Matahari di Maumere by Langgam Firdausy

Apa yang kamu cari di sini? Tanah tandus berdebu, terik matahari yang membakar sepanjang har, malam yang terlalu dingin dan angin-angin panas yang membawa debu. Apa yang kamu cari di sini? Susah-susah kamu datang kemari, mengharapkan apa?

Beserta senyummu yang merekah seperti matahari pagi di ujung Tanjung Kajuwulu, kamu datang. Tas besar yang tidak aku tahu fungsinya untuk apa berada di balik punggungmu. Sepatu besar yang terlihat terlalu tebal menjejak tanah berdebu di bawah kakimu.

Kamu melihatku dengan kedua mata cokelat tuamu dan kembali berseri seperti anak-anak pantai yang baru menemukan batu hijau mengilap untuk dijual ke penadah.

Aku duduk diam memandangmu dari ujung tebing di Tanjung Kajuwulu, bertanya apa yang sedang dilakukan oleh orang asing di sini sepagi ini.

“Halo, boleh saya duduk di sini, Nona?” tanyamu berhati-hati.

Tanpa bicara aku menggeser dudukku. Kamu melebarkan senyummu seperti lembah Kelimutu. Kamu membuka tasmu dan menaruhnya lumayan jauh dari tempatku, lalu kamu meninggalkannya di sana dan berlari ke arahku, duduk di sebelahku dengan menyisakan jarak setengah meter kurang di antara kita.

Matahari belum muncul, angin subuh masih menusuk tulang. Kamu mengusap-usap lengan atasmu mencoba menghilangkan dingin. Baju yang kamu kenakan sudah begitu tebal, aku terkejut ternyata kamu masih kedinginan. Aku yang hanya mengenakan kain tenun sebagai pelapis bajuku yang tidak terlalu tebal malah tidak merasa dingin.

“Boleh saya tahu namamu?” kamu bertanya lagi, kali ini terdengar lebih ringan.

“Olla.” Aku tidak ingin meneruskan obrolan dengan orang asing.

“Saya Ryan, salam kenal.”

Ya, salam kenal. Aku biarkan ucapanmu terbawa hawa subuh yang mulai menghangat.

Di ujung hamparan laut, jingga lamat-lamat meninggi. Tanjung Kajuwulu, tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit dan terbenam, tempat terbaik melihat matahari dirangkul mesra di awal dan akhir hari oleh keindahan Flores.

Kamu mengeluarkan sebuah kamera, memotret puncak matahari dengan heboh. Suara kameramu merusak suasana, tapi aku diam saja.

“Gila! Indah banget!” serumu tanpa peduli padaku.

Decakanku keluar begitu saja. Aku pergi kemari untuk menikmati fajar dengan damai, mendekatkan diri dengan Tuhan yang konon turun saat fajar, tapi kamu menggangguku. Sepertinya malaikat saja tidak turun tadi.

“Maaf,” ucapmu tulus yang segera menaruh kameramu lagi. Entah apa yang lucu, tiba-tiba kamu tertawa. “Kamu tahu tempat bagus di Flores ini, kan? Bagaimana kalau kamu temani aku mengelilingi tempat yang cantik ini?”

Aku ingin sekali menamparmu. Tapi, untuk kali ini hati kecilku mengatakan kalau aku membutuhkan seseorang yang bisa membantuku kali ini. Jadi aku menjawabnya, “Baik.”

Maumere, sebuah kota di timur Pulau Flores, merupakan ibu kota Kabupaten Sikka, salah satu kota yang wajib didatangi oleh wisatawan. Di sini kita bisa melihat pantai dengan batu-batu cantik berwarna hijau biru di sepanjang Pantai Nangaroro, matahari di ujung Tanjung Kajuwulu, rumah-rumah unik milik masyarakat Lio yang berbeda dengan rumah tradisional Flores lainnya. Dan, yang paling terkenal adalah Danau Kalimutu. Atau, paling tidak aku ingin menikmati senja di sabana yang hangat.

Pagi ini aku bertemu seorang wanita Flores yang duduk menghadap timur di ujung tebing Tanjung Kajuwulu. Rambutnya lurus dan panjang. Kulitnya hitam namun bersih. Kakinya yang ia gantungkan di ujung tebing berkibas-kibas mengikuti angin.

Baru kuketahui namanya Olla. Nama yang cantik, cocok dengan dirinya yang cantik dengan wajah khas Floresnya. Ia menatap ujung timur dengan begitu syahdu, menunggu detik-detik sang surya terbangun setelah seharian ini tertidur.

