Melongok India dari Jaipur ‘The Pink City’

jaipur-Amber Fort
Warna bangunan pink di Amber Fort

Terlalu banyak tahu tentang India, kebanyakan ceritanya yang buruk-buruk saja. Tapi percayalah selama mengunjungi negara ini banyak hal menarik. Salah satunya saat melongok The Pink City alias Kota Jaipur.

Seperti namanya, kota tua yang dibangun Maharaja Sawai Jai Singh pada abad 17 itu didominasi warna pink. Warna pink itu berasal dari warna batu bata yang digunakan sebagai konstruksi dari bangunan.

jaipur-Church at Jaipur
Sebuah gereja di Jaipur

Meski disebut kota pink, bangunan di kota ini sebenarnya rata-rata berwarna coklat mudabata. Persis seperti penilaian saya, cenderung seperti coklat muda. Entah kenapa orang mengasosiasikannya dalam warna pink ya.

Karena warna yang seragam ini, Jaipur menjadi khas. Bentuk arsitektur bangunannya juga terkesan senada. Walaupun ada bentuk yang berbeda namun kalau ditarik garis merah, tetap ada bagian arsitektur yang sama.

Kabarnya dahulu kota ini belum berwarna pink. Warna ini dikaitkan dengan kedatangan Pangeran Wales berkunjung ke India, pada 1876. Mereka sempat menyinggahi Jaipur.

Untuk menyambut kedatangan mereka, Raja Jaipur Maharaja Ram Singh yang saat itu memerintah, menggunakan warna pink di setiap bangunan kota. Di India, warna pink menandakan keramahtamahan.

Tapi sekarang, warga Jaipur tidak lagi mendirikan bangunan dalam warna pink. Tapi bangunan-bangunan lama yang sudah nge-pink tetap dipertahankan agar para turis masih bisa menikmati keindahannya.

Saya mencoba berkeliling kota pink itu dengan rickshaw, sejenis bajaj yang memuat 3 orang. Bahkan ada yang terisi hingga 6 orang beserta sopirnya. Cukup dengan Rs 300 selama kurang lebih setengah hari, saya bisa mengandalkannya untuk mengantar ke berbagai tempat.

jaipur-Hawa Mahal
Hawa Mahal yang megah

Di Jaipur, ada beberapa tempat memesona. Semisal Hawa Mahal, bangunan seribu jendela. Bangunan yang digagas cucu Maharaja Sawai Jai Singh, Sawai Pratap Singh pada tahun 1799 itu berbentuk sangat indah. Sangat mudah menemuinya karena mencolok di pinggir jalan dalam warna pink.

Seorang anak kecil menawarkan naik ke atas balkon lantai 3. Mulanya dibilang gratis, tapi tetap saja di bagian akhir saya sedikit dipaksa untuk masuk ke beberapa toko souvenir perak dan sari. Jika tidak berminat betul, tegaskan untuk tidak dan segera lah pergi.

holi1-Gerbang menuju City Palace
Gerbang menuju City Palace

Dari lokasi ini masih ada City Palace yang merupakan kompleks Istana Kerajaan Jaipur masa lampau. Untuk masuk kita dikenakan tiket Rs 500. Cukup mahal memang tapi di dalamnya ada banyak istana-istana berwarna pink yang memesona.

Gaya arsitektur istana di India ini khas. Atap, lantai, dan tiang-tiang tembok seluruhnya dipenuhi ukiran-ukiran dan lukisan menawan. Dua gerbang dengan dekorasi gambar burung merak dan bunga teratai, meneguhkan dua simbol negara India. Halamannya luas dengan taman besar bergaya Mughal dan Rajhastani.

jaipur-Albert Hall
Albert Hall

Masih ada Albert Hall yang bentuknya seperti bangunan Inggris zaman dahulu. Sekarang bangunan ini dijadikan museum berisi barang-barang artefak, mulai dari lukisan, karpet, gading, bebatuan, patung besi. Museum tertua di Jaipur ini berdiri sejak 1887.

Di halaman depannya yang luas dan bertaman indah, penuh burung merpati dan anak-anak yang bermain kriket. Mengarah ke pinggiran utara Jaipur. saya melewati Danau Man Sagar, di tengahnya terdapat Jal Mahal.

jaipur-Amber Fort and Palace
Ambert Fort

Istana tengah air ini tidak bisa saya capai karena tidak ada perahu yang bisa menghantar ke tengah danau. Saya hanya bisa menatap dari kejauhan dengan mata menyipit karena sinar matahari terpantul ke air.

Usai terpesona di sini, saya teruskan perjalanan dengan rickshaw ke lokasi lain. Suaranya masih meraung keras dan berusaha menanjak jalan beraspal yang terlihat berkilat panas. Amber Fort tertampak di mata, sebuah benteng panjang mengelilingi bukit mirip seperti tembok China.

jaipur-Gajah menyusuri Amber Fort
Naik gajah menyusuri Amber Fort

Kompleks benteng yang super luas itu berada di atas bukit dan dikelilingi tanah tandus dengan pohon yang mengering. Wow, serasa di tengah gurun. Jarak dari pintu masuk benteng menuju ke lapangan utama istana, Jaleb Chowk cukup membuat saya lelah.

Ditambah suhu yang menyengat pada siang hari, Jaipur yang memiliki iklim gurun serasa bagai oven. Bagi yang punya uang lebih, kurangi lelah dengan menyewa gajah seharga Rs 900. Tapi lebih baik berjalanlah kaki. Sebab jalur elephant riding dan pejalan kaki berbeda.

Kalau memilih berjalan kaki, berhati-hatilah melangkah karena ratusan anak tangga ini licin. Memang akan melelahkan nada, tapi trust me, lakukan saja karena susah payah itu memberi kita pemandangan luar biasa.

jaipur-Bangunan pasar di Jaipur
Bangunan pasar di Jaipur

Dari jauh, tampak bukit-bukit pasir beserta pohon-pohon kering. Ada juga danau indah yang mengelilingi benteng ini. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa kuil dan taman cantik serta kolam besar berisi ikan yang amat sayang untuk pengunjung lewatkan begitu saja.

Kalau mau, lanjutkan dengan menyusuri pasar di Jaipur. Mulai lapak yang  permanen, semi permanen sampai yang di pinggir jalan rata-rata dicat warna seragam. Yang pasti pasar tradisional ini selalu terlihat hiruk pikuk.

jaipur-Penjual bunga di Pasar Jaipur di atas trotoarSaya sempat menyambangi lapak bunga yang bertebaran di pinggir trotoar pasar. Tercium, harum mawar Jaipur yang amatlah sangat terkenal. Beberapa perusahaan minyak wangi sudah lama jatuh cinta dan mengambil ekstraknya dari sini.

Termasuk saya yang tidak ketinggalan membeli kalungan bunga mawar dan melati. Saking harumnya, konon jejak aromanya tetap tertinggal saat kering. Menurut penjual bunga, selipkan sekuntum saja di antara buku, harumnya kan terperangkap di sana. Hmmm. (naskah dan foto: Dony Prayudi/Heti Palestina Yunani)