Memandang Jayapura City dari Jayapurawood

Merunut Jejak Elang Timur di Bumi Papua (4)

Pantai Hamadi
Pantai Hamadi

Pagi di hari ke dua di Papua, kudapati udara bumi ini terasa sejuk badan. Kubaca SMS Timur –teman perajalanku di Papua- yang mengingatkanku untuk bersiap jalan lagi. Sebelum itu kumanjakan diri di kamar mandi; berendam sebentar menghangatkan tubuh, mengusir penat di bath up cukup besar.

Ditambah aroma terap bunga mawar, sesi itu benar-benar membantuku menenangkan pikiran. Janji Timur sih, aku akan dibawa ke Pantai Hamadi, satu lagi wisata pantai di Kota Jayapura yang sayang dilewatkan. Pantai Hamadi kurang lebih 5 Km sebelah selatan pusat Kota Jayapura, tepatnya di Distrik Jayapura Selatan Kotamadya Jayapura.

Selain menikmati indahnya suasana pantai yang teduh itu, ada tujuan lain; mengetahui sejarah Perang Dunia II. Di pantai inilah tempat pendaratan pertama pasukan amphibi Sekutu pada 1944. Pantai yang bersebelahan dengan Markas Komando Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) X ini memiliki luas sekitar 5 hektar dan memiliki garis pantai yang panjang.

Beberapa meter sebelum memasuki kawasan Pantai Hamadi, angin menyapa lembut menerpa wajah di sepanjang jalan. Maklum, pantai itu letaknya bersebelahan dengan jalan raya.  Aku melewati pintu gerbang kawasan Pantai Hamadi setelah membayar Rp 20 ribu untuk kendaraan roda empat.

Pantai Hamadi memiliki pasir yang lembut, sehingga nyaman jika berjalan di atasnya. Di sepanjang garis pantainya berdiri bangunan-bangunan honai permanen milik masyarakat sekitar pantai yang dapat disewakan dengan harga sewa bervariasi mulai Rp 50 ribu-Rp 100 ribu.

puncak polimakSebenarnya Pantai Hamadi akan terlihat sangat indah saat senja (sunset). Saat itu matahari kemerahan tenggelam perlahan di balik pulau-pulau kecil sekitar teluk Youtefa. Namun karena diburu waktu, sunset itu tak terkejar. Setelah puas menikmati keelokan Pantai Hamadi, aku beranjak menuju destinasi wisata berikutnya; Bukit Polimak.

Jalanan menuju bukit itu menanjak dan berkelok. Sampai di bukit, tak ada pemandangan istimewa. Di kejauhan tampak tiang-tiang pemancar televisi nasional tertancap di bukit. Maklum, bukit tersebut merupakan daerah tertinggi di Kota Jayapura. Itulah kenapa puncak Bukit Polimak sering disebut Pemancar Polimak.

Sebenarnya tempat ini bukanlah sebuah objek wisata resmi. Namun pesonanya tak bisa terlupakan. Dari bukit ini, pengunjung dapat melihat keseluruhan Kota Jayapura. Tak lengkap rasanya jika tak berfoto-foto dengan latar belakang Kota Jayapura dan laut. Pengunjung juga bisa melihat pulau Kayu Batu dan Kayu Pulo dari sana.

Ada huruf-huruf besar yang ada di tepian. Huruf-huruf tersebut bertuliskan ‘Jayapura City’. Jika dilihat dari bawah, huruf-huruf ini mirip tulisan Hollywood di Los Angeles. Makanya, ada sebutan lain Bukit Polimak yaitu ‘Jayapurawood’. Pada malam hari, tulisan Jayapura City itu seolah menyala oleh lampu. Di situ, aku berhati-hati saat melangkah. Kupilih tempat di dekat bangunan menara yang relatif lebih aman dibanding berdiri di beton tempat huruf terpancang.

Lagi-lagi setelah puas berfoto ria, merenung sejenak, mengendapkan apa yang terlihat, kulanjutkan perjalanan menuju daerah sejuk, Angkasa. puncak polimakItu daerah perumahan elit para pejabat dan pengusaha, serta ekspatriat. Kuhabiskan senja di resto apung di tepi Teluk Youtefa. Daerah ini adalah daerah reklamasi pantai yang menjelma menjadi daerah industri, perumahan mewah, serta resto dan kafe yang terapung begitu indah.

Teluk Youtefa termasuk teluk kecil berada di dalam Teluk Yos Sudarso. Teluk di dalam teluk, unik! Kupilih Blue Cafe Resto yang menyiapkan sea food dan aneka jus buah. Tempat duduk yang nyaman di tepi teluk, membuat suasana senja itu begitu romantis dengan embusan lembut sang angin laut.

Jus buah sirsak dan jambu begitu segar kunikmati dengan menu ikan bubara yang dibakar hanya dengan perasan jeruk nipis dan garam hingga tak merusak rasa asli ikan laut khas Papua ini. Juga cah kangkung bunga pepaya, yang begitu lezat dengan sambal dabu-dabu, sambal tomat, dan sambal kecap asin manisnya.

Sayang sekali senja itu menu papeda sedang tak ada. Papeda adalah makanan berupa bubur sagu khas Maluku dan Papua yang biasanya disajikan dengan tongkol atau bubara yang dibumbui dengan kunyit. Papeda berwarna putih dan bertekstur lengket menyerupai lem dengan rasa yang tawar.

Papeda dapat dikombinasikan dengan ikan gabus, kakap merah, bubara, hingga ikan kue. Selain kuah kuning dan ikan, bubur papeda juga dapat dinikmati dengan sayur ganemo yang diolah dari daun melinjo muda yang ditumis dengan bunga pepaya muda dan cabai merah.  Ah! Andai malam itu ada papeda.

Kuselesaikan makan senja yang berubah jadi makan malam itu dengan puas. Entah karena tempatnya yang memang begitu menyamankan, tenang, sejuk, atau memang karena menunya. Yang jelas perut terasa tenang dan kenyang dengan damai senja itu. (naskah dan foto/Kirana Kejora/Heti Palestina Yunani/bersambung)