir putih dan koral. Lokasinya berada  di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, tepatnya di wilayah Pandeglang, Provinsi Banten, dan dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia Unesco sejak tahun 1991.

Konon, nama Peucang berasal dari jenis siput yang sering ditemukan di pantai pulau itu. Ada pula yang mengatakan peucang adalah dialek lokal untuk menyebut rusa muda. Pulau ini memang kawasan perlindungan bagi spesies indegineous seperti rusa liar (Cervus timorensis), banteng Jawa liar (Bos sundaicus), Merak (Pavo muticus), lutung/langur raksasa (Sus verrucosus) dan kadal atau biawak. Satwa-satwa liar ini mudah terlihat ketika mereka bebas berkeliaran di sekitar resor. Selain beragam satwa, pulau ini juga diselimuti oleh rimbun hutan hujan dengan banyak tanaman asli seperti merbau (Intsia bijuga), palahrar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), saman/rain tree (Engelhardia serrata).

Anda juga bisa menemukan sebuah pohon ara raksasa yang luar biasa besar, dibutuhkan 10 orang atau lebih untuk merentangkan tangannya jika ingin tahu berapa lingkar batang pohonnya. Di bagian utara pulau ini terdapat Karang Copong, yaitu sebuah batu karang besar dengan lubang di tengahnya yang merupakan tempat untuk menikmati pemandangan matahari terbenam dengan latar belakang laut yang membentang indah. Dari pulau ini pun kita dapat menuju lokasi wisata yang menarik lainnya seperti padang penggembalaan Cidaon, Air terjun Citerjun dan canoeing menyusuri sungai Cigenter.

How to Get There ?

Dari Jakarta Anda bisa menggunakan kendaraan umum, ada beberapa alternatif bus dari terminal Pulogadung/Kalideres/Tanjung Priuk/Kampung Rambutan jurusan Serang/Labuan, dilanjutkan dengan minibus jurusan Sumur. Atau jika membawa kendaraan pribadi, perjalanan biasanya memakan waktu selama 4-5 jam. Ada dua jalur yang bisa dilalui, jalur pertama lewat Tol Kebon Jeruk-Merak, keluar di pintu tol Serang Timur (km 71), lantas mengikuti jalan Pandeglang sampai Labuan, kemudian menuju Taragong-Citeurup-Cigeulis-Cibaliung-Cimanggu dan akhirnya sampai di Kecamatan Sumur. Sedangkan untuk jalur kedua bisa melalui Tol Kebon Jeruk-Merak, keluar di Cilegon Barat, kemudian melalui Anyer-Carita sampai bertemu lagi dengan Labuan, kemudian mengikuti jalur yang sama dengan jalur pertama sampai ke Kecamatan Sumur.

Dari Sumur, Anda dapat menuju Pulau Peucang dengan kapal cepat dengan jarak tempuh selama 1 jam. Meskipun ada juga kapal nelayan yang dapat Anda pesan sebelumnya, dengan jarak tempuh selama kurang lebih 3 jam dengan biaya sewa sekitar Rp 3.500.000 untuk kapasitas sekitar 15 orang. Jika Anda memulai perjalanan ini Jumat malam, demi menghindari kemacetan Jakarta, Anda bisa mendapatkan penginapan/homestay di Sumur dengan harga sekitar Rp. 100.000-200.000 per malam.

Where to Stay?

Peucang Island Resort (http://www.peucangislandresort.com/) adalah eco resort yang mengelola akomodasi dan eksplorasi pulau Peucang dan sekitarnya. Tersedia 24 kamar dengan fullboard meals yang menjamin anda tak akan merana selama berada di surga tersembunyi tersebut. Untuk menjaga dan mengembangkan lingkungan hidup di pulau Peucang,  Peucang Island resort memiliki beberapa kegiatan sosial antara lain: konservasi flora dan fauna, transplantasi terumbu karang dan beach cleaning secara periodik yang melibatkan tamu-tamu resort yang dimulai pukul 8:00 WIB selama 30 menit setiap hari. (naskah dan foto: wb/hpy)