Melongok Habitat Orang Utan di Tanjung Puting

Sebelum touch down di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, saya sudah lama terusik tentang perkembangan industri dan semakin luasnya hutan yang dialih fungsikan untuk perkebunan sawit di daerah Kalimantan. Juga tentang maraknya berita tentang bagaimana habitat orang utan yang semakin tersingkir serta diperlakukan tidak semestinya.

Semua itulah yang membawa keingintahuan saya terbang ke Kalimantan Tengah. Target saya satu; melakukan trip ke Tanjung Puting National Park. Di sana saya ingin melihat daerah konservasi Orang Utan. Sesampai di Pangkalan Bun, perjalanan disambung dengan menyewa klotok. Asyik, karena saya bisa menyusuri sungai di sepanjang daerah konservasi orang utan yang saya tuju.

Setelah beberapa kali menelepon penyewa klotok dan negosiasi tarif perjalanan 3 hari 2 malam, pagi harinya saya menuju ke pangkalan taksi. Jangan berharap taksi di sini seperti taksi pada umumnya yang kita temui di kota-kota besar. Taksi di sini adalah istilah penduduk lokal untuk menamai semua angkutan umum termasuk Elf atau minibus dengan penumpang 8-10 orang.

tanjung puting (3)Armada itulah yang akan mengantar kita ke dermaga di daerah Kumai. Dengan men-charter taksi, kita harus merogoh kantong Rp 150 ribu. Tetapi dengan Elf cukup dengan Rp 40 ribu per orang. Dengan menempuh perjalanan sekitar 45 menit, sampailah kita di Dermaga Kumai untuk melanjutkan perjalanan dengan klotok.

Oiya, klotok adalah sebutan untuk perahu kayu yang biasa digunakan untuk menyusuri sungai di sepanjang daerah konservasi orang utan ini. Disebut klotok kemungkinan besar karena bunyinya tok tok tok. Jadilah masyarakat kemudian memberi nama klotok. Besar kecilnya klotok tergantung kapasitas muatnya, bisa antara 2-20 orang.

Tarif sewa klotok bisa per orang dengan harga antara Rp 1 juta-Rp 2 juta per hari tergantung besar kecilnya klotok. Bisa juga kita charter satu klotok untuk perjalanan tiga hari dua malam seperti yang saya lakukan, dengan membayar Rp 3,5 juta. Itu tarif untuk klotok paling kecil yang terdiri dari 2 geladak yang bisa diisi dengan 2-3 orang penumpang dan 4 orang awak klotok yaitu juru mudi, awak mesin, juru masak dan guide.

Geladak bawah klotok ditempati oleh para awak klotok berikut dapur. Geladak atas untuk para penumpang, yang pada malam hari diubah menjadi tempat tidur komplit dengan kasur, dan kelambu. Harga tersebut biasanya juga sudah termasuk dengan tiket masuk ke lokasi camp dengan 3 stopping point, cost untuk ranger, dan local guide.

Masih juga termasuk makan dan minum sehari-hari yang rasanya menurut saya sangat enak dan disajikan dengan rapi dan bersih. Jika ingin lebih hemat, kita bisa share cost dengan beberapa teman untuk melakukan perjalanan ini. Dari muara Sungai Kumai, klotok berjalan pelan menuju Sungai Sekonyer.

Saat inilah kesempatan bagi penumpang untuk menikmati keindahan alam di sekitar sungai yang tenang yang ditumbuhi mangrove. Tampak nipah dan pandanus mendominasi vegetasi tepi sungai. Sedangkan di daratan, selain pohon-pohon besar yang tumbuh di area Tanjung Puting, salah satu tanaman yang banyak dijumpai adalah kantong semar.

Itu sejenis tanaman pemakan serangga yang merupakan tanaman khas di dalam area Tanjung Puting. Selain itu, kita bisa melihat bermacam jenis burung berwarna warni, elang, kutilang dan bangau, toucan dan kingfisher. Nikmatilah berbagai jenis burung lainnya di sini karena ada lebih dari 200 jenis burung di area Tanjung Puting.