Aku terlalu berisik hingga ia mendecak sebal. Tapi, anehnya ia menyetujui ideku untuk mengelilingi Maumere bersamaku, orang yang bahkan baru ia kenal.

“Baik.”

Aku cukup terkejut saat ia mengatakannya dengan cepat.

“Kamu yakin?”

Ia tidak menjawabnya. Ia bangkit, mengebas-ngebaskan kotoran di celananya yang putih. Kain tenun yang membungkus tubuh kecil dan rampingnya itu sedikit terbuka hingga bisa kulihat baju kainnya yang tipis. Aku tidak melihatnya kedinginan, berbanding terbalik denganku.

“Kita mau ke mana?”

“Mau Lo’o,” jawabnya singkat.

Mau Lo’o adalah sebuah desa tradisional tempat masyarakat Lio tinggal. Desa ini terletak tidak jauh dari pantai Koka. Setidaknya, itulah yang aku baca di internet.

Dan kami berjalan kaki ke sana. Sandal tipis yang ia kenakan tidak melindungi kakinya yang mulus dari debu-debu jalanan. Baiklah, aku bingung kenapa perempuan ini punya kulit yang mulus dan tidak kering seperti layaknya orang-orang Flores yang tinggal di desa. Ia lebih terlihat seperti perempuan asal kota di Pulau Jawa sana dan tersesat di timur Indonesia ini. Tapi, aku tidak berani bertanya.

Aku sibuk dengan kameraku, memotret apa pun yang menarik. Ia berjalan dalam diam, bahkan langkah kakinya tidak bersuara.

“Apa yang akan kita lakukan di Mau Lo’o?” aku memulai percakapan. Aku bisa gila kalau tidak mengobrol sepanjang jalan menuju Mau Lo’o yang jaraknya cukup jauh. Ia sepertinya tidak berniat mencari kendaraan untuk sampai di sana.

“Melakukan hal yang biasa kita lakukan di rumah,” jawabnya lebih ketus. Aku menyimpulkan ia tidak punya niatan untuk membuka obrolan.

“Ayo kita naik mobil itu,” serunya. Baru saja sebuah mobil seperti angkot dengan penumpang yang duduk sampai atapnya melewati kami.

“Diam saja, dan lihat sekelilingmu,” katanya membungkamku.

Aku hanya ingin menunjukkan kesedihan. Kamu salah datang kemari. Hanya ada kesedihan di sini. Bagaimana anak-anak kecil berkulit sawo matang tanpa baju berlari-lari mencari batu-batu hijau biru untuk dijual dan dijadikan uang buat makan. Bagaimana ibu-ibu kurus menggendong anak mereka di tangan yang letih. Dan, bagiaman hujan datang begitu jarang hingga tanah-tanah di sini kering. Mereka menyedihkan. Setidaknya, buatku lebih menyedihkan dari itu. Dan, kamu aku jadikan alat untuk menuntaskan persoalanku.

Kameramu terus mengambil gambar. Entah apa itu, aku tidak tahu. Mungkin pantai-pantai di sepanjang jalan yang kita lalui atau semak-semak keemasan yang tertimpa cahaya matahari, atau anak-anak yang lari bertelanjang dada di sekitar kita.

“Apa yang kamu cari di sini?” Kita masih terus berjalan saat aku melontarkan pertanyaan itu. “Hah, apa?” Kamu baru saja memusatkan perhatianmu padaku.  “Apa yang kamu cari di sini, di Flores, di Maumere?” kuulangi perkataanku dengan penekanan.

Hmmm… Hasil karya Tuhan, mungkin.”

Jawaban apa itu? “Berikan jawaban yang lebih logis, karya Tuhan ada di mana-mana, kenapa harus kemari?”

“Ha-ha-ha … baik … baik … Saya pikirkan dulu,” jawabmu ringan sekali. “Saya mencari sesuatu yang baru, yang belum pernah saya temui di tempat lain. Saya mencari matahari di belahan timur Indonesia.” Kamu memberikan jeda. “Saya mampir sebentar di sini. Saya mau terus jalan sampai Timur.”

“Kamu salah memilih tempat singgah.”

“Kenapa?”

“Di sini hanya ada kesedihan dan kamu memilih menghiasi perjalananmu dengan kesedihan itu,” balasku retorik.

“Ha-ha-ha … kata siapa? Saya mau tunjukkan keindahan tanah ini padamu. Terima kasih karena mengizinkanku berjalan bersamamu,” jawabmu menyebalkan. Kamu mulai menyamai langkah denganku, setelah sejak tadi memilih membiarkanku memimpin perjalanan.

