Lucunya Kebun Binatang Manusia; Derajat yang Terbalik

*Sebuah Otokritik pada Potensi Kebinatangan Manusia
war AManusia ditahbiskan Tuhan sebagai makhluk hidup yang termulia di jagad raya ini. Dalam kitab suci, spesies homo sapiens itu adalah khalifah di bumi. Derajat keren dan mentereng. Tetapi konon manusia justru memiliki ketakutan terbesar akan eksistensi dirinya di atas bumi. Tak hanya punya iri, curiga, sak wasangka sampai niat busuk kepada sesama manusia. Celakanya manusia juga sangat ketakutan akan ancaman hegemoni makhluk hidup lainnya. Kalau tak pantas disebut takut dan tunduk akan penguasaan kekuatan hantu atau mahkluk astral seperti tuyul dan sundel bolong, manusia ternyata konon juga menjadi pengecut kala berhadapan dengan binatang. Derajatnya terbalik.war 2
Dalam film War For The Planet Of The Apes (WFTPOTA), saya mendapati situasi kenaifan manusia di hadapan binatang yang selama ini dianggap mewakili spesies terendah di planet ini. Manusia yang justru disebut termulia sering tak sadar bahwa dirinya dihinggapi rasa kesombongan bahkan kebodohan luar biasa dibandingkan binatang yang selama ini sering disalah-salahkan untuk menyebut kehinaan-kehinaan yang tak manusiawi. Coba sadari kalimat saya dari istilah ini saja; kambing hitam, babi buta, mati kutu, nyengir kuda, sampai otak keledai. Itu memang kata-kata. Tapi senyatanya manusia secara non materi berangsur-angsur menjadi jelmaan para binatang itu. Maksud saya; manusia bisa jadi lebih binatang dari binatang mana pun.
war 4Di sekuel ke tiga yang baru saya tonton bersama Afghanistan dan Vatikan untuk bermalam minggu, WFTPOTA menyuguhkan perenungan saya (manusia) atas sikap-sikap kebinatangan yang menghinggapi manusia. Dalam mengambil sudut pandang, WFTPOTA memiliki kecerdikan telaah atas perilaku manusia dari kaca mata para binatang. Dunia seolah terbalik. Bangsa The Apes justru digambarkan mempunyai sikap-sikap perikemanusiaan yang menjadi tanda-tanda keistimewaan manusia. Jika ada kebun binatang sesungguhnya, sebenarnya ada Kebun Binatang Manusia (Human Zoo) di planet ini. Soal ini saja, saya mengagumi WFTPOTA sebagai sebuah film yang memuat pesan ‘jeru’ atas beberapa fenomena sosial di negeri ini yang sedang terjadi. Betapa saya (manusia) selama ini bisa jadi tak sadar bahwa binatang yang sesungguhnya itu adalah kita sendiri.
Lewat tokoh Caesar (Andy Serkis), -seorang pemimpin The Apes pascakepemimpinan Koba-, WFTPOTA mengolah sisi-sisi perikemanusiaan yang dipunyai bangsa monyet/The Apes. Serangan membabi buta dari bangsa manusia yang dikapteni Kolonel (Woody Harrelson) berakhir kacau. Caesar yang menang, menunjukkan levelnya sebagai bangsa The Apes dengan melepaskan empat tentara manusia untuk kembali ke markas. Dengan cara itu, Caesar ingin menegaskan pesan damai bahwa bangsa The Apes bukanlah bangsa barbar. Caesar juga meneguhkan bahwa perang yang dilakukannya semata untuk mempertahankan bangsa The Apes. Perang yang dimulai oleh Koba, hanya menyisakan kebencian dan balas dendam. Maka Caesar ingin menghentikannya. Duh sayangnya, manusia justru terus menerus ingin memulai perang.
