Menato Sibalu-balu di Pundak

Melawat ke Mentawai: Bumi Para Sikerei (3)

Pulang dari melawat ke Mentawai tanpa tato? Boleh kok. Sebab tato memang identik dengan Suku Mentawai. Tato –dalam bahasa Mentawai disebut Titi dan pembuatnya disebut Sipatiti– mempunyai arti sangat penting. Seseorang bisa dikenali dari klan keluarga mana dari pola gambar tato yang dia miliki. Setiap tato pun punya makna yang melekat, bukan sembarang gambar demi penampilan semata.

Tato juga menunjukkan status sosial dan kedudukan. Seorang ahli berburu biasanya bertato  gambar binatang buruan, sedangkan sikerei, biasanya bertato di kedua pundak depannya, gambar bintang Sibalu-balu yang menyerupai matahari. Sibalu-balu ini mempunyai arti bintang kehidupan, kadang juga disebut matahari yang mencerminkan inti kehidupan Suku Mentawai.

Saya merasa sangat tersanjung saat Pak Kiku, sang sikerei, menawarkan untuk membuat tato Sibalu-balu di pundak saya. Tato itu sebenarnya hanya dimiliki oleh sikerei. Nah, makanya tawaran itu suatu penghormatan bagi saya! Padahal saya cuma bilang bahwa nama saya mempunyai arti ‘matahari’.

Tato bagi Suku Mentawai juga berhubungan dengan kepercayaan Arat Sabulungan atau keyakinan bahwa alam dikuasai oleh dewa alam dan sebagai simbol keseimbangan, benda-benda seperti batu, hewan dan tumbuhan harus diabadikan di atas tubuh. Tato Suku Mentawai diduga merupakan salah satu pola tato tertua di dunia yang sudah ada pada 1500-500 tahun SM.

Sementara bangsa Mesir yang disebut sebagai pembuat tato tertua baru mulai pada 1300 tahun SM. Terlepas dari dugaan-dugaan tersebut, Tato lambat laun mulai kurang popular di kalangan generasi muda Suku Mentawai, sehingga timbul kekuatiran budaya Tato ini akan hilang bersama waktu.

How to Get to Mentawai?

mentawai3-flight-to-rokot
Penerbangan ke Rokot
  Rute & Waktu Tempuh Jadwal Kendaraan Ongkos

Rata-rata

Dengan Kapal Kayu (cepat/ lambatnya tergantung kondisi gelombang laut). Padang ke P. Sipora ±8 jam.

 

Tiap Jumat pk. 20.00

 

 

Kapal Sumber Rejeki, start dari Muaro (dekat jembatan Siti Nurbaya, Padang. Rp 120 ribu
P. Sipora ke P. Siberut ± 11jam Tiap Minggu pk. 20.00

 

Kapal Ambu-Ambu, berangkat dari Bungus (1/2  jam dari Padang). Rp 75 ribu-Rp 105 ribu
Mix Transport Padang Bandara Minangkabau ke Rokot ±1 jam. Selasa, Kamis, Sabtu pagi,

pk. 07.00

Pesawat perintis bersubsidi ( kapasitas maks. 12 orang). Rp 182 ribu/orang
Rokot ke Tua Pejat ± 40 menit Perahu/boat Rp 130 ribu/orang
Tua Pejat ke P. Siberut ±4-5 jam Rabu & Jumat pagi Truk yang ditutup kain terpal, estafet naik kapal ferry kayu Rp 35 ribu (sewa kamar awak kapal, bayar ekstra Rp 200 ribu)
Tidak ada angkot di Siberut. Kita bisa jalan kaki saja ke kota yang biasa disebut Muara Siberut, atau naik ojek dengan ongkos Rp 20 ribu dari pelabuhan. Jangan heran, harga di pulau ini jauh lebih mahal dari harga di Padang. Bensin Rp 20 ribu per liter! Bawalah uang cash secukupnya, karena di pulau ini hanya ada satu bank dan satu ATM bersama.

Masih banyak kekayaan budaya Mentawai yang belum tergali. Sayang waktu membatasi. Terpatri di benak jika ini bukan perjalanan terakhir saya ke Suku Mentawai. Masura bagata, Pak Kiku, Pak Toikod… Meikai boiki. Terima kasih, saya akan kembali. Pasti! (naskah dan foto Monique Aditya/editor: Heti Palestina Yunani/habis)