LIFE Selamatkan Kain Tradisional Lasem

life-1Sebuah pameran karya produk, hasil kolaborasi antara desainer-arsitek-antropolog dengan para perajin dan seniman lokal di Lasem, Rembang dipersembahkan dalam event bertajuk LIFE (Lasem Interactive Festival). Pameran ini merupakan puncak program IKKON (Inovatif, Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara) dari BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia) yang telah berlangsung hampir 4 bulan di lapangan.

LIFE sekaligus menjadi sebuah wujud persembahan rasa terima kasih kepada segenap warga Lasem yang selama ini telah sangat membantu dan menginspirasi. Berdasarkan hasil riset singkat di Lasem, tim merumuskan visi ‘Preservasi-Regenerasi- Stimulasi’ sebagai landasan penciptaan kreasi produk yang diimplementasikan melalui tahapan teknis-uji coba-eksekusi-evaluasi.

LIFE yang digelar di Omah Londo Jl Raya Lasem 26, Rembang selama 29 dan 30 Oktober lalu itu tidak hanya mempresentasikan produk inovatif hasil kolaborasi. Dalam event itu, LIFE juga menghadirkan kreativitas para komunitas melalui pertunjukan seni budaya di mana keseluruhannya menyuarakan tentang Lasem.

Dijelaskan Sarah Monica, Ketua Tim IKKON Rembang, IKKON merupakan program live in designer yang diluncurkan BEKRAF) di 5 kota di Indonesia secara serentak (Sawahlunto, Lampung, Brebes, Rembang, dan Ngada-Flores). Selain para desainer, tim yang tergabung di dalam program IKKON juga melibatkan arsitek, fotografer, videografer, dan antropolog.

life-2Fokus programnya adalah kerja kolaborasi antara tim IKKON dengan para perajin lokal untuk mengembangkan potensi kain tradisional dari mulai kreasi motif, bentuk desain, dan penggunaan yang lebih variatif demi meningkatkan roda ekonomi kreatif di wilayah setempat. Program berjalan di daerah mulai dari Juli hingga Oktober.

Di bulan Oktober lalu, seluruh tim menyelenggarakan pameran produk hasil kolaborasi dengan potensi kreatif lokal sebagai penutup dari program. IKKON Rembang dengan fokus pengembangan pada batik Lasem telah berkegiatan selama hampir 4 bulan di kota klasik nan bersejarah ini.

Begitu banyak potensi ekonomi kreatif yang tidak hanya berpusat di ranah batik, melainkan juga di bidang kuningan, kayu, kuliner, bahkan di seni tradisi yang dapat dikembangkan. Berbicara tentang Lasem, tidak akan pernah terlepas dari ikatan historis dan kultur pluralistik yang keluhuran nilai- nilainya telah mengakar sejak ratusan tahun silam.

Di masa lampau, Lasem pernah menjadi pusat peradaban maritim yang menjadi bagian dari kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, antara lain Majapahit-Pajang-Mataram Islam. Di Lasem pula agama dan kepercayaan masih memiliki situs dan ritualnya masing-masing.

“Atas kekayaan warisan historis dan tradisi Lasem tersebut, tim IKKON Rembang menyelenggarakan pameran yang berupaya untuk memanifestasikan nilai-nilai dan spirit Lasem melalui penciptaan produk, penataan suasana, dan pertunjukkan seni di dalamnya,” terang Sarah.

lasem-2LIFE inilah yang menjadi gong penutup program IKKON Rembang di mana visi preservasi-regenerasistimulasi selama ini menjadi landasannya. Bila berdasarkan makna akronimnya, kata LIFE digunakan sebagai tema pameran yang menggabungkan unsur ruang – benda (produk) – manusia (pengunjung-penyelenggara-pengisi acara) dalam sebuah arena aktivitas interaktif di mana semuanya bisa lebur.

Sedangkan bila ditinjau dari makna metafornya, LIFE ini menjadi kunci spirit yang tersimpan dalam jiwa kota dan jiwa para penghuninya. Artinya, meski Lasem sekarang berjalan di arus waktu kekinian, akan tetapi spirit masa lampaunya tetap hidup dan menghidupi kota ini dalam segala wujud.

LIFE menjadi pameran karya yang menyuarakan tentang Lasem dalam berbagai aspek, antara lain produk kolaborasi, fotografi, kuliner, aktivitas keseharian, hingga pertunjukan seni.

Tujuannya LIFE setidaknya ada 5. 1. Mengembangkan potensi ekonomi kreatif di bidang batik dan non batik; 2. Memajukan pariwisata melalui produk-produk hospitality; 3. Meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap warisan tradisi batik; 4. Mendorong minat masyarakat untuk pengembangan daerah wisata pusaka sejarah; 5. Menjalin sinergi positif antara pemerintah daerah, pembisnis, dan pelaku kreatif lokal; 6. Membuka ruang ekspresi kreatif komunitas-komunitas seni dan budaya di Lasem. (naskah dan foto: ril/editor: Heti Palestina Yunani)