Masjid dengan Tiang dari Majapahit by Dian Nafi’

Kalian pernah dengar mitos ini? Jika ada dua orang berlainan jenis yang saling tertarik bertemu di masjid yang tiang-tiangnya berasal dari Majapahit ini, mereka pada akhirnya akan bertemu di pelaminan. Kalian percaya? Aku mulanya tidak.

Tetapi paman dan bibiku nyatanya mengalami kejadian ini. Mereka bertemu di masjid ini dan akhirnya menikah. Kemudian saudaraku yang lain, sepupuku Naya, juga mengalaminya. Yanuar saudara jauhnya yang berkunjung ke kota kami waktu itu, terpaksa berhenti di masjid ini. Hujan sedemikian deras. Naya berinisiatif untuk membawakan Yanuar payung.

Tapi ia ragu–ragu juga, bagaimana mencarinya. Ia tidak begitu faham wajah lelaki itu meski namanya telah mencuri hatinya. Masjid begitu luas. Dan konon inilah view versi Yanuar yang ia ceritakan kepada Naya. “Aku lihat seorang gadis berpayung memakai setelan hijau, mondar mandir berjalan ke selatan utara barat timur mengelilingi masjid di bawah hujan lebat. Inikah gadis yang dimaksud ibuku?”

Naya akhirnya mendekat ke teras masjid, mengamati satu persatu orang di sana dan terlihat seorang pemuda yang tidur (menurut Yanuar hanya pura–pura tidur setelah melihat Naya mendekat) dan kemudian (pura-pura) bangun. “Nyuwun sewu, panjenengan punapa mas Yanuar ?”

“He-eh. Aku  tak sholat sik ya…” Setelah Yanuar salat, gadis itu menyerahkan satu payung padanya. Kemudian mereka pulang sama-sama ke rumah Naya. Hmm..apakah ketika mereka akhirnya menikah itu karena mereka bertemu di masjid dengan tiang dari majapahit ataukah karena hujan dan payung itu. Ahay. Ini sungguh misteri.

**

Kalau kemudian aku tak sengaja janjian bertemu dengan sahabat mayaku di masjid ini apakah ini artinya aku ingin membuktikannya ? hmm… aku sungguh tak tahu. Hanya saja masjid ini memang tempat paling strategis untuk janjian bertemu. It’s so simple. Namun jika kemudian suatu hari takdir berkata sehubungan dengan aku dan seseorang yang hari itu bertemu aku di sana, aku juga tak bisa menyangkal. Siapa yang bisa melawan takdir. Iya kan?

**

Aku tergila-gila dengan seorang yang agak gila ini. Dia mengaku sebagai seorang pekerja kreatif. Okelah, mari kita menyebutnya begitu.

“Aku akan datang ke kota sebelah utara dekat kotamu purnama depan.”

Di balik telpon terdengar suara baritonnya yang hangat dan selalu membuatku merindu untuk ditelponnya lagi.

“Mungkin malam sebelum aku melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, aku akan menginap di kota sebelah selatan  kotamu.”

Suaranya semakin berat menyiratkan sesuatu dan aku hampir lunglai mendengar kalimatnya barusan.

Seperti kelinci hendak diterkam serigala, aku menggigil dan menggelepar-gelepar.

Lalu bayangan akan dua tangan saling menggenggam, berjalan beriringan di kota lama, mungkin menonton sebuah film yang selalu dia hembus-hembuskan belakangan ini dan berakhir di bangku di stasiun menunggu kereta yang akan membawanya jauh ke kota timur kotaku. Dengan kepalaku bersandar di pundaknya, duduk bersisian di bangku yang gambarnya selalu ada di note-ku dan note-nya..

Membayangkannya saja jantungku berdegup tak karuan dan kurasakan aliran hangat bergerak di sekujur pembuluh darah dan semua bagian tubuhku. Aku sejenak pingsan dalam ketakberdayaanku melawan tirani bersembunyi di balik topeng bernama cinta. Yang tidak bisa aku fahami dan menimbulkan kecemasan lebih lanjut-karena ini mungkin sekali tanda-tanda aku stress – adalah aku terlambat datang bulan. Oops..belum pernah terjadi sebelumnya kecuali aku akan hamil. Dan karena tidak terjadi pembuahan karena bertemu saja bahkan belum pernah, jadi ini lebih berbahaya daripada hamil. Aku alami gejala depresi dan ketakutan akan entah apa.

**

“Kakak jatuh cinta.”

Empat tahun usianya tapi cukup cerdik untuk memahami apa yang terjadi dan cukup berani untuk menyampaikan kejujuran.

“Kata siapa?”

Seorang pekerja kreatif yang agak gila di depanku bertanya dengan kumisnya yang tersenyum penuh kemenangan. Dia memainkan rambut keponakanku.

“Rambut yang bagus.”

Pujian untuk seorang balita yang berada di pihaknya, padahal dia keponakanku.

Dia membuka telapak tangannya, mengajak keponakanku give him five, give him ten. Dua telapak tangan yang bagus dengan garis–garis tapak tangan yang jelas M nya. Lurus, rapi.

