Membelah Hutan Jayapura dengan Siaga Senpi


Merunut Jejak Elang Timur di Bumi Papua (3)

Selesai menikmati Tablanusu, demi menghemat waktu, akhirnya Timur –teman jalanku di Papua- mengajakku ke Pantai Amay, tak jauh dari Tablanusu. Saat kami masuk ke dalam mobil, ada seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun, datang menghampiri, dan menatapku. Bibir mungilnya berkata;

”Parkir.”

“Oh ya ya. Berapa?

“Dua puluh ribu!”

Segera aku mengambil uang dan memberikan padanya yang menerimanya dengan wajah innocent. Manis sekali kau gadis kecil si tukang parkir, batinku.

“Siapa namamu?”

“Debora!”

“Bye Debora!”

Aku melambaikan tangan yang disambutnya dengan senyuman kecil dengan kedua tangan menggenggam uang parkir.

tugu selamat dtg amay“Ok! Ke mana kita?”

“Pantai Amay! Tetap di distrik Depapresini, hanya jalannya menuju ke Jayapura, putar balik kita!”

“Ok!”

“Pantai ini memiliki pasir terlembut kata orang!”

“Keren!”

Letak Pantai Amay berlawanan dengan arah menuju Pantai Tablanusu. Bedanya, di Pantai Amay tak ada retribusi. Kita hanya perlu membayar biaya parkir kendaraan. Untuk roda dua dikenai tarif Rp 10 ribu, sedangkan kendaraan roda empat Rp 20 ribu.

Dari area parkir, aku melewati jalan setapak menuju hutan kurang lebih 200 meter. Ujungnya setelah itu, aku bertemu sebuah aliran sungai. “Bersih! Putih!,” teriakku norak berlari ke arah pantai. O, benar-benar lembut pasirnya, terasa halus menyentuh telapak kaki.

pace2 di pantai amaySungai air tawar merupakan keunikan Pantai Amay. Tampak beberapa orang yang selesai mandi di laut bisa lanjut mandi di sungai. Jadi sepulang berenang di pantai, badan sudah bersih. Tidak jauh dari pantai terlihat kampung Amay yang penduduknya ramah menyambut para pengunjung yang datang. Tidak ada wajah garang di raut wajah mereka, meski ada parang di tangan.

Air laut yang jernih putih kebiruan, pantai berpasir putih lembut, dengan pohon-pohon rindang di sepanjang pantai, hutan kecil mengelilinginya, menentramkan jiwa-jiwa yang ingin merdeka! Setelah puas menikmati kecantikan Pantai Amay, aku kembali melewati pemandangan eksotis gunung dan pantai yang menyatu.

Makan siang kulakukan saat singgah di sebuah rumah makan milik orang Batak. Ada ikan bakar dan ayam bakar. Ada sambal terasi mentah, lalapan mentimun, kemangi, selada, dan terong. Es jeruk yang sangat kental rasa asam manisnya menjadi pelengkap makan siang itu. Sampai di sini, perjalanan ke Papua ternyata tak seperti yang kubayangkan. Semua nyaman meski penuh tantangan, namun menarik dan berkesan.

Seperti saat Timur mengajakku menempuh jalan baru yang membelah hutan menuju Jayapura, tempat di mana sering terjadi penembakan misterius. Begitu mobil memasuki wilayah itu, Timur dengan sigap mempersiapkan senpi yang berada di saku pintu mobil. Sempat dadaku terkaget. Seperti apa sih nyaliku? Ah bismillah sajalah! Berikutnya, mobil melaju dengan tenang, semakin cepat.

Timur bercerita bahwa di daerah ini seringkali terjadi baku tembak misterius. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang menyatakan diri berada dalam barisan sakit hati. Para oknum intinya. Namun aku tak mau menarik jauh cerita Timur, akan memberatkan langkahku saja. Aku hanya perlu tahu bahwa di tanah ini nyata ada yang demikian. “Kita menginap di Hotel Matoa!”, katanya.

Plong! Lega akhirnya saat tulisan Matoa berada di langit seberangku, artinya hotel sudah dekat. Maklum, tulisan Matoa berada di lantai teratas hotel, jadi begitu mudah terbaca.  Sebenarnya, ada sejumlah hotel bagus di Jayapura, salah satu hotel berbintang tiga yang kupilih adalah Hotel Matoa Jayapura di Jl Jendral A Yani No 14 Jayapura. Lokasinya cukup strategis. Berada tepat di pinggir jalan umum membuatku tak kesulitan untuk mencarinya.

Hotel ini memiliki interior agak klasik dengan 50 kamar bertipe standard deluxe room, VIP, dan suite. Masing-masing kamar cukup bersih dan rapi. Suasananya tenang dan juga sejuk.  Malamnya, aku sengaja tidak makan di restoran hotel. Aku ingin merasakan sate ayam yang kulihat dijual di warung tenda pinggir jalan depan hotel. Penasaran ingin tahu harga dan rasanya.

Ternyata harganya tak jauh beda dengan harga sate ayam di Jakarta, Rp 25 ribu satu porsi terdiri dari lontong dan 10 tusuk sate. Rasanya? Enak sekali! Jadi berkelana di Papua sesungguhnya tak semahal yang orang kira. Kita bisa hemat asal bisa menyiasati. Itulah kesan pertama yang kudapat di malam pertama menikmati Papua. (naskah dan foto/Kirana Kejora/Heti Palestina Yunani/bersambung)