Melihat Literasi Lebih Dekat di Literaturia

foto-2Kegiatan literasi pertama dan terbesar di Surabaya, Literaturia, di Sub Co Coworking Space, Surabaya, Minggu (2/10/2016) berlangsung meriah. Acara yang diadakan sebagai bentuk apresiasi anak muda Surabaya terhadap budaya literasi Indonesia ini mengundang sejumlah tokoh berpengaruh di Indonesia seperti Akhyari Hananto dan Bernard Batubara. Rangkaian kegiatan Literaturia dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan acara Chatterbus dan drop.a. line, kemudian disambung dengan di-‘sku-shion.

Di acara ini, terdapat pula Bookswapping Corner yang mana anak muda yang hadir bisa bertukar buku bacaan. Selain itu, para pengunjung juga bisa membaca buku sambil bersantai di Library Corner.  Pada kelas pertama drop.a.line pagi ini, peserta belajar menulis skrip komik bersama Shienny M.S dari Elex Media Komputindo selama 40 menit. Harapam Shienny, peserta dapat menelaah dan menerjemahkan skrip komik yang diberikan. “Pandangan seperti itu luas, peserta bebas ingin memandang melalui pendekatan yang telah diberikan,” terang wanita berkulit putih tersebut.

Pemateri drop.a.line  berikutnya dari Hipwee, Nendra Rengganis, yang akrab disapa Monik. Ia menjelaskan bahwa tulisan yang bisa hype adalah tulisan mengenai kejadian saat ini. Akan tetapi di Hipwee, tulisan viral tidak dibuat, tapi di pikirkan. Kelas drop.a.line diakhiri oleh Primadita Rahma dari Zettamedia mengenai bagaimana cara membuat tulisan menjadi viral. “Beberapa cara yang dilakukan agar tulisan menjadi viral, antara lain mencari trending topic, pemilihan angle yang tepat, saran pembaca, dan personal story,” tuturnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan di-‘sku-shion yang meng hadirkan pembicara yang berkompeten dibidangnya seperti Akhyari Hananto founder GNFI, Mutia Prawitasari penulis Teman Imaji, Ivana Kurniawati dari Komunitas Pencadu Buku, dan Melisa Mariani Komunitas Blogger Buku Indonesia. Diskusi menjadi semakin menarik ketika salah satu peserta di-‘sku-shion bertanya mengenai makna literasi dalam satu kata dan apakah daya literasi seseorang dibatasi oleh jenis buku fiksi dan nonfiksi yang dibacanya.

Pertanyaan pamungkas tersebut menghantarkan diskusi sampai pada akhir kesimpulan yang disampaikan oleh Hasan Askari selaku founder ACE Human Resource yang menjadi moderator di-‘sku-shion sore itu. Hasan mengungkapkan bahwa Literasi merupakan sesuatu yang mencerahkan, memberdayakan serta merasakan sesuatu untuk berproses. Literasi bukan sebagai enjoyment saja, tapi menjadi sarana membangun suatu bangsa.

Meskipun sepanjang hari cuaca mendung, namun peserta tetap semangat selama kegiatan ini berlangsung. 

“Konten acara di Literaturia menarik! Bagus banget dan gak ngebosenin padahal acaranya dari pagi,” tutur salah satu peserta, Fitra Shaumi Az-zahra. 

Mereka dapat melihat sisi lain dunia literasi yang mungkin sebelumnya tidak pernah diketahui. Bahwa ketika kita berbicara soal literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tapi lebih jauh lagi literasi adalah soal rasa.

Seluruh rangkaian acara kemudian ditutup secara meriah dengan penampilan akustik dari Explode dan Dolenan. Literaturia masih akan berlangsung bulan Desember mendatang. Selama itu, akan ada banyak kegiatan kolaborasi yang dilakukan unntuk menyuarakan kesadaran literasi bagi pemuda Surabaya. Semoga setelah ini akan semakin banyak kegiatan literasi di Surabaya dan tidak hanya berhenti di Literaturia. (naskah dan foto: PAD/Heti Palestina Yunani)