Rumah-rumah beratap rendah berbentuk limas berjajar dengan jarak yang hampir sama, tiang-tiang beratap kerucut, batu-batu besar yang tampaknya dipersiapkan untuk upacara adat, menjadi objek penglihatanku kali ini. Kami sampai. Kakiku sedikit sakit karena jarak yang lumayan jauh, tapi kulihat teman seperjalananku tampak biasa saja. Aku curiga tadi subuh ia jalan seperti ini ke Tanjung Kajuwulu.

“Kamu tunggu di sini, saya hanya ingin mengambil barang,” perintahnya.

Jadi, ia kemarin hanya untuk mengambil barang? Oh, ia pasti sudah buta. Kenapa tidak menikmati pendangan di sini dulu, atau setidaknya biarkan aku menikmatinya. Ah, itu yang akan aku lakukan sedangkan ia pergi, membidik lensa kameraku ke seluruh penjuru desa Mau Lo’o.

Ia sudah berlari masuk ke salah satu rumah beratap limas itu. Aku ditinggalkannya sendiri, menurutku itu lebih baik. Aku akan mengabadikan semua yang ada di sini!

Tapi, aku rasa niatnya memang bukan untuk berlama-lama di sini, beberapa menit kemudian dia kembali. Pakaiannya sudah ia ganti, celana pipa krem yang ujungnya dilipat rapi, kaus ketat yang ia lapisi lagi dengan kemeja. Sebuah tas selempang tersampir di pundak kirinya. Sandalnya berubah menjadi sepatu keds putih yang kotor di bagian ujungnya. Sudah kuduga, ia bukan orang asli sini.

Kusempatkan diri untuk memberinya siulan menggoda saat ia sampai di dekatku. Ia tidak merespons.

“Kita akan ke Nangororo.”

Tidak ada yang lebih syahdu daripada berdiam diri memandang ombak yang bergulung dan menghempas pantai. Merasakan semilir angin kencang yang menabrak kasar wajahku atau, ketika memejamkan mata dan alam berbisik begitu lembut dan harmonis. Mencari Tuhan, aku berharap ia membisikkan sesuatu lewat alam. Aku harap angin laut memberiku petunjuk.

“Lihat kan, tidak ada kesedihan di sini.”

Yang pertama kali kulihat saat mataku terbuka adalah wajahmu yang berada begitu dekat dengan wajahku. Senyummu yang sama itu lebar terbentang. Harus kuakui, kamu mengganggu.

“Ada. Masih, ada.”

Kamu terlihat bingung, aku tidak berharap kamu mengerti. Tapi, kamu mengangguk mantap.

“Di sini ya?” kamu menunjuk dadamu sendiri.

Aku tak ingin menjawab, itu bukan kewajibanku. Mataku kualihkan dari wajahmu yang dekat sekali itu. Memilih meneliti batu-batu hijau-biru di sepanjang pantai semakin berkurang dan akhirnya berganti dengan pasir-pasir halus di tengah pantai. Mataku menemukan secercah cahaya pada wajah anak laki-laki yang baru saja menemukan batu yang bagus.

Sejujurnya, pernah aku merasakan itu. Berteriak girang ketika aku menemukan sebuah batu oval berwarna hijau tanpa celah, bagus sekali. Tapi itu sudah lama sekali. Aku ingat betul, batu itu kuberikan pada mama.

Aku rindu Nangaroro. Aku rindu bisikan Tuhan yang terasa memelukku. Aku membutuhkannya sekarang, persoalanku ini menyedihkan!

Mama pergi setahun lalu, di sini, di tanah kelahirannya. Ia meninggalkanku begitu saja saat matahari sedang kujemput di ujung Nangaroro. Mama membawa pergi serta batu hijau itu, ia pernah bilang kalau batu itu akan menghiasi rumahnya di surga sana.

Biar saja air mata ini mengalir. membuat lengket pipiku yang dihempas angin laut.

“Lihat.” Suaramu menyeruak dinding kesedihanku, berhasil mengetuk kesadaranku. Aku tidak sadar kalau kamu sudah pindah dari tempatmu tadi, kini sedang berjongkok dengan sebuah batu di telapak tangan, warnanya biru mengkilap seperti laut. “Bagus, kan?”

Ya, batu itu bagus sekali. Bentuknya segitiga dengan ketiga ujung yang tumpul seperti dipoles oleh seorang ahli. Batu itu mengkilap, tertimpa cahaya matahari yang merangkak naik, percis seperti laut yang berkilauan.

