Makan Mo-mo Cari Kenyang

Kebal dengan Menu Nepal (1)

Saat traveling saatnya kuliner. Benar juga. Tapi untuk perjalanan saya ke Nepal, Oktober 2017 lalu, kuliner itu adalah menyesuaikan diri dengan menu apapun yang saya temui di sana. Sengaja saya tak harus berburu makanan tertentu. Sebab mencoba menikmati yang tersajikan saja sudahlah butuh adaptasi.

Seperti makan pagi pertama saya di hotel, saya order menu mirip orang vegetarian. Saya hanya bisa memesan roti, telur dadar, kentang plus jus jeruk. Kenyang? Lumayanlah untuk isi perut yang kosong dari semalaman sejak saya datang pukul 11 malam di Nepal. Prinsip saya sih, harus kebal dengan makanan Nepal.

Maka, ada beberapa makanan khas Nepal yang saya cicipi dengan rasa senang sepanjang perjalanan. Sesampai Dhunce, makanan paling aman yang bisa saya pesan adalah nasi putih dan telur dadar. Karena saya belum tahu komposisi menu lainnya yang saya pikir lebih berdaging.

 

Itu untuk adapatasi saja. Jangan berpikir melas (iba). Saya bawa rendang daging dan kering tempe dari Indonesia. Itu untuk alternatif makanan saja jika tidak cocok dengan menu makanan di Nepal. Tak cuma itu, saya juga membawa bumbu pecel dan sambal terasi kalau-kalau saya rindu cabe ulek asli Indonesia itu.

Untuk urusan minum-meminum saya membawa serbuk wedang jahe, susu coklat sachet, sereal, teh celup beserta gula putih dan gula merah. Tenang, saya tidak hendak menyaingi warung teahouse di sana. Ini murni perbekalan yang saya bawa dan saya konsumsi sendiri. Surga kalau sudah membawa itu semua.

Seharian pesan menu nasi putih versus rendang rupanya bosan juga. Maka pada malam ke-dua di Thulo Syabru saya ditawari Yuba untuk mencoba menu khas Nepal, mo-mo. Yuba sengaja memilihkan makanan tersebut karena tidak ada unsur daging di dalamnya.

Mo-mo adalah rebusan pangsit mirip siomay yang di dalamnya berisi sayuran dengan bumbu mirip gule. Makannya dicocol dengan saus. Kenyang? Ternyata iya meski tanpa nasi atau makanan pendukung lain. Menu selanjutnya yang saya pesan di teahouse Sing Gompa itu lebih menantang.

Melirik bule Londo (orang Belanda) di seberang meja memesan spaghetti makaroni tabur keju, saya-pun ikut panas memesan menu yang sama. Kebetulan, saya agak emosional berhadapan sama Belanda satu ini. Entah trauma imperialisme atau memang dia alergi dengan saya yang tidak mau bergeser duduk saat dia dan timnya datang.

Dia minta saya pindah tempat duduk. Mintanya pun dengan nada tidak sopan kepada guide-nya. Saya yang sedari tadi sudah lapar dan ingin makan jadi emosi. Saya bilang; “Kenapa? Ada yang salah dengan saya? Kita duduk dengan hak yang sama di sini! Bicaralah dengan attitude!” Dan spaghetti tabur keju londo itu hanya muat separuh porsi di perut saya.

Bukan karena tidak selera akibat suasana itu, tapi karena porsinya memang banyak. Variasi menu yang saya pesan di teahouse berikutnya adalah mie kuah. Kenapa tidak nasi? Karena pada ketinggian 3000 meter, nafsu makan saya mulai menurun dan tidak seserakah sebelumnya.

Oya, porsi makanan di Nepal rata-rata jumbo kalau untuk ukuran saya yang tak bisa makan banyak. Mungkin volumenya sengaja dibuat besar karena disesuaikan dengan kebutuhan energi bagi para pendaki. Walau, saya juga menemui menu jumbo ini di Thamel, Kathmandu.

Beruntung bagi wanita Asia seperti saya, yang kalau tidak habis, makanan bisa saya bungkus untuk bekal makan di hotel. Kembali ke nafsu makan tadi, memang harus Anda jaga baik-baik karena itu sangat mempengaruhi kondisi fisik perjalanan selanjutnya yang kian menukik tajam.

Yuba –guide saya di Nepal- tidak mau ambil risiko apabila saya akan terkena hipothermia atau AMS. Dia terus memaksa saya makan, dan memesankan mie kuah panas kebul-kebul untuk saya. Ah, ternyata habis juga walau harus dipaksa menelan. Tapi saran Yuba itu, benar. (naskah dan foto: Menur Kusuma/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)