Menangkap Lanskap Ngarai Sianok dari Taman Panorama

ngarai sianok 3Bila Anda berkunjung ke Ranah Minang, belum lengkap perjalanan Anda kalau belum datang ke Bukittinggi. Demikian biasanya para wisatawan mengungkapkan ketakjuban pada alam Bukittinggi. Alamnya sejuk, lanskap pemandangan dari ketinggian amat mengagumkan, dan khazanah kulinernya begitu beragam. Bila di Bandara International Soekarno Hatta, Jakarta, Anda melihat banyak orang menenteng boks berisi Kripik Sanjai Balado dari berbagai merek, itu berasal dari Bukittinggi. Karena itu, Bukittinggi sering pula dikenal sebagai Kota Sanjai.

Dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang (Sumbar) diperlukan waktu tempuh lebih kurang 2, 5 jam perjalanan (90 km) ke Kota Bukittinggi. Kota ini terletak dalam kawasan rangkaian Bukit Barisan yang membujur di sepanjang Pulau Sumatera, dikelilingi oleh dua gunung berapi; Marapi dan Singgalang. Kota berhawa sejuk (16,1 s/d 24,9 C) dengan ketinggian 909-941 meter di atas permukaan laut ini, sejak lama telah menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Begitu sampai di pusat kota, para wisatawan akan melintasi sebuah taman bernama Sabai Nan Aluih dengan The Old Big Clock Tower, atau yang lazim dinamai Jam Gadang, sebagai artefak utamanya. Jam Gadang yang posisinya berhadap-hadapan secara langsung dengan Istana Bung Hatta ini adalah semacam monumen yang dibangun pada 1926 oleh dua orang arsitek kota bernama Jazid dan St.Gigi Ameh. Pada masa itu, Sekretaris Kota, Tuan Rookmaker, menerima hadiah berupa jam berukuran besar dari Ratu Belanda.

ngarai sianok 1Lalu, ia meminta arsitek kota untuk membuat sebuah bangunan guna meletakkan jam tersebut. Bangunan monumen Jam Gadang tersebut menghabiskan dana sebesar 3000 gulden. Hingga saat ini, bagian atap Jam Gadang telah mengalami beberapa kali perubahan. Monumen Jam Gadang telah menjadi city brand Bukittingi, dan dikonservasi sebagai ruang terbuka hijau dengan sejumlah titik ketinggian guna memandang lanskap kota di pagi dan senja hari. Lokasinya dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari hampir semua penginapan yang tersebar di Kota Bukittinggi.

Taman Panorama, destinasi wisata Kota Bukittinggi yang lain, juga hanya berjarak lebih kurang 1,5 km dari Monumen Jam Gadang. Begitu juga dengan Benteng Fort de Kock, bahkan hanya berjarak 1 km dari pusat kota Bukittinggi. Artinya, objek-objek wisata di Bukittingi berada dalam posisi working distance, yang sama sekali tidak menyulitkan para wisatawan untuk menjangkaunya. Yang dimaksud Taman Panorama adalah sebuah taman di ketinggian yang dapat digunakan untuk memandang lanskap Ngarai Sianok yaitu dua belahan lembah curam yang di tengah-tengahnya dialiri sungai Batang Masang.

Ngarai Sianok yang memiliki kedalaman bervariasi antara 75-110 meter. Bila dipandang dari ketinggian Panorama, dapat menyuguhkan pemandangan yang mengagumkan. Di Taman Panorama, terdapat sebuah terowongan peninggalan jaman Jepang, atau yang lazim dikenal sebagai Lobang Jepang.  Sejarah mencatat, pembangunan terowongan tersebut dimulai sejak 1942 dengan sistem tanam paksa yang telah menelan banyak korban. Salah satu pintu keluar dari terowongan Lobang Jepang dapat menghubungkan pengunjung dengan dasar paling bawah dari Ngarai Sianok.

Dengan begitu, Ngarai Sianok sebagai natural destination dipadukan dengan Lobang Jepang sebagai historical destination. Dan, inilah yang sesungguhnya telah menjadi keistimewaan dari sejumlah destinasi wisata di kota Bukittinggi. (naskah dan foto: Damhuri Muhammad/hpy)