Mencapai Puncak, Turun Riang Berlari Kecil

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (9)

9-Di Puncak Tambora Di perjalanan turun dari Gunung Rambora, kawan baru saya ini ngotot mengajak saya untuk tetap mendaki puncak. Dia sangat menyayangkan jika saya tidak menggapai puncak karena pada pukul 07.00 kondisi puncak sudah terlihat, kabut pun hilang.

Turun yang sudah cukup jauh membuat saya tetap memutuskan untuk turun saja, tetapi kegigihan kawan saya ini tidak ada lawan. Saya masih dipaksa untuk menumbuhkan semangat saya kembali dan menanjak kembali menggapai puncak Tambora.

Ternyata keras kepala saya kalah oleh kegigihan dia untuk menunjukan keindahan puncak Tambora. Embun mulai hadir di antara rerumputan dan pucuk bunga edelweiss. Mentari pun menyorot perjalanan kami.

9-Si Kawan Yang Gigih
Si kawan yang gigih

Meski tidak mencapai puncak saat matahari terbit, kegigihan teman saya ini telah menjadi makna “push the limit” yang sering kali saya gumamkan. Selesai mendaki punggungan kami berjalan menyusuri bebatuan pinggir Gunung Tambora yang begitu luas.

Memang benar, luas sekali area pinggir gunung ini. Sangatlah berbeda dengan Rinjani yang hanya selebar 4-5 meter jalur untuk menggapai puncak. Jalan bebatuan vulkanik yang kami lalui cenderung landau. Tetapi jika saya sendiri mungkin cukup kebingungan karena jalur pasir yang mudah terhapus hingga beberapa kali saya salah jalur.

Pukul 08.00 akhirnya saya menggapai triangulasi kecil dan disambut kibaran bendera Indonesia yang begitu menggebu diterpa angin Gunung Tambora. Pandangan saya tidak pernah putus untuk menikmati keindahan kaldera gunung dan alam di sekitar gunung yang begitu gagah ini.

Jantan dan gagah sekali gunung ini dengan kaldera yang begitu luas dan hamparan pohon-pohon di kaki gunungnya. Umur memang tidak menunjukkan ketuaan dari gunung yang baru ‘berulang-tahun’ dari letusan terakhir yang menjadikannya sebagai Penyapa Dunia.

Puas dan bangga sekali saya bisa mencapai puncak Gunung Tambora. Memang benar ukuran ketinggian gunung bukan acuan untuk tingkat kesulitan pendakian gunung. Faktor kesiapan mental untuk menggapai puncak sangat diuji saat saya di Tambora.

9-Mata Air Rasa Baterai
Mata air rasa baterei.

Selesai dari puncak kami menuruni puncak melalui jalur lain menuju Pos 5, karena luasnya kaldera hingga pendakian puncak pun ada dua jalur. Mendekati Pos 5, kami yang kehabisan air mengambil mata air di sana. Ternyata mata air di sana rasanya seperti baterai, pahit dan berasa, bahkan tidak menghilangkan dahaga. Daripada tidak ada sama sekali, kami terpaksa mengonsumsi air itu sebelum isi ulang di Pos 2.

Selesai makan untuk energi turun gunung pada pukul 10.00, kami berangkat. Selama itu, kami hanya bertemu dua rombongan pendaki. Hutan tropis dan jalur yang saya rasa cukup landai membuat kami menuruni gunung dengan berlari-lari kecil untuk mempercepat sampai desa. Sambil tersenyum puas kami bercanda untuk kenikmatan suasana yang kita bentuk. Napas tersenggal karena paru-paru t erus dipompa. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)