Masuk Berchtesgaden, Malah Terbayang-bayang Obersee

obersee (4)A breath taking, amazing, quiet, a peaceful and simply beautiful place! Itulah simpulan saya ketika menginjakkan kaki di Berchtesgaden National Park, salah satu Taman Nasional di Jerman, tepatnya perbatasan antara Jerman dan Austria.

Lokasinya dikelilingi barisan Pegunungan Alpen yang menyuguhkan panorama alam yang sangat indah, damai, berudara bersih dan segar. Lebih-lebih dengan suguhan dua danaunya; Konigsee dan Obersee, Berchtesgaden kian mantab.

Salah satu tujuan wisata itu favorit turis Eropa yang menyenangi suasana tidak terlalu turistik dan ingar bingar. Tapi tak semua turis -terutama dari Asia- tahu, sehingga Berchtesgaden disebut uncommon tourist destination.

obersee (11)Bagi yang sudah tahu, turis yang rata-rata berasal dari Eropa, sebagian dari Amerika Serikat dan hanya sekelompok kecil turis Jepang, pasti akan datang dengan membawa peralatan fotografi komplit. Mereka dijamin puas mengambil foto di sini. Pendeknya Berchtesgaden adalah photographer and poets heaven!

Menuju Berchtesgaden, bisa ditempuh dari dua kota, lewat Munich (Jerman) atau Salzburg (Austria). Jika memutuskan lewat Munich, naiklah kereta selama dua jam perjalanan. Tiketnya Euro 30, langsung menuju stasiun kereta di Berchtesgaden. Kalau lewat Salzburg, tak cuma lebih cepat, tapi juga lebih mudah dan lebih murah.

Ambil bus nomor 840 yang waktu keberangkatannya dijadwal setiap jam. Harga tiketnya hanya Euro 5 dan sampai Berchtesgaden setelah 45 menit perjalanan. Kalau mau hemat, belilah tiket terusan seharga Euro 9, yang sudah termasuk tiket bus menuju danau dan berkeliling kota.

obersee (10)
Rumah perdesaan khas

Enaknya, menuju Berchtesgaden dengan kereta atau bus tak ada bedanya. Sebab selama perjalanan yang ada hanya pemandangan indah yang sama. Di kanan kiri terbentang bukit-bukit teletubies, lereng dengan pohon-pohon pinus dan hamparan Pegunungan Alpen menjulang dengan puncak salju abadinya.

Tampaklah rumah-rumah perdesaan khas Eropa. Saya jadi teringat komik bergambar karya Hans Christian Andersen. Dengan dinding-dinding kayu, rumah-rumah itu mengesankan suasana country side. Duduk di beranda sambil menikmati sepiring biskuit dan secangkir cokelat hangat, tentu menyenangkan. Hmmmm.

obersee (13)
Jalan-jalan dalam kota

Makanya kalau mau merasakannya, pilih rumah penduduk lokal yang disewakan dengan tarif bervariasi antara Euro 35-50. Kalau mau motel atau hotel murah ada yang ditawarkan antara Euro 60 sampai Euro 300 semalam. Rata-rata menawarkan kolam renang air hangat dan outdoor jacuzzi dengan pemandangan Pegunungan Alpen lengkap dengan fasilitas spa dan sauna.

Saat sudah rileks, jalan-jalanlah ke dalam kota. Ada banyak toko souvenir yang menjual lukisan kertas seharga Euro 4 per lembar. Gantungan kunci cuma Euro 1-3 per buah atau kaos dengan gambar danau yang dipatok Euro 8 per pieces.

Ada pula pasar terbuka atau biasa disebut Market Square (Marktplatz), yang buka setiap hari dari pukul 08.00-12.00. Di sini, kita bisa membeli berbagai macam roti, cake, pie, keju lokal dengan harga antara 90 cent sampai Euro 2. Cukup terjangkau bukan?

Dobersee (12)i musim panas, buah-buahan lokal seperti roasted almond dijual murah. Masa Euro 90 cent cukup untuk seperempat kilogram! Buah aprikot, peach dan berbagai macam berry dengan murah ditebus dengan Euro 2 per kilogramnya.