“Bagaimana bisa?” meloncat begitu saja pertanyaanku.

“Apanya?” pekerja kreatif agak gila itu balik bertanya.

“Garis tapak tangan kamu bagus. Kenapa bertemu aku? Garis tapak tanganku tak bagus, karenanya aku boleh melakukan kegilaan.”

Aku menyimpan pedihku karena dia mungkin tidak segila yang aku kira tapi aku mengasumsikannya demikian. Maaf. Bahkan dia lebih muda dari fotonya. Aku menyukai gayanya berpakaian. Muda banget untuk seumuran dia yang sepuluh tahun lebih tua dariku.

“Aku sudah memikirkannya. Kita akan menulis trilogi untuk cerita kita yang kemarin,” seperti biasa pekerja kreatif setengah gila itu mengalihkan pembicaraan.

Lalu kami tenggelam dalam genangan ide dan banjir lahar kata-kata dan sejenak melupakan fakta bahwa aku semakin jauh terlibat dengan suami orang.

“Apa ada yang salah dengan selingkuh tulisan?” tanyanya, tanyaku juga.

Selingkuh tetap saja selingkuh. Dan itu tidak sama dengan setia. Tak lagi mempunyai pemahaman atas selingkuh dan setia membuat kami menikmati sesuatu entah apa. Dan ada rasa bersalah selalu singgah sesudahnya. Tidakkah cukup membuktikan bahwa keterlibatan dan ketenggalaman ini adalah suatu kesalahan yang biasa disebut sebagai dosa.

**

“Tolong kembali memutar dan drop in lagi ya,” tergesa aku menelpon pekerja kreatif setengah gila itu. Dan dia menyambutnya dengan gembira, tentu saja dia senang dengan caraku menahannya pergi. Seperti aku juga seringkali senang dengan caranya menahanku pergi dari keterlibatan ini.

“Ada yang belum usai?”

Senyum dengan kumisnya yang menantang benar-benar hampir meruntuhkan duniaku. Dia turun dari mobil yang mengantarnya berputar kembali untuk menemuiku untuk yang kedua kalinya di pertemuan pertama kami, di hari yang satu-satunya ini.

Kami kembali berjalan beriringan, kali ini hanya berdua. Karena aku sudah memulangkan keponakanku yang tadi menemani kami berdua. Keponakan cantikku yang selalu merindukan ayahnya di surga dan selalu senang jika ada pria dewasa di dekatnya, dia sudah banyak membantu tadi. Memecah kekakuan antara kami yang sebelumnya hanya bertemu di maya. Saatnya berdua saja, seperti yang selalu kami tuliskan bersama dalam karya-karya kami.

Dia terus bicara tentang film, tulisan, konser, tour, buku dan apa saja. Dan aku, perempuan kesepian yang rapuh, sudah cukup nyaman hanya dengan berjalan bersisian dengannya. Aku tak juga butuh dinikahi karena meskipun dia seseorang yang sangat nyaman untuk dijadikan belahan jiwa tetapi bukan calon suami yang ideal untukku dan nilai-nilai dalam keluarga besar kami. Kami berbeda di banyak hal, tetapi sebenarnya mirip di banyak hal lainnya. Tapi ada yang bilang jika dua orang berlainan jenis saling tertarik dan kemudian  bertemu di masjid kuno dengan tiang dari Majapahit ini, akan menikah pada suatu saatnya nanti.

Kalian pernah dengar mitos ini?

“Kenapa?”

Dia bertanya heran melihatku mengambil langkah mundur lalu mengambil tempat disebelah kirinya berjalan setelah sebelumnya berada di sebelah kanannya.

“Ooooo…” Ada seorang gila beneran dengan pakaian setengah telanjang berjalan dari arah berlawanan.

“Hehehe..orang gila takut orang gila.”

Aku yang mengaku gila juga menyembunyikan malu di wajahku yang memerah ketika sesaat tadi berada di belakang punggung pekerja kreatif setengah gila yang aku gilai. Nyamannya punggung yang bukan milikku, jadi lupakan untuk bersandar di sana apalagi memeluk pinggangnya.

Oh No!” sekali lagi aku terkejut. Kali ini hendak melarikan diri Karena kami berpapasan dengan keluarga besarku yang hendak pergi ke makam untuk kirim doa bagi kakekku yang dihauli hari ini. Tapi aku mengurungkan niatku. Pekerja kreatif setengah gila ini telah meluangkan waktu dan energinya untuk terbang empat puluh lima menit dari kota yang sangat jauh, melalui rangkaian kerja dua hari dua malam  yang melelahkan, balik lagi dari kota sebelah selatan kotaku setelah menempuh dua jam pulang pergi kembali ke utara, dan aku tidak cukup memberinya penghargaan?

Tuan rumah macam apa aku ini?

Kekasih macam apa aku ini yang meninggalkan kekasihnya begitu saja karena tidak ingin diketahui keluarga besarku?

