Makan Soto Plus Kaget Digebrak-gebrak

soto-gebrak-area-dapurMendung menggelayut di langit Jakarta siang itu walau tak setetes air hujan akhirnya jatuh. Matahari bersembunyi di balik awan. Jalanan seputar Taman Setiabudi mulai ramai. Ini waktunya istirahat makan siang, bertepatan dengan bubaran sekolah pula. Dalam kondisi begitu, hawa Jakarta terasa agak membingungkan; tidak terlampau sejuk tetapi juga tak menimbulkan gerah.

Pas begitu, bingung pula untuk memutuskan mau makan siang apa ya hari ini? Yang berkuah-kuahkah atau yang segar? Saya lihat, di Taman Setiabudi banyak pedagang makanan. Sempitnya jalan di sana tidak membatasi jumlah pedagang. Jajanan sekolah, warung sederhana ataupun kafe dan rumah makan terbilang banyak di seputaran Jl Taman Setia Budi.

soto-gebrak-soto-nasi-dan-gorengan-berdampingan-mesraEnaknya lagi, harga relatif, tergantung tempat, menu dan porsinya. Dari sekian yang ada, gerobak dorong es podeng, tahu gejrot dan jus buah yang parkir di depan sebuah bangunan mengundang langkah saya. Menilik ramainya pengunjung yang datang, saya yakin untuk masuk. Baru saja duduk, makanan pendamping berupa gorengan sudah disajikan di meja. Baru pelayan menghampiri.

Gesitnya pelayan belum mengimbangi arus pelanggan yang berdatangan. Namanya juga waktu makan siang. Tapi belum makan, saya yang duduk membelakangi tempat penyiapan pesanan berkali-kali terkaget oleh suara gebrakan, macam orang marah-marah. Belum harum kuah soto yang terkesan ngiming-ngimingi semata, karena sedang diantar ke meja lain.

Hanya sesekali uapnya yang nakal menyergap indera penciuman. Bikin tambah ngiler saja. Saya dan beberapa teman, menghibur diri dengan es podeng dan tahu gejrot selama menanti pesanan tiba. Satu dua kali saya melirik ke meja sebelah. Tersenyum kecil menyaksikan tiga cewek yang sedang ngerumpi berulangkali menghentikan obrolannya.soto-gebrak-es-podeng-dan-tahu-gejrot-sementara-menanti-si-primadona

Apalagi kalau bukan karena kaget mendengar bunyi gebrakan yang sering tetapi jaraknya tak sama. Daripada sibuk mengusap air liur yang hendak menetes toh? Akhirnya, empat buah mangkuk soto terhidang di depan kami. Rasanya kami rela-rela saja membiarkan lidah menahan panasnya lantaran sudah terlanjur lapar. Suwiran daging ayamnya lembut, berpadu dengan rasa kuahnya yang pas.

Bagian terlucu dari kami saat lapar begitu adalah ketika salah satu teman menggoda dengan mengangkat mangkuk dan bergaya super lebay: menyeruput kuahnya. Ia nyaris tersedak saking terkejut mendengar bunyi gebrakan yang keras. Bukannya langsung menolong mengangsurkan segelas air putih, tawa geli kami keburu meledak duluan.

Kelar dengan porsi pertama, iseng saya menuju ke dapur mereka. Penasaran, saya mencari ‘biang keladi’ keributan tadi. Itu dia! Sebuah botol kaca. Itulah rupanya yang diketukkan ke sebilah papan setiap kali usai satu pesanan, menimbulkan suara nyaring.soto-gebrak-ini-dia-si-biang-ribut

Siapa kira, tak sembarangan memukulkan botol tersebut? Kalau asal, tentunya dia bisa pecah, kan? Nyatanya, sekeliling botol sama sekali tak retak barang segaris tipispun. Saya iseng memukulkannya, sayangnya bunyinya tidak seheboh yang dihasilkan ‘sang pakar’. Uap kuah dalam panci menggelitik. Akibatnya, saya tergoda memesan porsi kedua. Sluurp… lezatnya!

Yang berminat makan di sini, siapkan telinga dan jantung cukup kuat ya! Sebaiknya, pilih tempat duduk menghadap tempat penyiapan sotonya untuk meminimalisir kemungkinan kaget. Apalagi mereka yang latah. Hmmm, jangan sampai kata-kata ajaib terlontar dari mulut, hahahaha. (naskah dan foto: Lucy Liestiyo/Heti Palestina Yunani)