Setiap Senin sore pukul 18.00, ada suguhan konser musik tradisional dari band lokal. Duduk sambil meluruskan kaki sejenak di cafe-cafe yang menawarkan minuman produksi lokal khas yaitu Bavarian Beer, sudah sangatlah jenak. Kalau mau cicipi anggur lokal atau jus buah lokal.

Menikmati makan malam ala Bavarian malah asyik lagi. Ada steak daging sapi, lamb chop atau roasted chicken yang porsinya lumayan besar dijual Euro 10-15 per porsi. Semua itu seperti prolog sebelum akhirnya saya bertemu dua danau; Konigsee dan Obersee, esok harinya.

obersee (5)Di dua danau ini, pengunjung bisa mengelilinginya selama 15 dengan perahu. Ada dua tarif; Euro 13 per orang untuk satu stopping point di perhentian St Bartholoma atau Euro 16 untuk dua stopping point sampai perhentian ke dua, di Salet.

Saran saya pilihlah dua perhentian karena di Salet ada trekking untuk sampai ke Danau Obersee. Selama perjalanan menuju pemberhentian pertama, pengunjung menyusuri danau yang di kanan kirinya tampak tebing-tebing terjal. Beberapa puncak tebing itu cantik karena tertutup salju.

Di tengah perjalanan berperahu, pengunjung dapat suprise. Perahu berhenti tiba-tiba. Pemandu perahu meminta tenang, diam, tidak bersuara selama beberapa menit untuk menikmati kesunyian alam. Saat itu, terdengarlah sebuah lagu dari permainan terompet.

obersee (1)Dipantulkan oleh dinding-dinding tebing, permainan terompet itu sungguh merdu. Suaranya serasa membawa siapa saja berada di alam lain! Wow, so romantic atmosphere. Di perhentian pertama itu juga, St Bartholoma, ada gereja bernama sama. Bangunannya bergaya Baroque yang dibangun pada abad 12.

obersee (6)Pada abad 16, gereja direnovasi ulang. Kubah merahnya kontras dengan langit dan pegunungan terjal di belakangnya. Di sinilah letak danau pertama yang saya temui itu, Konigsee. Di sekitarnya sepi, hanya ada beberapa bangunan berupa cafe, rumah dan toilet untuk para pengunjung.

Jika sempat ber-trekking, sekitar dua kilometer melalui hutan cemara, kita bisa bertemu ice creek atau sungai es. Airnya mengalir langsung dari Pegunungan Alpen yang dingin.obersee (14)

Tak lama 30 menit dari St Bartholoma, sampailah di Salet. Di sini saya berjalan kaki lagi selama 15 menit demi sebuah danau yang tenang, airnya sebening kristal, bersih, dengan gradasi warna air yang menggoda. Kalau tak ingat berapa dingin airnya, saya sudah ingin meloncat ke dalamnya.

obersee (3)Yes finally, Obersee sudah di hadapan saya! Sungguh tepat pergi ke tempat ini kala cuaca cerah. Sebab di situlah puncak indahnya Obersee dengan langit biru, awan putih bergumpal, tanpa desiran angin. Itu membuat danau seperti cermin memantulkan bayangan langit dan alam sekeliling.

Saat kembali ke penginapan, bayangan keindahan Obersee dan langit di atasnya terus membayangi saya. Sambil memanjakan diri nyemplung ke outdoor jacuzzi ber-background Pegunungan Alpen, saya terus terhantui. Cukup betah saya begitu, tanpa ingat dinginnya hawa sekitar. Apalagi air jacuzzi kian menghangatkan tubuh saya.obersee (7)

Ditambah secangkir cokelat hangat, saya memejamkan mata dan kian hanyut dalam lamunan; betapa bersyukur keindahan Obersee itu tak hanya ada dalam bayangan tapi sudah saya nyatakan di dalam kehidupan. Ya, hidup ini indah; la vie est belle. (naskah dan foto: Monique Aditya/Heti Palestina Yunani)