Masjid Rumahan yang Kecil dan Terpencil

Salat Jumat Sentimentil di Sevilla (1)

Ada salat Jumat saya yang terasa paling sentimentil sampai saat ini. Itu tak terhitung salat Jumat di Masjidil Haram saat haji dulu. Bedanya ada. Kalau saat haji dulu terasa sentimentil dikarenakan banyak hal. Ada rasa haru karena bisa salat Jumat bersama sama dengan 3 juta saudara-saudara muslim dari seluruh dunia.

Di masjid yang luasnya lebih dari 350 ribu meter persegi dengan kapasitas 2 juta jamaah, sentimentil atau baper kata anak muda zaman sekarang itu terasa karena saya berada di kiblatnya umat Islam. Nah, sentimentilnya sih sama dengan salat Jumat yang mau saya ceritakan ini.

sevilla (3)Cuma kali ini perasaan sentimentil jadi lebih karena ada rasa teriris pedih. Why? Salat Jumat kali ini hanya bersama segelintir saudara muslim. Kami salat di ruangan lantai dua rumah yang hanya seluas 20 meter persegi di kota yang dulunya adalah kiblatnya peradaban Islam, Sevilla.

Dulu Sevilla bernama Isbilya. Ia Ibu Kota Al Andalusia zaman dulu, yang terletak di tepi Sungai Guadalquivir yang berasal dari Bahasa Arab “wadil kibir” atau sungai besar. Rumah yang saya tempati untuk salat Jumat ini adalah masjid, atau mezquita dalam Bahasa Spanyol.

Rumah sebagaimana rumah itu karena berupa bangunan dua lantai berukuran mini. Rumah itu dibeli mantan pemain Sevilla FC, Frederic Kanoute sebesar Rp 6,3 M dengan uang hasil hadiah kompetisi sepak bola.

Alasan ia membeli katanya; “Sebagai muslim, kelak saat meninggal saya tidak akan ditanya berapa gol yang sudah saya cetak, tapi apa yang dalam hidupmu kamu lakukan dan untuk apa hartamu kamu gunakan.” Hmm, sebuah alasan yang bisa diteladani.

Sentimentil lainnya terasa karena seperti ada yang menusuk-nusuk dada mengingat betapa kecil dan terpencilnya masjid ini. Padahal ini adalah kota yang, dulu kala ketika menjadi ibu kota peradaban Islam Andalusia, pernah memiliki lebih dari 70 masjid. Kota yang sebelum akhirnya ditaklukkan Raja Ferdinand dari Aragon (sekarang meliputi Zaragosa dan sekitarnya).

Ferdinand melakukannya bersama Ratu Isabella dari Castilla. Wilayah yang sekarang meliputi Valladollid, Salamanca, dan sekitarnya, pada peristiwa Reconquista atau penaklukkan Andalusia yang menyebabkan akhirnya umat Islam Spanyol (dan Yahudi) harus memilih tiga alternatif persekusi.

Kalau tak diusir keluar dari seluruh semenanjung Iberia, atau dipaksa masuk Katolik, atau bagi yang berpura pura jadi Katolik tetapi dicurigai diam diam tetap menjalankan ritual Islam (yang disebut kaum Moriscos) disiksa sampai mati lewat pengadilan inkuisisi gereja yang diterapkan sejak abad 15 itu. Tragis. Sambil mengikuti salat Jumat dengan khusyuk, saya berupaya menepis rasa sentimentil itu. (naskah dan foto: M Atoillah Isvandiari/editor: Heti Palestina Yunani)