Masuk Sumba Timur, Jumpa Puru Kambera

Eksplorasi Sumba (6)

sumba-sunset Usai puas menikmati Pantai Watu Maladong, saya kembali ke Hotel Mario tempat saya menginap di Sumba Barat Daya. Saya tiba di hotel satu jam sebelum matahari terbenam. Kesempatan pas untuk bergegas ke Pantai Kita, yang ternyata tetap sepi alias tidak ada orang. Karakteristik khas; berpasir halus dan berkontur garis pantai yang sangat panjang, dengan air laut yang juga dingin serta ombak yang besar.

Sore itu saya duduk di tepi pantai menatap sang surya yang perlahan-lahan tenggelam ke dasar samudera. Setiap detiknya terasa sangat indah dan sangat sayang jika dilewati. Sungguh ciptaan Tuhan yang maha sempurna. Apalagi hari itu adalah hari terakhir saya di Sumba Barat Daya. Sebelum berangkat melalui jalan darat melanjutkan eksplorasi Sumba, saya menyempatkan diri sekali lagi untuk menikmati matahari pagi di Pantai Kita yang masih sunyi.

sumba-waingapu rumputBenar memang, tidak ada yang sempurna itu. Hamparan padang rumput cokelat keemasan itu berpadu dengan birunya langit di angkasa. Saya menyuruh Andre untuk berhenti sebentar, karena rasanya tangan ini tak sabar lagi untuk mengambil foto. Setelah puas, saya melanjutkan perjalanan dengan riang hingga tak terasa tiba di perbatasan Kota Waingapu dengan cepat. Perbatasannya ditandai oleh patung kuda yang saling berhadapan.

sumba-puru kamberaAkhirnya saya memilih pergi saja ke Puru Kambera. Lumayan, dari Waingapu ke Puru Kambera hanya memakan waktu sekitar 30 menit dengan kendaraan roda empat. Puru Kambera adalah paduan lengkap untuk menikmati daerah khas Waingapu. Kita dapat menjumpai pantai putih yang didominasi oleh pohon cemara yang tumbuh secara alami dan pantai di sini tidak seperti di Sumba Barat Daya yang memiliki ombak besar, pantai di Puru Kambera memiliki ombak yang tenang. (naskah dan foto: Yenny Fyfy/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)