‘Menangis’ karena Pedasnya Beberok Lombok

beberok lombok (4)Dalam perjalanan ke Bandara Lompok Praya, saya niatkan masuk ke rumah makan yang terkenal enak masakannya. Tempatnya nyaman dan asri, dengan pilihan mau duduk di sawung di meja biasa. Namanya Dua EM Bersaudara Traditional Restaurant-Taliwang Sasak Fresh Food di Jl. Transmigrasi 99 Mataram.

Saya memesan beberapa menu untuk kami berdua. Semula Pak Omar, tour guide saya di Lombok, menolak ikut serta makan siang, nggak enak hati katanya. Lah, sayapun pakai jurus memaksa tingkat ringan, dan berhasil. Rupanya pramusaji yang melayani kami tampaknya sudah kenal dekat dengan Pak Omar.

Mereka bergurau dengan akrab. Mbak tersebut bertanya, beberok (sambal khas Lombok)-nya mau seberapa pedas. Belum juga saya menyahut;  “tingkat paling pedas,” tapi Pak Omar keburu memperingatkan.

“Maaf Mbak, sebaiknya jangan yang terlalu pedas. Ukuran rasa pedas di Lombok sangat sangat pedas lho. Nanti kalau kurang pedas kan masih bisa ditambah cabai, kalau sudah kepedasan yang repot. Nggak nikmat nanti makannya,” timpalnya cepat.

Betul juga. Saya menuruti sarannya yang bermutu ini. Satu demi satu menu terhidang. Saya lupa kalau hitungan ayam adalah per ekor. Padahal saya pesan ayam bakar sementara Pak Omar pesan ayam goreng pula, artinya dua ekor utuh dong. Ya sudah, kami berjuang menghabiskan semuanya!beberok lombok (2)

Saat pelecing kangkung keluar, hmmm, air liur menetes tanpa malu-malu. Ini dia pelecing kangkung yang asli. Ada urap kelapanya, bukan hanya sambal seperti yang sering saya konsumsi di Jakarta. Berhubung melihat porsinya yang kecil, saya langsung memesan satu lagi untuk Pak Omar. Saya yakin, sepiring kecil ini akan cukup untuk saya seorang saja.

Harum hidangan yang tersaji di hadapan kami serentak menggugah selera. Penampilannya juga mendukung sekali. Rasa ayam bakar enaknya poll! Pinjam bahasa Pak Bondan, maknyusss deh! Kematangannya yang sempurna menambah kelezatannya.

Tingkat kepedasan beberok, bumbu khasnya, bikin mulut saya tak henti berbunyi, huah… huah…. Air mata sampai keluar seolah menangis, saking pedasnya, bercampur dengan keringat, hahaha. Pak Omar berinisiatif memesankan air putih ekstra untuk mengurangi ‘penderitaan’ saya.

Saya menyumpal mulut yang kepedasan dengan tahu goreng panas. Tapi pedas masih menyengat. Wah jadi seru deh waktu makan siang itu. Perut sampai kekenyangan plus kepedasan. Tercapai sudah ‘cita-cita’ saya menikmati makanan khas Lombok di tanah asalnya!

Sampai pulang, ada dua potong dada ayam bakar, tiga potong tempe goreng dan satu porsi pelecing kangkung yang belum tersentuh, terlihat ‘nelangsa’ di atas meja gara-gara diabaikan. Saya bilang ke pramusaji untuk memberikannya pada siapa saja yang mau dan jangan dibuang. beberok lombok (3)

Sambil menanti pesanan jus buah, Pak Omar bercerita tentang dua bersaudara pemilik rumah makan ini. Menurut Pak Omar, bisnis kedua orang bersaudara yang sudah menunaikan ibadah haji itu maju pesat. Sudah buka cabang pula.

Itu karena mereka berdua sangat menjaga kualitas makanan selain memberikan harga yang terjangkau. Dari percakapan dengan tamu lain yang duduk tak jauh dari kami, keluarga yang datang dari Medan itu mengaku jika rasa masakan Dua EM Bersaudara Traditional Restaurant-Taliwang Sasak Fresh Food ini amat sangat memuaskan.

Saya tersenyum mengiyakan. Kalau sudah orang Medan yang berkata begitu, apa perlu saya berkata sebaliknya? Setahu saya, lidah orang Medan kalau soal makanan kan cukup fanatik, nggak mudah mengakui masakan di tempat lain seenak makanan di tempatnya kan? Dan jus buah pun datang. Saya meneguknya pelan-pelan, tapi pedas masih terasa. (naskah dan foto: Lucy Liestiyo/editor: Heti Palestina Yunani)