Beberapa bekantan (monyet hidung panjang), owa-owa atau sejenis monyet kecil yang biasanya terlihat berkelompok, dan monyet ekor panjang yang biasanya terlihat duduk di dahan pohon yang tinggi. Dan sesekali terlihat orang utan liar yang dengan malu-malu mengintip di sela-sela pepohonon dengan tatapan ingin tahu melihat ke setiap klotok yang lewat dengan penumpangnya. Saya meminta klotok berhenti sebentar dan mencoba menawarkan pisang kepada orang utan liar itu.

Walaupun tadinya ragu-ragu, tetapi orang utan itu akhirnya perlahan mendekat kepada saya dan mengambil pisang yang saya ulurkan. Mungkin dia mengobservasi saya apakah saya bisa dipercaya dan tidak bermaksud menyakiti. Maklum banyak kasus trauma orang utan yang dianiaya oleh warga atau orang-orang yang bekerja di perkebunan sawit.

tanjung puting (2)Satu hal lain, Sungai Sekonyer yang berwarna merah kehitaman ini bukanlah karena endapan atau lumpur, tetapi berasal dari warna ganggang di dasar sungai yang berwarna merah kehitaman. Walau pun Sungai Sekonyer ini bersih dan tenang, jangan abaikan beberapa peringatan keras. Utamanya tidak berenang di sepanjang sungai ini bagaimanapun tergodanya kita ingin merasakan kesegaran air sungai. Sebab buaya muara, buaya sapit, ular python dan sesekali ular sendok bisa menanti kita di dalam sungai tanpa kita menyadari!!

Taman Nasional Tanjung Puting yang ditetapkan sebagai Cagar Biosfer pada tahun 1977 ini mempunyai area sekitar 400 hektar. Taman ini terdiri dari beberapa lokasi yang bisa dikunjungi yaitu Tanjung Harapan, dan Pondok Tanggui. Yang paling terkenal adalah Camp Leakey yang ditunjuk sebagai zona khusus untuk penelitian orang utan. Wisatawan bisa melakukan trekking untuk menyaksikan pemberian makan terhadap orang utan.

Camp Leakey di kawasan Tanjung Puting ini didirikan oleh Dr Birute Mary Gladikas. Nama Leakey sendiri diambil dari guru Dr Galdikas yaitu Louis Leakey yang menjadi perintis dalam penelitian hewan primata. Dan di Tanjung Puting inilah mereka mengadakan penelitian, pembiakan, klinik untuk orang utan yang terluka atau terkena penyakit sampai siap dikembalikan ke habitat alamnya secara bertahap.

Tiga hari dua malam berkunjung ke Tanjung Puting memberikan banyak pelajaran bagi saya. Yang pertama tentang kepedulian pada primata yang sering disebut sebagai saudara tua karena polah tingkahnya yang sangat menyerupai manusia, makin tinggi. Saya juga prihatin mengapa justru orang asing yang lebih peduli dan memulai konservasi alam dan habitat orang utan ini.

Terbukti 80 persen wisatawan yang datang adalah orang asing. Bahkan saat saya ke sana, saya merupakan satu-satunya wisatawan lokal di antara kerumunan para bule yang datang dengan keingintahuan tentang orang utan.

Kesedihan saya makin menjadi saat tahu tentang beberapa kasus pembakaran orang utan di perkebunan kelapa sawit oleh penduduk dan pekerja lokal. Kabarnya tulang belulangnya dibawa ke Camp Leakey untuk dijadikan barang bukti. Yang termiris lagi adalah kasus orang utan yang dijadikan prostitusi.

Walau kesadaran tentang perlindungan orang utan sekarang mulai meningkat dengan kampanye perlindungan satwa langka, tebersit harapan saya dengan tulisan ini semoga semakin banyak wisatawan lokal yang datang berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Putting. Tujuannya jelas adalah untuk lebih mengetahui betapa species langka yang hanya ada di Indonesia ini terancam punah jika kita semua tidak ikut andil menyuarakan pelestariannya.

Harapan itu terbawa dalam lamunan saya sambil menikmati makan malam terakhir saya di atas klotok dengan ditemani kumpulan kunang-kunang yang seolah berkedip bagai bintang dengan sinarnya mengantar saya menikmati malam terakhir sebelum kembali ke Pangkalan Bun esok harinya. (naskah dan foto/Monique Aditya/Heti Palestina Yunani)