Introducing WFTPOTA di awal ini memberikan saya gelitik pikir yang dalam tentang sikap-sikap bijaksana yang kadang sudah lerai dari jiwa manusia. Itu sebagian kelucuan manusia yang disindir WFTPOTA. Yang saya tahu, manusia kini tak pernah puas jika tak membabat habis musuh-musuhnya. Lihat saja, partai yang menang atas partai lain dalam pemilu kerap menyingkirkan lawan politiknya, bersih-bersih dari kekuasannya jika ia memerintah. Sindiran itu menohok saya betul sebagai manusia. Seperti kalimat yang saya temui dalam dialog (lupa oleh tokoh siapa); manusia semakin bodoh, monyet semakin cerdas. Statement itu membenang merah kuat dalam film yang disutradarai Matt Reeves itu. Selama durasi 140 menit, WFTPOTA memberikan kesadaran-kesadaran moral baik, dari para binatang untuk kita, para manusia.
war 3Usai perang itu, pesan damai Caesar ternyata tak sampai. Buktinya, seluruh bangsa The Apes ditangkap dan menjadi budak pekerja di kamp bangsa manusia yang disebut tokoh berjulukan Bad Apes (Steve Zhan) sebagai kebun binatang manusia (human zoo). Hahaha, geli sangat dengan sebutan ini, tapi WFTPOTA benar! Di dalam Human Zoo, manusia bersikap seperti binatang pada The Apes; memaksa kerja rodi, tak memberi makan-minum, menyiksa keji dan banyak sikap kebinatangan lainnya yang sebenarnya biasa terlihat baik di film atau di kenyataan terkini. Penjajahan atas Palestina oleh Israel saya kira itu bisa disejajarkan dengan cara barbar sekawanan singa yang menguasai wilayah sekelompok rusa. Mungkin itu baru sebagian kelucuan kecil yang saya temui dalam sebuah human zoo.
Balasan buruk atas sikap damai itu dibalas Caesar dengan terpaksa menyelesaikan persoalan pribadinya -atas kematian anak laki-lakinya- dengan menuju human zoo. Semula ia sendiri, namun tiga bangsa Apes, ditambah satu gadis bisu dari bangsa manusia lalu menyusul Bad Apes -monyet yang lari dari Kebun Binatang California-, membuat perang menjadi perjuangan lima tokoh itu. Caesar tak mengira jika human zoo bukan lawan sebandingnya dengan segala perangkat canggih. Di sana, Caesar yang akhirnya tertangkap melihat bahwa manusia tak lebih mulia dari bangsa The Apes. Setidaknya empat tentara yang pernah dilepaskannya dulu, tak menyisakan emosional apapun atas kebaikan Caesar; mereka tetap tak berbelas kasih dan tak tahu terima kasih. Persis profil manusia modern sekarang. Pula, head to head-nya dengan Kolonel memberitahu Caesar akan kenaifan manusia yang terbelenggu dendam dan benci. war 5
Dari sekian adegan, saya menyimak betul dialog Kolonel-Caesar ini. Diungkap bagaimana sebuah alasan atas tindakan kita sangatlah penting untuk dicari. Entah benar atau tidak, alasan dibutuhkan untuk membuat langkah kita fokus! Kolonel yang dicap bengis itu meyakini tindakannya yang tak berperikebinatangan pada bangsa The Apes sangat manusiawi. Maklum, ia telah kehilangan anaknya yang mati terpaksa didor oleh pistolnya sendiri, (katanya) demi menyelamatkan umat manusia dari serangan virus yang dikuatirkan akan mengancam tergerusnya riwayat umat manusia karena digeser oleh karakter kebinatangan. Untuk sebuah alasan, Kolonel benar meski tak bisa dibenarkan. Bagaimana pun alasan baik, tindakan baik, akibat baik, manfaat baik, lebih di muka daripada sebaliknya. Pada Caesar, Kolonel sempat mengingatkan agar Caesar tak melakukan sesuatu karena alasan yang terlalu pribadi sebab itu mengaburkan nilai perjuangan untuk sesama. Caesar tersinggung, kemarahannya terlecut dan ingin membalas dendam; naluri manusia yang umum.
