Mencari Obat Awet Muda di Kawasan Merah

Pesona Cagar Budaya Siak dari Istana Asserayah Hasyimiah (4)

siak gudang mesiu (4)Dengan segala pesona yang ada, berkeliling Siak yang layak menjadi Kota Pusaka itu rasanya tak rugi. Puas menikmati indahnya Istana Asserayah Hasyimiah, saya juga dibuat pesona peninggalan lain seperti gudang mesiu dan Balai Kerapatan Tinggi.

Lalu kalau sempat, bergeserlah ke Barat, ada kolam hijau di dekat Suak Gelanggang. Di timur ada pula Makam Putri Kaca Mayang. Melihat posisinya, Istana Siak yang terletak di pinggiran Sungai Siak itu sangatlah strategis. Tak heran dalam sejarah Siak sempat jadi rebutan kolonias Belanda dan kesultanan Johor.

siak balaiTak hanya bermodalkan banyak peninggalan sejarah yang bernuansa Islam, namun kabupaten di Provinsi Riau itu juga kaya dengan budaya Melayunya. Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak berarti juga adalah orang-orang yang ahli agama Islam.

Jadi kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai orang Siak. Menurut sejarah nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan & India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii, masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi.

Mereka ini diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani. Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai orang Sakai.

Sebagai kesultanan Islam Melayu terbesar di Riau, Siak juga siap menjadi pusat kebudayaan Melayu di Nusantara. Makanya Bupati Siak, Syamsuar menggaungkan tagline ‘Siak The Truly Malay.’ Dari titik utama yang saya telusuri yaitu dari Istana Matahari Timur, saya menemui suasana Melayu itu sungguh kuat.

siak kelenteng (1) Namun uniknya, Siak juga multikultural. Ketika saya sempatkan berjalan di sekitar Istana Siak atau Istana Asserayah Hasyimiah saya melihat pemandangan khas yang mencirikan kawasan pecinan seperti yang ada di kota-kota umumnya.

Di kawasan itu banyak bangunan bertingkat dua bercatkan merah. Inilah Pecinan Siak atau lebih dikenal kawasan merah. Masuk akal, karena ya warna bangunan dominan merah. Seperti situasi perkotaan dan perkampungan di Siak, kawasan ini terlihat rapi dan bersih. .

Menikmatinya jadi nyaman. Apalagi ketika sampai ke dalam. Kabarnya kelenteng ini menjadi pertanda bahwa hampir 200 tahun lebih yang lalu, komunitas China ada sebagai pendatang di Siak. Ini ditandai berdirinya Kelenteng Hock Siu Kiong yang bersebelahan dengan Masjid Syahabuddin. Harmonis kan?

Selain kelenteng, ada juga gereja yang dibangun pada 1936 yang dikelola HKBP. Sultan Siak XII atau Sultan Syarif Kasim II memang sejak lama menghormati keanekaragaman agama di wilayahnya. Ini terbukti jejak-jejak kerukunan di masa lampau. siak kelenteng (2)

Kelenteng yang hanya berarak sekitar 500 meter dari Istana Siak ke arah utara itu usianya diperkirakan dibangun pada tahun 1889 atau setelah Kesultanan Siak berdiri. “Buruh atau para pekerjanya adalah sama yang didatangkan dari Tiongkok atau Cuan Cue,” kata pengurus kelenteng, Jon Yanto.

Dalam usia 128 tahun, kelenteng ini adalah yang tertua di Siak. Di momen-momen tertentu, klenteng dan sekitar kawasan merah  di malam hari, kita juga bisa menikmati lampion yang terpasang cantik di kawasan ini.

Terutama saat perayaan Imlek yang digelar sebentar lagi. Ketua Panitia Cak Go Me Tahun 2016 ini, Jon Yanto mengatakan bahwa Hock Siu Kiong menjadi pusat kegiatan kebudayaan China di Siak.

Misalnya tradisi bulan lima di mana ada kue cang yaitu sembahyang di sungai. Ritual ini disertai mandi berramai-ramai di Sungai Siak pada pukul 12.00. Menurut kepercayaan ini bisa menjauhkan segala macam pemyakit dan membuat tetap awet muda.

Lalu festival kue yang dirayakan di saat bulan purnama sempuna yaitu menurut kalender Tionghoa, tepatnya bulan 8, hari 15 yang disebut Cong Ce. Ah, rasanya tak habis-habis pesona Siak di mata saya.

Belum lagi menikmati kuliner khas kota ini seperti udang goreng, anake macam ikan Sungai Sika. Bila pas musimnya, ada banjir manggis dan durian tiba. Saya sih tak masalah untuk bolak-balik dari Pekanbaru, -tempat saya tinggal- ke Siak. Habis asyik sih. Anda pasti juga begitu. (teks dan foto: Ferry Fansuri/editor: Heti Palestina Yunani/habis)