Lukisan Van Gogh di Ketinggian Bagan

Pesona Magis Bagan (1)

Andong merupakan salah satu moda transportasi yang umum di BaganSaya tiba-tiba terbayang ini lagi; duduk di dalam sebuah andong saat melaju dalam gelap dan dinginnya Kota Bagan di bulan Desember 2015 lalu. Waktu masih menunjukan pukul 4 dini hari. Lilian, sopir andong yang saya tumpangi, sesekali memacu kecepatan kudanya. Berlomba dengan waktu, saya berharap untuk menyongsong matahari terbit.

Menuju Bagan tidak sesulit yang saya bayangkan. Dari Yangon, ibukota Myanmar, saya menempuh perjalanan 10 jam dengan menggunakan bus menuju Bagan. Bagan memiliki lebih dari 2000 pagoda yang masih berdiri kokoh di atas lahan seluas 40 kilometer persegi.

Pintu gerbang salah satu pasar yang terletak di dekat Pagoda Shwe Zi Gon
Pintu gerbang salah satu pasar yang terletak di dekat Pagoda Shwe Zi Gon

Stupa, candi, vihara, dan biara dengan berbagai macam bentuk dan ukuran tersebar secara acak. Beberapa masih difungsikan sebagai tempat ibadah, sementara sisanya hanya menjadi pelengkap kemagisan dan tumpukan batu semata.

Pengaruh agama Buddha sangat kental menyelimuti kota ini. Sekitar 89 persen dari populasi masyarakat Myanmar menganut agama Buddha. Dilihat dari banyaknya orang yang ingin menjadi biksu dan besarnya kontribusi negara untuk tujuan keagamaan, Myanmar merupakan negara dengan penganut agama Buddha terbanyak di dunia.

Sejauh mata memandang, terlihat patung Buddha ataupun simbol-simbol yang merepresentasikan unsur agama Buddha. Sepertinya, Kerajaan Pagan yang menguasai wilayah Bagan dari abad ke 9 sampai dengan 13, enggan untuk meninggalkan kekuasaannya di sini. Tentram, magis, dan kuno. Seakan waktu berhenti berputar. Itulah kesan pertama saya ketika memasuki kota ini.

Seorang biksu sedang menjalankan ritual keagamaan di Pagoda Shwe Zi Gon
Biksu di Pagoda Shwe Zi Gon

Setiap pagi, para biksu berjubah merah dengan bertelanjang kaki berkeliling demi mendapatkan sedekah dari masyarakat sekitar. Tanah yang berwarna merah layaknya batu bata, bertekstur kering, tergebah mengikuti kaki yang menginjaknya. Matahari masih belum mengintip ketika saya menaiki tangga Pagoda Bulethi. Kecil dan curam. Dengan berhati-hati, saya menanjak perlahan di dalam kegelapan.

Menyongsong matahari terbit di Pagoda Bulethi
Menyongsong matahari terbit di Pagoda Bulethi

Sesampainya di puncak yang berbentuk seperti lonceng besar dengan poros runcing, samar-samar terlihat beberapa pelancong yang sudah mengambil termpat terbaik untuk menikmati matahari terbit, siap dengan kamera di tangan mereka. Kegelapan yang sebelumnya menyelimuti, perlahan memudar. Langit berwarna merah oranye perlahan menerangi, ribuan pagoda yang menyelimuti landskap Bagan samar mulai terlihat.

Gulungan kabut pekat membumbung dari bawah tanah, balon terbang mulai mengudara satu per satu, menghiasi cakrawala. Sebuah cahaya merah muncul. Keheningan yang sebelumnya menguasai terpecahkan oleh suara gemuruh tepuk tangan para turis yang kini sudah memenuhi keempat beranda pagoda.

Di puncak, saya tercengang mengalah kepada keindahan alam ekstrem Bagan. Di Bagan, memang sangat mudah untuk melihat pagoda. Bersama indahnya alam, bangunan itu seolah saling melengkapi satu sama lain, keseimbangan yang sempurna, layaknya lukisan terkenal karya Van Gogh.  (naskah dan foto: Irene Barlian/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)