Memotret Sepi, Dingin, Beku di Danau Tamblingan

tamblingan-bApa yang menarik dari sepi, dingin, beku? Barangkali tak ada. Namun saya menemui itu di Danau Tamblingan. Sengaja saya khidmatkan. Yang belum tahu, danau ini sebenarnya lebih dekat ditempuh dari Singaraja, Bali. Namun kalau langsung dari Bandara Ngurah Rai Anda mau ke sini, Tamblingan bisa Anda temui dalam waktu 2,5 jam.

Sebenarnya tak ada niat saya ke Tamblingan. Tujuan saya ke Denpasar kala itu, murni untuk bekerja. Maunya langsung meninjau lokasi usaha calon nasabah saya di Bandara Ngurah Rai. Namun tidak sengaja direktur perusahaan yang tak lain klien saya itu mempunyai hobi yang sama dengan saya: hunting foto.

Jadilah setelah selesai meninjau lokasi usahanya, kami langsung sepakat menuju Danau Tamblingan, bersama-sama. Lumayan kan? Bekerja sambil dapat kesempatan rekreasi, pakai hunting foto keren pula.

Cuaca pada saat perjalanan ke sana hujan deras sekali. Dalam suasana begitu saya sempat tertidur di mobil. Hingga saya terbangun setelah sampai di lokasi danau yang melewati jalan kecil, sekira cukup hanya dilalui satu mobil.

tamblingan-cUntung hujan mulai mereda begitu saya sampai di Danau Tamblingan. Usai hujan, danau itu terasa lengang sekali. Sepi. Tidak ada seorang pun yang nampak di area danau berlalu lalang. Saya hanya melihat beberapa anjing peliharaan yang turun naik dari perahu di bibir danau.

Setelah kami memersiapkan peralatan foto, ditemani driver, kami mulai memilih objek bidik foto. Begitulah, justru suasana sepi, dingin, beku adalah kekuatan Tamblingan. Berikut hasil bidikan saya dengan lensa Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS II, yang saya tanamkan di kamera Canon EOS 600D tanpa blitz.

Part 1

tamblingan-1a Ada gardu atau gazebo di pinggir Danau Tamblingan yang langsung menjadi tumpuan pandangan saya yang pertama. Di sekitarnya tumbuh pohon besar yang tertiup angin mengangguk-angguk, dan gesekan daunnya seperti suara menjerit. Suara itu menjadi terdengar jelas karena Danau Tamblingan sepi.

Di bawah gerimis, danau itu menjadi dingin dan beku. Gazebo ini bagi saya adalah lokasi pandang danau yang terbagus. Sebab dari sana saya dapat melihat seluruh permukaan dan sudut danau, serta melihat jelas lokasi pura yang besar dan megah.

Sebenarnya ada dua gazebo yang berdiri di dekat danau. Namun gazebo yang saya ambil gambarnya ini adalah gazebo yang paling pinggir, paling dekat dengan pohon besar berdaun lebat di sekitar danau. Tidak seorang pun yang berada dalam gazebo itu.

tamblingan-2Saya cuma berkata dalam hati, gazebo ini pasti bukan bangunan tua seperti pura yang di pinggir danau. Meski menarik, namun gazebo itu tidak mengundang saya mendekat karena pohon-pohon besar di sekelilingnya, membuat suasana mistis.

Part 2

Foto terlampir merupakan bidikan gazebo pada part 1 dengan nuansa yang berbeda. Saya coba untuk lebih memperkuat kesan angker gazebo itu. Saya ambil gazebo di samping beberapa pohon tua yang besar dan lebat di pinggir Danau Tamblingan. Dengan foto demikian, saya dan orang lain pun pasti enggan untuk mendekat ke sana.

Part 3

tamblingan-3aDua pohon yang meranggas ini sangat menarik perhatian saya. Saat saya ambil gambarnya. saya berpikir jika sekeliling danau ini ditumbuhi tanaman yang subur, dedaunan yang rimbun serta tanahnya tidak kering. Lokasi dua pohon tersebut juga tidak jauh dari air danau, sehingga pastinya tidak kekurangan air tentunya.

Yang paling penting lagi, hawa di sekitar danau tidak panas dan cenderung lembab. Dua pohon meranggas ini saya anggap ajaib, karena seolah diam merenung, duka, sepi kurus kerontang serta berpasang. Dari beberapa foto saya ambil beberapa sudut ke arah pohon ini, hanya untuk meyakinkan kondisinya aneh, kering namun berada di area yang subur.tamblingan-3b

Part 4

tamblingan-4Ada beberapa bagian dari bangunan di sekitar Danau Tamblingan yang saya perhatikan detailnya, di antaranya adalah tanaman yang tumbuh di atas genteng gazebo, serta bentuk fisik gazebo itu sendiri. Saya berusaha dekati untuk melihatnya yaitu pada tanaman di atas genteng gazebo.

Hal ini menarik saya untuk saya abadikan. Ditambah suasananya di sekitar danau saat itu, rasanya tanaman ini cukup memberikan kesan mistis. Saya berpikir, hingga berapa lama gazebo ini kenapa dibiarkan tidak terawat. Ia diam dan kokoh hingga ditumbuhi tanaman di bagian gentengnya. (naskah dan foto: Ambar Widijono/editor: Heti Palestina Yunani)