Melihat Enggang Melenggang di Hutan Kota

Mari Kemari Singgah ke Miri (6)

lapangan-di-pinggir-pantaiTravelling saya selanjutnya di Miri adalah ke bibir sebuah pantai di Everly Park. Hati saya sungguh gembira karena cuaca mendadak baik dan matahari perlahan mulai tenggelam dan awan memantulkan cahaya matahari, memendar merah ke mana-mana.

Saya nikmati semua itu dengan duduk diatas kayu mati memandang alam dan terpekur sejenak. Sampai saya dikejutkan dengan suara musik pertanda Borneo Jazz Festival dimulai. Udara pagi itu masih sejuk menyisakan hujan tadi malam. Guide saya di Miri, Paul Victor, mengajak saya untuk menikmati pantai dan hutan kota yang digunakan untuk pelestarian flora dan fauna.

boat-di-piasau-nature-reserveSaya diajaknya ke Piasau Boat Club dan Piasau Nature Resort. Kata Paul banyak macam pohon yang ditanam di sini; pohon ranggu/sentang, bungkang dan kasai. Tanaman ini sengaja ditanam untuk membantu menjaga ekosistem demi kelangsungan hidup hewan-hewan yang ada ditaman ini.

Tanaman ini sendiri berfungsi memberi makan terutama bagi burung enggang yang masih hidup di taman ini. Burung enggang sendiri merupakan burung yang dilindungi pemerintah Malaysia karena populasinya yang semakin langka

Piasau Nature Reserve awalnya dinamakan Piasau Camp, yang dipakai sebagai tempat tinggal pekerja Shell. Pada 2014, tempat itu diubah fungsinya menjadi cagar alam. Tempat ini kemudian dijadikan lahan konservasi untuk burung enggang dan kehidupan liar.

lapangan-borneo-jazz-festivalDi sini ada 17 spesies hewan yang dilindungi oleh Wildlife Protection Ordinance. Totalnya ada 45 burung, 3 mamalia, 5 amphibi, 12 hewan melata, 10 kupu-kupu dan ada 107 tanaman yang dilestarikan di PNR.

Saat ini Piasau Nature Reserve juga dibuka untuk lokasi wisata dan pembelajaran. Namun tentu harus meminta izin kepada pengelola terlebih dahulu sebelum masuk. Saat menikmati lahan hijau di sini, terlihat beberapa pekerja juga sedang sibuk melakukan penanaman pohon di lahan yang terlihat masih kosong.

pohon-tua-dan-besar-di-kampungSaya sempat bertanya kepada petugas kenapa harus ada nomor-nomor di tiap titik lubang tanam. Rupanya ini adalah nomor koordinat untuk GPS. Ternyata semua pohon di sini terdaftar dan dapat di cek keberadaannya menggunakan google map. Pemantauan sistem seperti ini di terapkan di semua flora di Piasau Nature Reserve.

Pepohonan yang rimbun dan semak-semak yang tinggi membuat kita harus ekstra waspada. Papan pengumuman yang menuliskan tentang bahaya ular dan kalajengking ada di mana-mana termasuk juga buaya.

Tentu saja kita mesti berhati-hati karena lahan ini diperuntukkan bagi konservasi di mana kehidupan liar dibebaskan. Karena sudah lelah, saya di ajak untuk menikmati minuman hangat dan makanan kecil di kantin pinggir laut sembari menikmati pantai. Sayang matahari tidak bersinar karena tertutup awan. (naskah dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)