Mencari Harmoni di Sudut Penang

Penang saat petang
Penang saat petang

Secangkir teh tarik panas terasa begitu berbeda pagi itu. Aroma khasnya mengepul bebas ditelan udara. Tak disangka, warung kecil di pojokan Penang Port ini punya teh tarik ajaib dan nasi kandar nikmat. Paket sarapan yang pas untuk meyingkap kabut pagi di kota asing.

Pas karena setelah semalaman saya tidur di sleeping train rute Kuala Lumpur-Butterworth, disambung ferry subuh hari. Akhirnya, di Georgetown, ibukota Negara Bagian Penang, Malaysia, saya kini berada. Tepat di pusat para pejalan berkantong tipis, Chulia Street atau Lebuh Culia. Maklum, di sana berderet hostel murah berformat dorm room.

Sepanjang jalan menuju Lebuh Culia, mata ini semakin tersadar jika ada yang berbeda di kota ini. Selain burung gagak bebas bertengger di mana-mana, tampak berbagai bangunan bernuansa tua berderet dengan arsitektur yang cantik. Hiruk pikuk kota besar dengan segala kepenatan dan kesibukan layaknya Kuala Lumpur tidak tampak di sini.

Gedung tua
Gedung tua yang kokoh

Waktu seakan berjalan lamban. Udara terhirup segar tanpa padatnya kendaraan berlalu-lalang. Bangunan tua yang ada mayoritas memiliki arsitektural kolonial Inggris, jadi bukti nyata kependudukan Inggris di masa lampau. Sebagian tempat masih difungsikan sebagai fasilitas bisnis, seperti bank, hotel, toko, bahkan rumah penduduk.

Kesan klasik kota ini makin lengkap dengan mayoritas kendaraan milik penduduk, baik itu sepeda motor atau mobil adalah keluaran tahun 80an. Meskipun terkesan tua, bangunan berderet tampak terawat dan bersih. Pemerintah Malaysia melarang keras pembongkaran gedung lama.

Gaya arsitektur kolonial 2Penduduk hanya diperbolehkan melakukan renovasi sebatas mengecat atau memperbaiki dekorasi. Sebuah wujud tata kota tua yang patut mendapat apresiasi. Tak heran bila Georgetown telah dinobatkan oleh Unesco sebagai World Heritage Site pada tahun 2008.

Penang merupakan satu dari total 13 negara bagian yang membentuk Malaysia. Setelah Malaysia merdeka sebelum tahun 1970, Penang hanya mengandalkan pertanian konvensional. Waktu itu Penang sangat miskin dan tidak berkembang. Pemerintah Penang sadar akan hal itu, mereka mengiginkan perubahan, maka dibentuklah Penang Development Corporation (PDC).

PDC adalah badan hukum mandiri bertujuan meningkatkan pembangunan sosial-ekonomi Penang dan menciptakan kesempatan kerja. Gambaranya, kalau di Indonesia PDC itu semacam BUMD. Master plan utama yang disusun PDC adalah pengembangan industri dan pariwisata, tahun demi tahun berlalu.

Industri bangkit, diikuti pertumbuhan pariwisata yang juga menjadi sektor penting ekonomi. Dan kini Penang berevolusi menjadi Negara bagian terkaya ketiga setelah Negara bagian Selangor dan wilayah federal Kuala Lumpur. Jembatan Penang didirikan, yang merupakan jembatan terpanjang se-Asia tenggara.

Street art, Gapai tanganku 2
Street art tema Gapai Tanganku

Jembatan kokoh penghubung Pulau Penang dengan Semenanjung Malaka, menjadi pertanda kejayaan dan kebangaan Penang. Prestasi lainya, Penang dinobatkan menjadi 2nd Most Urbanized State in Malaysia , top 10 Malaysia dynamic industrial cluster,  dan menjadi 8th Most Livable City in The World.

Street art, Chinese family
Street art tema Chinese Family

Ada semangat yang unik sore itu dari para pengunjung untuk menjelajah sudut kota mengikuti peta berburu street art. Sisi lain dari Georgetown, street art berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata. Bermula dari Georgetown Festival 2012, seorang seniman muda asal Lithuania, Ernest Zacharevic membuat beberapa mural yang dijuluki Mirror Georgetown.

Street art, Minion
Street art tema Minion

Sesuai namanya, mural melukiskan cerminan kehidupan klasik Georgetown. Aliran mural realis, membuat tembok-tembok tua terkesan interaktif menyampaikan ceritanya masing-masing.

Sejak mural Mirror Georgetown, street art terus berkembang. Para seniman internasional datang untuk berkarya dan menandai Georgetown sebagai kanvas seni yang dinamis. Banyak juga yang bilang Penang is about food.

Sebagai kota pelabuhan penting di masa lampau sebelum Singapura berdiri, Penang memiliki penduduk heterogen. Mayoritas penduduk Penang adalah etnis Cina, disusul etnis Melayu dan India. Otomatis berbagai kuliner khas tiap etnis dapat ditemui di sini.

Saat malam tiba, jalanan mulai penuh dengan aroma Chinese street food yang menyeruak. Di kawasan Little India, berbagai restauran khas India berjejal di pasar yang menjual segala sesuatu yang juga bernuansa India.

Vihara
Vihara

Berjalan di kawasan padat penduduk, terlihat masjid. Beberapa langkah kemudian tercium bau hio khas vihara. Sekian meter ke depan berdiri gereja. Setelahnya ada kuil pemujaan. Gambaran keanekaragaman yang melebur tenang menciptakan suatu harmoni.

Huruf arab, translate English dan Chinese
Spanduk masjid dalam bahasa Arab yang diterjemahkan ke Inggris dan Chinese

Bukankah hidup memang seharusnya seperti ini? Kita semua adalah manusia yang sama, sebatas mahkluk peghirup oksigen yang dibekali akal budi dan nurani. Bukankah kita terlahir sama dan tumbuh dengan perbedaan yang kita ciptakan sendiri?

Bukankah perbedaan semu yang menciptakan garis batas tiap ideologi, ras, agama, negara, seharusnya tidak menjadi penghalang untuk sebuah kehidupan yang tenang di alam semesta? Di Penang lah semua ada jawabannya. (naskah dan foto: Ari Sasongko/Heti Palestina Yunani)