Magisnya Barong Ider Bumi ‘Bersihkan’ Kemiren

kemiren 9Upacara ritual Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi selalu dilaksanakan pada hari ke dua Idul Fitri atau 2 Syawal. Tahun ini upacara itu digelar bertepatan pada 7 Juli 2016. Seperti tradisi di masyarakat Suku Jawa umumnya, Barong Ider Bumi adalah semacam upacara bersih desa.

Suasana magis begitu terasa saat barong Kemiren tampil berkeliling desa. Warnanya khas yaitu warna merah, hijau, kuning, putih dan hitam. Barong ini memiliki sayap berjumlah empat dengan mahkota dan jamang di bagian kepala. Sepintas, barong ini seperti Buroq atau kuda berkepala manusia dan bersayap yang menjadi tunggangan Nabi Muhammad ketika naik ke surga.

Jamang bundar besar warna merah mengesankan gada besi kuning pusaka Minak Jingga, Raja Blambangan dalam kisah pertunjukkan ketoprak, Prabuloro dan Janger Blambangan (Banyuwangi). Sesuai aturan bakunya, ritual Barong Ider Bumi harus tepat dimulai pada pukul 14.00 WIB. Pemilihan waktu ini memiliki arti filosofis yang diyakini Suku Using secara turun-temurun.

kemiren 11Menurut mereka, 2 adalah angka yang disuka oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Angka 2 menyiratkan berbagai hal dan anasir kehidupan. Sebagai contoh Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, menciptakan siang dan malam, menciptakan benar dan salah, menciptakan suka dan duka dan banyak lagi yang sifatnya berpasang-pasangan. Itulah mengapa bagi lare (orang) Using, dilarang memulai upacara di luar jam tersebut. Sebab bila dilanggar, bisa mendatangkan petaka bagi masyarakat dan desanya.

Dibuka dengan tarian Gandrung anak-anak, ritual dilanjutkan dengan tari Jaranan Bhuto alias tari Kuda Kepang, khas Blambangan. Jaranan Butho ini ditampilkan berdelapan orang. Dengan dandanan serupa raksasa, wajah bertaring yang garang. Rambut panjang menjuntai sebahu ditutup mahkota warna emas.

kemiren 5Kostum yang dikenakan lebih didominasi warna hitam, merah dan kuning berumbai-rumbai. Sementara di tangan mereka tergenggam sebuah jaranan, media yang terbuat dari kulit kerbau, yang berwujud kuda dengan kepala raksasa warna merah menyala. Dengan dandanan semacam ini mereka menari melakukan gerakan-gerakan besar layaknya raksasa.

Sesekali mereka juga menunjukkan kedigdayaannya dengan menahan sakit kala dipecut pada bagian tubuhnya. Usai Jaranan Butho inillah, barong Kemiren mulai di’ider’kan atau di arak keliling jalan desa sepanjang 3 km. Perjalanan diiringi musik yang meriah, berirama rancak. Arak-arakan juga dilantuni bacaan mocopatan dan bakaran dupa oleh para sesepuh dan diikuti masyarakat umum dengan suka cita.

Berjalan paling depan adalah para sesepuh desa yang bertugas sebagai Sembur Othik-othik. Mereka melempar sesaji berupa beras kuning dicampur bunga dan uang koin recehan sejumlah 99.900. Alasan memilih bilangan tersebut karena Allah ditafsirkan suka pada angka ganjil, dan 99 merujuk pada Asmaul Husna. Upacara Sembur Othik-othik ini ditujukan kepada masyarakat penonton yang berada di sepanjang kiri kanan jalan.

kemiren 10Ritual Lukiran di Kemiren ini dimaksudkan sebagai sembur rezeki dan berkah keselamatan bagi masyarakat. Di belakang para sesepuh ini ada 7 orang nenek yang mengenakan selendang putih bergaris hitam yang disebut Selendang Solok. Sepanjang pawai ini para nenek ini melakukan aktivitas menginang, yakni mengunyah tembakau dicampur sedikit kapur dan sirih.

Arah menyamping terlihat sepasang penunggang kuda yang telah dihias secara meriah (Jaran Kencak). Di belakangnya lagi tampak sepasang penari berkostum serupa entah ayam jago atau burung Garuda. Berikutnya tampil dua penari gandrung laki-laki berusia lanjut yang mengiring berjalannya barong Kemiren.

kemiren 13Semua itu membuat upacara berjalan meriah dengan iringan musik yang khas terdiri dari kendang, kecrek, gong dan ketuk. Sementara di sisi jalanan, pada sebuah bale-bale bambu beratap jerami yang dipasang di ketinggian kurang 3 m, terlihat beberapa orang tua tengah menabuh musik angklung bambu dengan melantunkan lagu-lagu Bayuwangen asli.

kemiren pemusikSeusai upacara, maka sampailah pada puncak acara yakni selamatan bersama masyarakat sepanjang jalan desa. Sajiannya tumpeng pecel pitik yaitu nasi putih yang gurih dengan urap ayam bakar bumbu kelapa. Usai dibacakan doa bersama, tumpeng selamatan ini dibagikan ke seluruh pengunjung sebagai berkat dan rasa syukur kepada Sang Khalik yang telah memberikan rezeki dan keselamatan.

Menurut Sutrisno, salah satu tokoh Desa Kemiren, Barong Ider Bumi dilaksanakan sebagai rasa syukur atas hasil panen yang berlimpah serta keselamatan masyarakat desa selama tahun yang silam. Selain itu juga memohon berkah keselamatan untuk tahun mendatang.

“Tradisi ini sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat kami dan sudah dilaksanakan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu,” katanya di sela acara sakral yang berakhir sebelum tabuh azan Maghrib. Ditambahkannya, selain sebagai tradisi, kini Barong Ider Bumi menjadi agenda andalan Banyuwangi di Desa Wisata Budaya Kemiren.

kemiren 14Kemiren yang merupakan salah satu desa kecil di kaki bukit pegunungan Ijen dengan ketinggian 144 DpL ini memiliki udara yang cukup sejuk (22-26 derajat Celcius). Cuaca yang sejuk ini tercipta karena banyaknya ditumbuhi pepohonan dan persawahan yang subur. Saat memasuki desa, kita akan disambut sebuah gerbang desa yang melintang di atas jalanan mulus.

Ada tulisan tertera; ‘Kawasan Desa Wisata Adat Using Kemiren’. Desa Kemiren ini konon sudah ada sejak tahun 1830-an. Semula desa ini masih berupa hamparan sawah milik penduduk Using di Desa Cungking (5 km arah Timur desa Kemiren). Namun sebagian penduduk Desa Cungking pindah ke Desa Kemiren hingga sekarang. (naskah dan foto: Bambang AW/hpy)