Kota-kota dalam Pusaran Kenangan by Budi Saputra

  • Batam, 2009: Hari-hari yang Berpeluh

Bermula dari sebuah keputusan: aku mesti merantau. Maka, langkah itu telah mengantarkanku  ke kota yang berada di sisi Selat Malaka.  Dalam kepalaku, Batam memang kota yang sedang berkembang, kota yang disesaki oleh tempat hiburan dan pabrik-pabrik industri.

Begitulah selintas yang kudengar dari orang-orang yang pernah malang-melintang di kota ini. Sebuah udara lain yang berhembus, dan warna kota yang kunikmati saat menuju Batu Aji, seolah menyambutku hangat. Seorang karib yang kutemui pun dengan senang hati  menerangkan nama-nama tempat kepadaku. Dalam hati aku berkata, meski masih asing, seiring berjalan waktu, perlahan aku akan mengenal kota ini.

Aku pun perlahan paham setelah mendapatkan pekerjaan di salah satu pabrik di kawasan Batam Centre. Kota terbesar ketiga di wilayah Sumatra ini memang membuatku terkesima. Pencampuran berbagai etnis dan latar belakang berbeda—Jawa, Melayu, Minang, Batak, Banjar, Bugis, Thiongha—maupun etnis lainnya begitu menyatu di kota yang mula tumbuh sejak 1970-an ini. Tetapi, begitulah. Hanya empat bulan. Hanya empat bulan aku melewati hari-hari yang berpeluh di kota ini.

“Apa kau kembali ke Padang?” tanya saudaraku, begitu tahu kontrakku tak diperpanjang oleh pihak pabrik.  Aku menganggukkan kepala bagai menyesali kekalahan. Dengan berat hati, kukemasilah barang-barang saat aku mulai mencintai pekerjaan sebagai buruh, mencintai negeri pagi yang ranum cahaya, pagi yang berlari dengan segala kesibukan manusia pagi dan  kicau berbagai burung yang beterbangan di udara.

Aku tentu tak melupakan hari-hari di pabrik yang kubayangkan bagai daun-daun berguguran ke tanah itu. Di pabrik tempat aku bekerja, toleransi itu sungguh kami rawat bersama. Ketika itu, saat Natal tiba, bagi siapa yang  tak merayakannya dengan senang hati menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh teman yang merayakannya. Meskipun tenaga buruh berkurang, pekerjaan mesti tetap dilakukan dengan cekatan dalam pengawasan kamera CCTV di tiap sudut pabrik.

Begitu pula perihal kantin yang biasa aku kunjungi tiap jam istirahat tiba. Kantin yang terletak di tengah kawasan pabrik itu, aku ingat betul, perangai seorang temanku yang pergi begitu saja tanpa kabar, dan tak membayar bon utang yang menunggak. Aku membatin, semoga dia saja yang berbuat seperti itu. Kasihan si pemilik kantin jika dibohongi para buruh yang habis kontrak dan meninggalkan bon utang yang jumlahnya tak sedikit.

Ya, begitulah. Sebelum aku benar-benar meninggalkan segala kenangan di kota ini, aku masih sempat menyusuri jembatang Barelang yang menghubungkan pulau-pulau: Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Ada enam jembatan yang diprakasai oleh Presiden Habibie, setelah aku telisik ternyata  masing-masing jembatan juga memiliki nama. Jembatan pertama Jembatan Tengku Fisabilillah, sedangkan jembatan keenam,  Jembatan Raja Kecil. Betapa inginnya aku berkunjung ke Pulau Galang untuk menyaksikan Kampung Vietnam yang penuh nilai sejarah itu. Kampung yang bermula tahun 1979, saat ratusan ribu warga Vietnam bereksodus akibat perang saudara, kampung yang menyimpan jejak pengungsian memilukan. Berbagai benda peninggalan bisa ditemui di sini, mulai dari barak pengungsian, kuburan, gereja, pagoda, rumah sakit, hingga seribu wajah kenangan para pengungsi.

  • Sawahlunto, 2009: Kota Tambang dan Mak Itam

Sepulang dari kota di sisi Selat Malaka, kota Sawahlunto tiba-tiba menyekapku dalam kesepian. Sebuah rumah kotrakan di tepi bukit, betapa terasing bagai terpenjara. Apabila ayah pergi bekerja ke stasiun, tinggallah aku sendiri, kesepian yang berayun-ayun ditemani bunyi berbagai hewan di belakang rumah. Hanya ruang sepi tanpa televisi, ruang yang telah lama ditinggal. Tapi, aku tak melulu selalu di rumah. Aku sering ikut ayah menuju stasiun. Di stasiun, aku bisa menikmati sekeliling kota yang dikelilingi tiga kabupaten ini. Berbagai peninggalan hegemoni kolonial seperti Gudang Ransum, Lubang Tambang, dan Silo masih tampak berdiri kokoh di antara rumah-rumah penduduk yang bertumbuhan.

