Lidah Dijawil Kecombrang

Ngikut Didi Domba (Doyan Mbadog) Berburu Kuliner Yogya (5)

ngikut-didi-domba-15Lapar di menit-menit terakhir Yogyakarta membuat Didi Domba mikir, enaknya makan apa ya yang bisa meninggalkan kesan melekat di lidah. Sambil menyusuri kawasan Kota Baru, mata jelalatan ini melihat sebuah kafe yang tampaknya ramai sekali.

Saking ramainya sampai tempat parkir penuh. Batal. Bergeser sedikit ke sebuah kafe mahasiswa yang katanya mie mangkok kriuknya enak. Saat memasuki kafe, Didi Domba sempat memilih tempat duduk sampai tiga kali.

Pertama, karena tidak ada colokan. Kedua, tidak ada sandaran kursi. Ketiga, ada colokan dan sandaran kursi, tapi tidak ada waiter atau waitress yang melayani. Baiklah, pindah lagi ke tempat makan lain. Untung di sebelahnya ada sebuah restoran yang tampaknya enak, Kecombrang Resto.

Yang bikin tertarik adalah tagline-nya, “Njawil Lidahmu”, yang terkesan unik. Kecombrang ini adalah bunga berwarna merah yang rasanya semriwing, antara asem dan pedas segar, jarang digunakan pada masakan Jawa.

ngikut-didi-domba-16Adanya di masakan Sunda yang biasanya dikenal dengan nama honje, dan sering digunakan sebagai bumbu pada masakan Bali, dan Sumatra. Menu andalan restoran ini adalah Nasi Ayam Suwir Kecombrang, Nasi Ayam Pedas Kecombrang, atau Nasi Kakap Saus Kecombrang.

Terus ada Nasi Doreng Kecombrang dan masakan dengan bumbu kecombrang lainnya. Didi Domba lagi baik sama teman-teman yang mungkin belum akrab lidahnya dengan rasa kecombrang, jadi pesan juga Sate Maranggi khas Cirebon dan ikan dori saus cabe ijo.

Pas dirasakan, huwwiiikkk endhes surendhes!!! Rasa segar kecombrang benar-benar njawil lidahku. Nasi ayam suwir kecombrangnya pedas, ayam pedas bumbu kecombrangnya juga enak. Cuma yang mungkin rada aneh itu Nasi Goreng Kecombrang.

Nasi gorengnya khas Yogya yang pedas cenderung manis, jadi agak njegleg pas dikombinasikan dengan kecombrang. Tapi enak, beneran.  Masakan kecombrangnya rata-rata enak, tapi masakan lainnya sih so-so. Jadi Didi Domba kasih bintang empat untuk resto ini.

Yogya memang berhati nyam-nyam. Baik makanan tradisional Yogya dengan resep nenek moyang turun temurun, maupun makanan dengan perpaduan antar daerah alias fusi yang menghasilkan rasa unik, semua ada di sini. Nggak cukup waktu seminggu untuk menjelajahi kuliner di sini, kecuali siap-siap saja kalau wetenge mbledhoooosss. (naskah dan foto: Didi Domba/Heti Palestina Yunani/habis)