Lima Simbol Kearifan dalam Imlek

imlek 2 hong 1Nuansa merah datang lagi. Apalagi kalau bukan karena datangnya Tahun Baru Imlek. Setiap tahun, Imlek jatuh pada tanggal berbeda. Hanya saja biasanya antara 21 Januari sampai 20 Februari. Tahun 2017 ini, menurut penanggalan Tionghoa, Imlek 2568 yang menandai dimulainya Tahun Ayam datang di hari Sabtu, 28 Januari 2017.

Biasanya Imlek ditandai oleh titik balik matahari musim dingin di bulan ke 11 dalam kalender Tionghoa. Jika ditelusuri asal muasalnya, Imlek pada dasarnya merupakan perayaan menyambut musim semi di China. Saat itu semua orang bersuka cita karena musim dingin segera berlalu, dan musim tanam segera tiba.

Perayaan ini kemudian berasimilasi dengan tradisi agama Buddha. Di malam Imlek, keluarga Tinghoa bisanya merayakannya dengan makan malam bersama. Sebelumnya mereka membersihkan rumah untuk menyapu bersih ‘kemalangan’ tahun lalu dan menyambut ‘nasib baik’ di tahun yang baru.

Selain itu perayaan Imlek tidak lepas dengan pemberian angpao atau amplop merah. Angpao biasanya diberikan oleh mereka yang sudah menikah kepada yang masih belum menikah. Siap-siap kebagian ya?

Di Indonesia, Sejak itu masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia baru mendapatkan kebebasan merayakan Imlek pada 2000. Itu terjadi ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Baru dengan Keppres No 19/2002, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional yang berlaku sejak 2003. imlek 3 hong 2

Selain di Indonesia, Imlek juga hari libur nasional di Brunei Darussalam, Filipina, Korea, Malaysia, Mauritius, Singapura, Tiongkok, Thailand dan Vietnam. Di negera-negara itu, Imlek menjadi momen bagi etnis Tionghoa untuk mengungkapkan baktinya kepada leluhur.

Makanya pada hari-hari menjelang dan sesudah Imlek, ada ritual khusus. Mulai memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), berziarah dan membersihkan kuburan leluhur di hari Ceng Beng, dan mengucap syukur.

Sembahyang dilakukan di vihara, kelenteng di rumah anggota keluarga yang memelihara lingwei leluhur. Bisa juga di rumah abu tempat lingwei leluhur dititipkan. Menjelang perayaan Imlek, lewat foto-foto yang saya sajikan, ada beberapa simbol-simbol kearifan dalam Imlek yang bisa dipahami lagi.

  1. Naga Tiongkok

imlek 1 Naga Tiongkok adalah figur kebaikan yang melambangkan kejantanan dan kesuburan (yang). Binatang hybrid mitologis ini sesungguhnya adalah lambang keberagaman yang melahirkan suatu harmoni. Lambang kejayaan atau kemakmuran karena persatuan berbagai unsur yang ada. Sebab itu naga (Long) dirancang berdasarkan gabungan anggota badan bermacam-macam binatang: kepala-unta, mata-kelinci, tanduk-rusa, sisik-ikan, badan-ular, paha harimau, cakar-elang. Bangunan kelenteng umumnya menirukan bangunan istana yang biasanya tiang dan atapnya berhias ukiran naga. Ditempatkan di gerbang sebagai simbol penjaga pintu gerbang seperti di Vihara Tri Dharma Hong Tiek Hian.

  1. Sembahyang Tian Kong (Thian Kung)

imlek 4 hong tiek 1Ini merupakan sembahyang paling penting bagi masyarakat Tionghoa untuk mensyukuri segala berkah yang telah diberikan-Nya. Thian Kung adalah Esa, tidak bersifat Im-Yang atau dualisme (baik-buruk, fana-baka, menghukum-mengganjar dan sebagainya). Saat Imlek, sembayang Thian dilakukan sehari sebelumnya, pada malam menjelang pagi saat detik-detik pergantian tahun (pukul 23.00-01.00). Maknanya adalah pergantian Yin menuju Yang, jam tersebut adalah jam Zi, di mana Zi dianggap permulaan dari pergerakan waktu. Ketika kita membakar kertas sembahyang sebagai suatu persembahan kepada para Buddha, Bodhisattva, Dewa Pelindung, dan makhluk suci lainnya, kita mengharapkan mereka menampakkan diri pribadi mereka untuk menerima persembahan kita itu. Bila hal yang sama dilakukan sebagai persembahan kepada roh-roh leluhur, kita mendoakan mereka supaya mendapatkan kebahagiaan dan kesehatan. Sekali lagi, ini merupakan metode “menggunakan yang palsu untuk melatih yang asli.” Di Vihara Tri Dharma Hong San Koo Tee Jl. Cokro Aminoto Surabaya, umat mulai terlihat melakukan sembahyang menjelang Imlek.