Selain stasiun, aku juga tak melewatkan menikmati Mak Itam,  lokomotif uap E-1060 buatan Hartmann Chemnitz di Esslingen, Jerman, tahun 1965. Hampir setiap hari aku menyaksikan Mak Itam terparkir sendirian bagai menatap abad yang kian menua di hadapannya. Setiap akhir pekan, stasuin tepi bukit dijejali oleh banyak wisatawan yang ingin merasakan nikmatnya perjalanan saat menaiki Mak Itam.

Kata ayahku, Mak Itam dipulangkan ke Sawahlunto dari Ambarawa selama sepuluh hari perjalanan. Dengan rute menuju Muara Kalaban, tentu Mak Itam melewati Lubang Kalam, terowongan jalur kereta api yang menembus kaki sebuah bukit dengan panjang sekitar 835 meter. Namun, begitulah, selama aku di sini tak pernah merasakan melewati Lubang Kalam dengan menaiki Mak Itam. Hanya ayah yang pernah mengajakku di suatu pagi. Saat itu, ayah dan rekan kerjanya tengah memperbaiki bantalan rel yang berada dalam Lubang Kalam. Kulihat suasana di dalamnya sungguh hanya hitam yang memanjang menyimpan cerita orang-orang rantai. Berbekal sebuah senter, aku juga ikut memperhatikan orang-orang bekerja. Sesekali kudengar sorak seseorang menggema kepada rekannya.

Ya, aku tiba-tiba disekap kesepian di sini. Setelah menikmati stasiun dan kota, hanyalah malam-malam yang kulalui begitu sepi berdua ayah. Tak ada teman sepantaran, tak ada hiburan. Malam di sini  benar-benar bagai di penjara.  Kubayangkan orang-orang rantai. Orang-orang yang bereksodus dari penjara ke penjara. Dari Batavia, mereka dikirim petinggi Belanda untuk bekerja dan dibayar murah di tambang  batubara Ombilin pada kurun 1892-1938, dengan leher, tangan, dan kaki dirantai, mirip para tawanan pekerja paksa Inggris yang membangun jalan-jalan kereta api dan membuka tambang yang bertebaran di Australia.

  • Palembang, 2011: Kota yang Dibelah Air

Pertengahan Juli 2011 mula aku sodorkan kepala dalam perjalanan melelahkan pada laju bus. Ketika kupijakkan langkah di Palembang, ternyata kota ini adalah kota yang dibelah air, kota dengan laju gedung-gedung yang berayun di atas Sungai Musi yang menjalar bagai ular. Sebuah pertemuan penyair, dengan spanduk-spanduk terpampang di jalan-jalan, maka kuamini jualah. Seperti biasa, setiap ada pertemuan-pertemuan penyair selalu saja kelakar-kelakar itu pecah di berbagai sudut. Sebuah ruangan megah dengan sambutan tarian Melayu, diikuti pembacaan puisi oleh seorang Thailand, seorang Brunei, seorang Singapura, seorang Malaysia. Terakhir, bagaimana Sutardji membaca puisi sambil meliuk-liukkan tubuhnya seolah sedang mabuk. Betapa, sungguh sebuah pembukaan yang begitu sempurna.

Menyusuri jalan-jalan kota dengan segala sejarahnya, begitu pula jika sebuah kota menyimpan sungai-sungai dengan alir yang tak pernah habis untuk diceritakan, sebuah pertemuan sastra lengkaplah sudah. Lengkaplah sudah, selain kelakar-kelakar dan sebuah seminar yang begitu serius direncanakan. Ketika melintasi Sungai Musi dengan jembatan Amperanya, dan mengunjungi Kampung Kapitan, inilah bagian yang paling menarik bagiku. Mengunjungi Kampung Kapitan di suatu siang yang terik serasa berjalan di sebuah pecinan Tionghoa Padang yang juga berada di tepi air, di tepi Batang Arau. Rumah Kapitan, meja sembahyang, hio, hingga patung Toa Pe Kong Sie, membuat para penyair terhibur di siang itu.

“Di sini cuaca lumayan panas, ya,” seloroh Phaosan, penyair Thailand padaku setelah mengitari Rumah Kapitan.

Hmm,  aku mengamininya dan sejenak memejamkan mata. “Tak ada bedanya dengan kota kelahiranku, Bang. Di Patani bagaimana?” tanyaku sambil menyaksikan orang-orang berlalu-lalang atau sekadar mengabadikan kenangan dengan kamera masing-masing.