Sebagai film segala umur untuk 13 tahun ke atas, dialog yang cukup panjang di adegan ini saya rasa perlu pendampingan orang tua. Bukan materinya yang dewasa, namun pemaknaan secara filosofisnya yang sangat dalam membutuhkan kebijaksanaan orang yang lebih paham untuk menjelaskan pesan moralnya pada anak-anak di bawah 13 tahun yang terlihat banyak duduk di barisan penonton. Di sisi ini, saya menyenangi cara Hollywood yang selalu tak membuat tokoh antagonis kelam hitam benar macam tokoh sinetron yang jahat sejak muncul sampai mati. Sebaliknya, tokoh protagonis pun tak tabu disertai sisi buruknya sebagai perimbangan sisi kemanusiaan yang mustahil benar-benar bersih, suci, sempurna macam Nabi, pastor, ustad atau pendeta di rumah-rumah ibadah. Yang membutuhkan tontonan keluarga tak sekadar mencari senang, saya menyarankan, pilihlah ini. Benar untuk 13 tahun ke atas tapi pesannya untuk 17 hingga 71 ke atas cukup tajam. Ending-nya happy pula, cocok untuk meneguhkan pada anak bahwa kebajikan selalu menemui kebahagiaan.war 7
Sebagai penggambaran human zoo, WFTPOTA mengajak penonton berotokritik bahwa jangan-jangan manusia kini memang hidup dalam sebuah kebun binatang juga yang lebih liar dan sinis. Sebagai penguasa dunia, manusia bergerak mundur karena mereka makin mirip dengan perilaku binatang yang dianggap tak berderajat tinggi. Kelucuan terbesar lain yang disiratkan dalam adegan menjelang ending adalah, betapa manusia seringkali mengklaim atas susah payah orang lain, menjiplak karya orang lain, mencuri ide kreatif orang lain, dan perilaku licik-licik lainnya. Usai Caesar menuntaskan perangnya dengan kemenangan bangsa Apes, bangsa manusia yang lain yang baru datang tanpa susah payah berjuang, justru bertempik sorak atas kemenangan semu yang diklaim atau diaku-aku itu. Adegan ini menunjukkan bahwa bangsa The Apes lebih baik daripada manusia yang iri akan kecerdasan dan takut akan kekuasaan para binatang.
Meski bukan film religius, tapi WFTPOTA punya muatan spiritual yang halus. Kekuatan Tuhan lagi-lagi dimunculkan Hollywood dengan indah dalam film-filmnya. Seperti hukum Tuhan (alam) yang berlaku di kitab suci mana pun, setiap makhluk hidup tak akan kuasa melawan kekuatan yang Mahadashsyat. Sesaat setelah sorak sorai kegeeran yang keliru itu, sebuah bencana badai dari gunung salju melumat sekawanan bangsa manusia yang datang dengan egonya. Sebaliknya perilaku alamiah bangsa The Apes sebagai binatang, menyelamatkan mereka dari bencana alam itu. Mereka lolos dari maut karena memanjat pohon pinus hingga naik tinggi dan berpegangan. Adegan ini menunjukkan bahwa lagi-lagi kesombongan manusia ditepis Tuhan jua. Hanya Tuhan memang yang digdaya membuat kebun binatang manusia ini luluh lantak jika Ia berkehendak.war 6
Sambil memberi review pada dua anak saya Afghan-Vatik tentang muatan moralnya, saya pun merenung. Siapa kira-kira makhluk hidup yang dikehendaki Tuhan sebagai penghuni akhir planet ini? Saya kira manusia mulai harus berpikir apakah memang kita yang mewarisi bumi ini di masa habisnya zaman? Jika dulu sebelum Adam dan Hawa, para pakar sejarah meyakini binatang-binatang itulah yang lebih dulu menikmati bumi ini dengan tenang mendahului bangsa manusia, maka alangkah naifnya, sombongnya, lucunya manusia jika tak punya sikap-sikap perikebinatangan pada binatang. Jangan-jangan kita (manusia) sekarang justru sedang ditangisi para binatang itu karena menjelma jadi ancaman terbesar hidup mereka yang tak lagi aman. Look, setidaknya akui bahwa manusialah yang onar membuat onak; hutan menipis, pasokan bahan pangan berkurang, daur ulang terganggu, polusi limbah di darat dan laut di ambang batas, hingga rasa belas kasih yang kikis dan sejumlah rasa-rasa perikemanusiaan lain yang gerimpis sebagai tanda derajat manusia berangsur terbalik tak lebih baik dari binatang.
O bisa jadi betapa lucunya kita dalam Kebun Binatang Manusia daripada para binatang di kebun binatang yang sesungguhnya. WFTPOTA menampar sisi kesadaran itu. How about you, Animal, ups… Guys? (resensi film WAR FOR THE PLANET OF THE APES oleh Heti Palestina Yunani/foto: net/editor: Heti Palestina Yunani)