“Kemari!”

Aku tidak mengerti kenapa aku menurut. Tahu-tahu aku sudah berjongkok di dekatmu, menatap batu itu dan batu-batu lainnya yang kamu temukan. Hijau, biru, hitam, putih. Aku merindukanmu, Ma.

“Mana yang kamu suka?”

Eumm, yang ini,” telunjuk berkuku bulat itu menunjuk batu pertama yang aku temukan. Batu berwarna biru seperti laut.

“Untukmu.”

Lalu, aku menemukan sebuah senyum di wajahnya yang sendu. Sisa-sisa air matanya mengkristal di ujung matanya dan lengket di pipinya. Ini lebih baik, wajahnya lebih baik begitu.

“Terima kasih,” ujarnya tulus, begitu lembut di telingaku.

Eits, ada satu syaratnya.”

“Apa?”

“Jangan nangis lagi, ya!”

Ia mengangguk. Aku tahu itu berasal dari hatinya. Catat janjiku Nangaroro, aku akan membuatnya tersenyum lebih banyak lagi hari ini! Catat!

Air laut berhasil menggodaku. Sepatu, kaus kaki, jaket, dan bajuku kulepaskan dan kulempar asal. Aku berlari menerjang angin, menemui air laut yang begitu merindu. Telapak hingga betisku terendam, dingin merayap hingga seluruh tubuhku. Lalu aku mulai tertawa terbahak-bahak.

“Apa kamu sudah gila?” teriaknya dari pinggir pantai. Ia duduk di atas bebatuan, kakinya tertekuk hingga menyentuh ujung dagunya.

“Mungkin. Karena aku mulai melihat bidadari di sana,” kutunjuk dirinya. Matanya membulat.

Ia bangkit. Tidak sesuai dugaanku. Apa ia marah? Namun, pertanyaanku terjawab dengan cepat. Ia melempar sepatunya asal, menarik sedikit celananya hingga pas di betisnya, ikut masuk ke dalam air bersamaku.

Tangannya direntangkan lebar-lebar. Ia berputar-putar seperti anak kecil. Matanya terpejam dan kepalanya menengadah menatap langit. Aku menemukan seulas senyum lagi di sana. Lalu, ia mulai terbahak-bahak, dengan air mata yang mengalir begitu deras.

Hal itu membuatku tertegun. Lidahku kelu, dan kata-kata menguap dari kepalaku.

Kami duduk-duduk di sabana, di antara semak-semak perdu yang keemasan. Angin membawa mereka bergerak ke arah barat, menggelitik punggungku yang memunggunginya. Akasia tumbuh jarang-jarang dengan daun yang cukup banyak, aku lihat ada beberapa anak sedang menggembala di sekitarnya.

Aku berpijak pada salah satu batu yang cukup besar, membuatku lebih tinggi. Persoalanku sebentar lagi selesai, maka aku ingin menitipkan salamku pada penjaga sabana ini. Dewa-dewa keemasan yang sibuk menjaga binatang ternak.

Aku tidak tahu ternyata mudah sekali menyelesaikan persoalan ini. Persoalan yang hinggap begitu lama di dalam hatiku. Kesedihan.

“Apa aku berhasil?”

“Berhasil, apa?”

“Membuatmu percaya bahwa tanah ini indah,” serunya dengan suara lantang.

Ya, kamu sudah berbuat lebih banyak dari itu. “Terima kasih.”

“Ha-ha-ha … iya.”

“Karena kamu menyelesaikan persoalanku.”

Aku masih berdiri memunggungi angin. Punggungku mulai dingin, tapi aku tidak ingin beranjak. Lalu, sebuah tangan menggapai tanganku, membawanya turun dari rentanganku. Hangat sekali. Aku mendapati diriku tidak menolaknya.

Matahari tenggelam. Sisa-sisa jingga tertinggal di ujung semak-semak perdu. Maumere menitipkan sesuatu padaku hari ini. Sebuah permata yang harus kujaga sepenuh hatiku. Maumere memberiku suatu penghargaan yang tak terhingga nilainya hari ini. Aku menerimanya, dengan penuh kehormatan.

Ia merebahkan kepalanya di bahuku. Aku baru sadar cinta bisa datang secepat matahari terjaga.

“Olla, jaga batu itu ya?”

Ia tidak menjawab, tapi anggukannya sudah cukup. (penulis: Langgam Firdausy-Twitter: @LanggamFir, email: langgamfirdausy@yahoo.co.id/ilustrasi: net/Heti Palestina Yunani)