  1. Sembahyang di altar Dewa-Dewi

imlek 6 hong tiek 3Dilakukan setelah sembahyang Thian Kung. Jika Thian Kong adalah Tuhan Yang Maha Esa sebagai penyelenggara tertinggi di jagat raya, Dewa-Dewi adalah perwakilan yang masih bersifat Im-Yang (dualisme), yang dipercaya akan mengabulkan atau menghukum sesuai dengan perbuatan kita. Misalnya, Dewi Kwan Im Tangan Seribu – Mata Seribu – Kepala Seribu. Dewi Kwan Im selalu membawa botol Amertha atau wadah suci berisi Embun Welas Asih yang berkhasiat menyucikan segala kotoran (dosa) dan menyembuhkan. Mengendarai ikan tombro yaitu lambang keteguhan menghadapi tantangan (seperti ikan tombro berenang melawan arus meloncati jeram) jadi seruan agar umat teguh tekadnya dan kuat menghadapi tantangan di dunia dengan jalan yang benar. Duduk di atas bunga teratai lambang kesucian yang selalu bersih, biarpun tumbuh di atas lumpur, agar umat meneladani makna yang tersirat dalam kehidupannya. Sembahyang ini sempat saya ambil ketika dilakukan di Vihara Tri Dharma Hong Tiek Hian Surabaya.

  1. Potehi

imlek 5 hong tiek 2Pertunjukan Wayang Potehi di perayaan Imlek memang tak sepopular barongsai. Namun pertunjukan ini sendiri sebenarnya tidak membutuhkan banyak penonton, karena fungsinya lebih sebagai sarana ritual untuk memuja dewa dan menghibur roh para leluhur. Potehi berarti boneka/wayang kantong, berasal dari kata poo berarti kain, tay (kantong), hie (wayang). Cara memainkannya cukup dengan memasukkan jari tangan ke dalam kantong kain dan menggerakkannya sesuai dengan jalannya cerita. Klenteng Hong Tik Hian Surabaya sangat terkenal karena mampu melestarikan tradisi Wayang Potehi, yang konon sudah masuk ke Indonesia pada abad ke 16. Setiap hari, 4 kali nonstop ada pergelaran Wayang Potehi. Dulu, ketika tradisi budaya Tionghoa dibredel pada masa Orde Baru, klenten ini bisa menjaga Wayang Potehi tetap eksis. Uniknya, dalang-dalang Potehi di masa kini semuanya orang Jawa seperti Sukar Mudjono atau Eddy Sutrisno. “Kami setia memainkan Wayang Potehi karena sejak kecil sudah main di lingkungan kelenteng,” kata Sukar.

  1. Yin dan Yang

Yin dan Yang biasanya dipakai untuk mendeskripsikan sifat yang saling berhubungan, berlawanan dan saling mengisi satu sama lain. Yin lebih di deskripsikan kepada sisi hitam dan Yang adalah sisi putih, sebuah sisi warna yang berlawanan. Titik kecil hitam dan putih yang berada pada Yin dan Yang menggambarkan sisi yang saling mengisi satu dan lainnya. (teks dan foto: Roosekampoong a.k.a Deonisya Ruthy/referensi: Chinese Symbolism&Art Motifs – C.A.S. Williams, A Dictionary of Chinese Symbols – Wolfram Eberhard, Su Xiu Tu An – 苏绣图案 – Best of Embroidery Pattern – ISBN 7-5322-0334-4, Rianto Sutarman god-story.blogspot.com, Wikipedia, Jito Ap Jito/editor: Heti Palestina Yunani)