Ia lalu menceritakan negerinya, tidak sekadar perihal cuaca, tapi juga perihal negerinya yang mengalami pertikaian berkepanjangan.

“Doakan ya, Dik. Semoga negeriku kembali damai,” ucap alumni UGM ini menjelang kami dan penyair lainnya meninggalkan Rumah Kapitan untuk menuju jembatan Ampera.

Begitu sampai di jembatan Ampera, hanyalah pemandangan yang membuatku sejenak terkesima. Jembatan  yang menghubungkan Seberang Ulu dengan Seberang Hilir ini, pikirku,  sungguh menakjubkan.. Sebagaimana Jembatan Barelang atau Jembatan Suramadu, kota-kota pun terhubung, tumbuh dan menunjukkan eksistensinya dalam hiruk zaman. Tapi, Jembatan Ampera tentu berbeda. Selain tiga kali berganti warna, tentu bagian tengahnya pernah diangkat agar kapal-kapal bisa lewat dengan mudah. Saat kusaksikan kapal-kapal di atas permukaan Sungai Musi hanyalah masa silam yang berlari. Tiap sebentar kusaksikan menyeberang, di kesempatan lain kulihat berlalu menyusuri alir yang seolah tak pernah mati.

  • Ubud, 2012: Desa Festival dan Berbagai Primordial

Ubud memang bukan desa yang dilingkari sungai-sungai besar seperti Palembang dan Jambi, melainkan sebuah desa yang dikenalkan melalui kegitan keagamaan dan sebuah festival. Memang begitu, itu semua mengundang daya tarik bagi para turis yang silih berganti berdatangan. Hadir sebagai peserta di sebuah festival penulis, aku memasuki Ubud dengan kepala yang dipenuhi pemandangan yang beragam. Sawah-sawah yang membentang luas, rumah-rumah penduduk, Ngaben, foto perempuan Bali lama, maupun aroma canang yang kerap menyeruak di pagi hari.

Awal mula aku memasuki kamar penginapan yang terletak di pinggir sawah itu, aku disambut dengan baik setelah menempuh perjalanan melelahkan dari Soekarno-Hatta.

“Mas, di sini kamarnya,” kata penjaga penginapan. Aku mengucapkan terima kasih padanya. Tapi, sebuah kamar, kamar dengan suasana sepi itu, membuatku agak terkejut. Ada sebuah lukisan besar bergambar perempuan di dinding. Perempuan itu seperti memelototkan matanya padaku. Aku jadi merinding seolah tak sendirian di kamar. Begitu aku periksa kamar sebelah, ternyata Nidu, temanku dari Serang, telah tiba duluan dan beristirahat.

“Aku pindah saja ke sini, boleh kan?” tanyaku.

“Oh, silakan. Memangnya di sebelah ada apa? Ha-ha-ha … Karena lukisan itu, ya?”  Nidu pun menertawakanku. Ah, begitulah warna perjalanan. Dalam keadaan letih, aku ingin bersergera istirahat  dan menyiapkan diri untuk acara makam malam yang digelar panitia.

***

Di hari berikutnya aku kian larut dengan suasana Ubud yang bagaikan berada di negeri berbagai macam primordial: ada orang Eropa, Jepang, Korea, dan sebagainya yang memenuhi hampir tiap jengkal jalanan Ubud. Sebagaimana pula peserta festival juga berasal dari berbagai negara yang hanya membuatku bingung sendiri, harus dengan apa aku bisa berkomukasi bebas dengan mereka, seperti di Neka Museum, saat aku berjumpa dengan Alexander dari Austria. Turut pula, Sunlie dan Nidu larut dengan perbincangan Alexander yang bicara perihal kesukaannya mengembara ke Bali. Dan, saat ia memberikan secarik kertas pada kami bertiga, kami melihat fotonya bersama umat Islam, Budha, Nasrani, dan Hindu. Oh, apakah ia menyukai perjalanan spiritual di tiap-tiap negara yang disinggahinya? Aku tak mengerti betul apa yang ia bicarakan dengan Sunlie. Begitu ia bertanya pada Nidu, maka Nidu menjawab, “I not can speak English.” Ia pun lalu tersenyum dan memberi isyarat dengan tangan: dari hati ke hati. Betapa, aku begitu  menyukai cara Alexander berkomunikasi dengan kami.

Lain pula di Monkey Forest. Aku, Benazir, Fauzi dan Guntur berangkat dengan motor sewaan saat itu. Kami meluncur bebas tanpa ragu dan khawatir tersesat lantaran petunjuk jalan  amat jelas di tiap simpang yang kami lalui.

