Memotong Bambu Bagi Sesembahan Leluhur

Nyobeng: Tradisi Suku Dayak Bidayuh (4)

mempersiapkan-sesajen-didalam-balugHari mulai sore. Namun tradisi Nyobeng yang digelar Suku Dayak Bidayuh di Dusun Hliebo, Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat masih ramai. Saya melihat beberapa orang membawa bambu kira-kira sepanjang 4 meter berdiameter seukuran jempol orang dewasa dan masih berdaun.

Saya beranikan diri untuk melihat dari dekat, ternyata bambu ini dipotong sebagai bentuk persembahan kepada leluhur. Sebanyak 7 batang bambu di potong oleh 7 orang dengan aturan; jika bambu ditebas dengan sekali ayunan dan terpotong rapi maka akan disimpan di balug dan diikatkan di dekat jendela yang menghadap timur.

Sebaliknya jika tidak terpotong berarti bambu tersebut akan tetap tersimpan di bawah balug. Setelah itu tanpa sepatah kata, 7 orang ini pergi meninggalkan balug setelah memoyong bambu. Sayapun memilih beristirahat di homestay.

suasana-pemuda-didalam-balugWaktu menunjukkan pukul 19.00, sibakng sudah ditabuh 7x. Itu artinya seluruh warga dan tamu diajak berkumpul kembali di balug, rumah adat Sebujit. Saya bergegas melangkah dan naik ke atas cepat-cepat agar tidak tertinggal setiap momen.

Terlihat Pak Amin sang “smiling chief” sudah sibuk membaca mantra sembari memegang seekor ayam yang kemudian disentuhkan ke setiap sudut balug, alat musik, alat dapur, persembahan, para-para, tempayan, tidak ada yang luput.

Pak Amin yang sudah tua tetap lincah, semua dilakukannya dengan cepat, seperti terbang. Entah kekuatan apa yang membantunya melakukan ini semua. Saya baru saja melihat dia di atas. Tapi begitu saya melongokkan kepala dari jendela beliau sudah melesat di bawah, melanjutkan menyentuhkan ayam ke balai-balai, altar tempat ritual berlangsung dan sesajen.

Baju adat pria sebujitLalu ia kembali ke balug menuju lantai tiga di mana sudah ada 6 orang lain yang menunggu, mereka menari dan mempersiapkan ritual pemotongan ayam sebagai ritual pembuka memandikan tengkorak kepala.

Suasana mistis mulai terasa saat kotak kayu berisi tengkorak kepala di ambil dari tempatnya, disimpan di lantai. Sementara ke 7 orang mulai melakukan pembicaraan. Saya tidak bisa memahaminya saat mengintipnya dari lantai 2. Sibakng terus dipukul sebanyak 7x.

Kain merah dibuka di atas kotak kayu, terdapat beberapa benda pusaka dan jimat termasuk tengkorak. Setelah mantra dibacakan, diolesi minyak jimat, ayam di sembur dan kemudian di potong di atas kain merah tepat di leher, darah menyembur deras.

Setelah leher terpotong, ayam di lempar ke lantai 1. Darah yang menempel di mandau kemudian dioleskan ke semua pusaka, jimat dan tengkorak. Setelah acara ini selesai Pak Amin lalu menari di lantai 2 di sekitar Sibakng. Kemudian tampah berisi sesajen sirih, gambir, kapur, pinang, tuak, daun jeruk dan bawang kucai sebagai pewanginya diletakkan di dapur.

tetua-adat-dan-wanita-bidayuh-dari-malaysiaSetelah persembahan pertama, Pak Amin berlari ke bawah diikuti 6 orang lainnya. Persembahan kedua berupa seekor anjing putih disembelih. Prosesi itu dilaksanakan di luar area balug. Saya bergidig ngeri saat kepala dipegang dan dibawa menuju meja altar bagian bawah.

Sebelum diletakkan di meja altar, kepala anjing dipegang sembari menari simaniamas di depan altar. Di tempat ini juga sudah ada beberapa tetua adat lain termasuk seorang nenek dari Sebujit atas yang usianya lebih dari 100 tahun. (naskah dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)