Jadi tak terhindarkan lagi pertemuan telapak tangan bergaris tapak bagus itu  dengan telapak tangan-tangan oom, sepupu-sepupu, paklik, dan juga adik laki-lakiku.

“Ini adikku yang dokter,” aku mengenalkannya ketika mereka berjabat tangan.

Pekerja kreatif setengah gila itu akhirnya bertemu dengan orang-orang  yang selama ini juga menjadi bagian dari cerita-cerita kami. Terutama adikku ini istimewa, karena pekerja kreatif setengah gila itu menaruh perhatian yang sangat besar terhadap adik-adikku.

**

Tuhan memang baik.

“Keren!”

Kata dia suatu saat ketika kami sedang berdiskusi dan aku mengutip satu ayat yang bahkan secara eksplisit menuliskan kepuasan seseorang dan kepuasan Tuhan atas seseorang itu sebagai prasyarat seseorang kembali kepadaNya dan  memasuki rumahNya.

“Ya iyalah, keren. Gusti Allah gitu lhoh.”

Aku senang karena tanpa sengaja membawanya dan juga diriku sendiri, pada satu lagi kesadaran bahwa Dia begitu keren dan hebat.

Sehebat skenario-Nya pada hari di mana aku bertemu darat untuk pertama kalinya dengan  guru yang sahabat sekaligus kekasih gelapku bernama pekerja kreatif setengah gila itu. Ternyata aku tak harus tenggelam dalam kegilaan yang lebih jauh seperti bersamanya menikmati perselingkuhan dengan lunch atau dinner yang romantis di sebuah resto, mengobrol panjang tak jelas di suatu lobby hotel tempatnya menginap, di gelap gedung yang memutar film romantis, di rinai hujan di lorong lorong kota lama, di bangku stasiun kereta. Tuhan menyelamatkan aku, karena di hari satu-satunya itu aku harus ada di sekitar rumah saja karena ada acara haul (peringatan hari kematian) kakekku.

“Malu ah,” katanya ketika aku menawarkan supaya dia duduk minum dan makan di rumahku saja. Daripada dia haus dan lapar, karena kami hanya duduk di serambi masjid tanpa hidangan kecuali perbincangan yang hangat tapi ngalor ngidul.

“Iya juga. Ada nenek, bibi-bibi dan paman-pamanku. Sepupu-sepupu dan banyak keluarga besar datang dan berkumpul. Ya sudahlah disini saja,” aku menurut saja.

Cuaca cerah, Senin kan ya?

Tapi kulihat banyak sekali wisatawan religi di kompleks masjid ini padahal ini bukan hari libur. Sehingga tak ada satupun orang yang mungkin mengenaliku dan mengenalinya. Kami  tersembunyi di keramaian, bahkan mungkin ada yang mengira kami juga wisatawan dan bukan dua orang gila yang melalui perjalanan dan kisah gila sebelum mendarat bersama di serambi masjid kuno ini.

Kukira pertemuan darat kami menghentikan kegilaan kami di maya. Tapi ternyata tidak. Segalanya masih sama seperti sebelum pertemuan. Kegilaan yang sama.

Aku kadang berada di ruang cemburu dan ragu tiap kali mengingat bahwa ia bukan milikku. Tapi juga di labirin ceria dan hangat mengingat ia tetap setia menelponku tiga kali sehari bahkan kadang seharian full. Seringkali muncul pertanyaan dalam benakku  sendiri, tapi tak pernah kutanyakan  padanya, ke mana istrinya. Kenapa bukan istrinya yang menerima kelimpahan perhatian dan kasih sayang ini. Siapa yang tidak normal di antara mereke berdua, istrinya atau pekerja kreatif setengah gila itu. Jangan tanya diriku, kalau aku jelas tidak normal karena mau-maunya terlibat dengan suami orang. Bukan pula untuk bersama dalam pernikahan,hanya untuk bersama menumpahkan kegelisahan dan mengawinkan ide serta tulisan–tulisan kami. Kami menyebutnya sebagai persahabatan.

“Aku mulai capek dengan permainan dan perjalanan yang tak berujung ini,” aku menyampaikan keluhan.

“Kamu mau pergi?”

Pekerja kreatif setengah gila itu bertanya dengan kalimat tertahan seperti menahan pertahananku yang hampir tak bertahan lagi.

Lagu cintaku, cintamu, cinta kita, Nicky Ukur terus menerus diputar melatari percakapan ini. Dari sejumlah novel dan film sering disitir, yang paling disesali bukanlah perpisahan, tapi pertemuan. Kenapa bertemu? Kenapa? Tak ada yang sia, termasuk pertemuan. Kami melaunching novel kami yang pertama tiga bulan kemudian. Dan ada tiga buku bersama lagi yang sudah siap kami launch. Mereka buah cinta kami, anak-anak hasil perkawinan tulisan kami, bukan perselingkuhan. Karena dengan tulisannya saja aku mengawinkan tulisanku. (naskah: Dian Nafi’/ilustrasi: nn/editor: Heti Palestina Yunani)