“Di sini semuanya monyet, ya?”

“Ya, hati-hati.”

“Yuk beri mereka makan.”

Kami pun mengitari hutan yang dipenuhi monyet itu. Ketika hari telah mendekati senja, betapa sinar matahari perlahan meredup di sela pohon-pohon tinggi menjulang, membuat kami harus bergegas meninggalkan Monkey Forest. Tanpa aku sadari, besok paginya Guntur mengabariku bahwa pihak penginapan minta ganti rugi jok motor yang dirobek oleh monyet-monyet di tempat parkiran Monkey Forest.

“Bud, ternyata jok motor kemarin robek. Apa kau tak menyadari? Pihak penginapan telah minta rugi padaku,” kata Guntur melalui telepon selular.

Oh, aku tak tahu. Dan, sekarang apa telah diganti?”

“Ya, sudah aku ganti.”

Aku tercekat dan hanya tertawa sendiri di penginapan dan berpikir jika ke Monkey Forest lagi aku harus berhari-hati mencari tempat parkir yang aman dari amukan monyet-monyet.

  • Semarang, Mei 2014: Topi Beta dan Penutup Cerita

Pada akhirnya kota-kota yang telah kulalui selalu saja menjadi gumpal kenangan yang tak lekang dalam ingatan sebagaimana Batam, Sawahlunto, Palembang, Denpasar, maupun kota-kota lain yang hanya dilintasi untuk sekadar transit. Sejenak kuberpikir, menyambangi berbagai kota memang tak ada yang lebih berarti selain kekalnya kenangan. Laju gedung-gedung, sungai-sungai, aneka kuliner, atau pun cara penduduk setempat mengalirkan hidup dengan cara yang telah turun temurun dari nenek moyang mereka.

Kemudian Semarang, sungguh kota yang amat berkesan bagiku. Hadir sebagai peserta Pekan Olahraga Mahasiswa, aku disuguhi tarian khas Jawa Tengah di sebuah acara pembukaan yang begitu meriah. Turut hadir di sana peserta dari berbagai pelosok Nusantara dengan kostum kontingen dan lambang kampus mereka masing-masing. Menjadi satu hati. Menjadi satu tujuan untuk menjalin persatuan.

“Hei, itu beta,” kata salah seorang temanku seraya menunjuk ke arah peserta dari NTT yang memakai topi khas daerah mereka.

Aku pun terkesiap dan segera melayangkan pandang ke arah kerumunan kontingen yang ternyata satu pernginapan dengan kami. Betapa sebuah topi itu, sebuah hal yang sungguh menarik perhatian banyak orang saat itu. Sampai-sampai, Gubernur Jawa Tengah yang membuka acara pun ikut memakai topi itu di tribun.

Ya ,begitulah Semarang memberikan segenap kisah bagi orang-orang yang datang menyambanginya. Setelah perjalanan terakhir ke Lawang Sewu di akhir pekan penuh sesak, aku tak habisnya memaknai sekujur perjalanan yang melilit sungai usiaku.

Padang, 2014

(naskah: Budi Saputra(*)/ilustrasi: Yoes Wibowo/editor: Heti Palestina Yunani)

(*)Budi Saputra lahir di Padang 20 April 1990, alumnus STKIP PGRI Sumatera Barat pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tulisan cerpen, puisi, esai, feature, dan resensinya dimuat di Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Haluan Riau, Majalah Sabili, Jurnal Bogor, Lampung Post, Suara Pembaruan, Tabloid Kampus Medika, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Jurnal Nasional, Indo Pos, Kompas. Dia pernah undang pada Ubud Writers and Readers Festival 2012 di Bali, Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) 5 di Palembang (2011), dan PPN 6  di Jambi (2012). Puisinya pernah menjadi pemenang Puisi Terpuji dalam Lomba Cipta Puisi Nasional tentang Kota Padang (2011) yang diselenggarakan Ikatan Alumni Don Bosco (IADB); juara Harapan 3 Lomba Cipta Puisi Nasional Aruh Sastra Kalimantan Selatan (2012); nominator Komunitas Sastra Indonesia (KSI Award 2012). Sementara cerpennya pernah meraih Juara 1 Lomba Cerpen Antarmahasiswa HUT ke-44 Harian Singgalang (2013); nominator (2012) dan Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Tingkat Mahasiswa Nasional yang diselenggarakan LPM Obsesi STAIN Purwokerto tahun 2013 dan 2014; juara dua kategori C LMCR Rohto-Metholatum 2013; pemenang unggulan Lomba Menulis Cerpen Hutan dan Lingkungan (LMCHL Perhutani Green Pen Award 2014).