Mampir Kawah Ijen, Perjalanan Pun Berakhir

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (25)

Sampai di Sumbawa, kami tiba kala hari sudah sore. Akhirnya kami berempat memutuskan untuk bermalam di Bima sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jawa. Dari kota terbesar di Sumbawa itu kami melanjutkan perjalanan dan berpisah di tengah perjalanan karena mereka memutuskan untuk ke Desa Mantar di dekat Pelabuhan Pototano.

Sampai di Lombok pada malam hari, karena kondisi keuangan yang menipis dan berdasarkan masukan kawan maka saya akan mencoba berkunjung ke Rumah Singgah Backpacker Lombok di Mataram dan meminta izin untuk bermalam di sana. Rumah singgah itu baru ada sekitar awal 2014 dan merupakan alternatif bagi para pejalan yang memiliki kocek pas-pasan atau memiliki dana tetapi ingin berkenalan dengan pejalan lainnya.

Di sana banyak sekali pejalan yang bermalam dari turis luar hingga dalam negeri. Mulia sekali pemilik rumah tersebut, rumah pribadinya dirombak untuk menampung para penjelajah Lombok. Panggilan pemiliknya, Mamak dan Bapak, memiliki empat orang anak. Mereka sekeluarga sangat terbuka bagi siapa pun yang hendak menginap. Beruntung sekali saya saat itu bisa bersilaturahim ke sana.

Blue FireSetelah bermalam di rumah singgah, keesokan pagi saya sudah tiba di Padang Bai karena melakukan penyeberangan malam hari dari Lombok. Tepat hari Kamis atau H-7 Ramadan, Bali pun kembali menjadi pulau yang hanya saya lewati tanpa mengunjungi satu pun destinasi di sana.

Karena terbiasa jalur di Flores yang begitu menantang, saya pun tiba di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, pada siang hari pukul 13.00. Pikiran memang saat itu sudah terbayang pulang ke Bandung, tetapi entah ‘setan’ apa yang membisikkan saya untuk menyempatkan diri melihat ke kawah gunung yang bisa memperlihatkan blue fire pada saat tengah malam.

Setan itu pun berhasil menghasut pikiran saya; “Puasanya masih lama,” ujarnya. Saya dan Si Jangkrik pun akhirnya memutuskan untuk menuju kawah Gunung Ijen dengan rencana hanya ikut tidur di pos atau tempat parkir atau warung di sekitar sana. Akhirnya malam pun saya diizinkan untuk tidur di warung yang hanya satu-satunya di kaki kawah Gunung Ijen itu. Pohon Diantara Aroma Sulfat

Tengah malam, karena wasata Kawah Ijen merupakan wisata yang sudah umum maka pengunjung pun banyak yang melakukan trekking untuk melihat api biru di kawahnya pada pukul 01.30. Selimut bintang selama perjalanan bertanda bahwa langit cerah dan hanya ada kabut tipis.

Ijen Diawasi RaungKeajaiban di kaki kawah itu pun akhirnya bisa saya lihat, memang indah dan keren. Takjub kembali hadir dalam diri saya, betapa indah sekali alam negeri ini. Setelah mencapai puncak dan melihat matahari terbit dari sana yang merupakan destinasi bonus eksplorasi kali ini, saya pun melanjutkan perjalanan pulang.

Disambut KeluargaMalam harinya saya bermalam di kos kawan yang bekerja di Paiton, lalu dilanjutkan keesokan harinya melaju jalan trans Jawa melalui kota-kota bagian selatan yang dilalui pula oleh rel kereta api. Sempat bermalam di salah satu pom bensin di Kota Wates hingga akhirnya pada hari Minggu saya sudah terjebak kemacetan di jalur Nagrek.

Sampai kembali di rumah yang sedang membangun menjadi kota juara oleh Wali Kotanya, Bandung, maka selesai cerita saya ini mengeksplorasi selatan Indonesia. Rasa bangga dan kagum akan negeri ini semakin bertambah, saya pun semakin mencintai alam negeri ini. Terima kasih Selatan Indonesia, sampai jumpa di penjelajahan selanjutnya! (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/habis)