Korsakov by Wina Bojonegoro

Kepada Sahabatku: Jay

Seperti pernah kukatakan padamu, hari inilah aku melakukan pencatatan sejarah hidupku. Aku akan pergi jauh menemuinya. Sebuah koper berukuran 30 liter sudah tersusun rapi bersama daypack yang berisi barang-barang kecil untuk kebutuhan selama perjalanan jauhku. Aku akan melintasi beberapa benua, beberapa lautan, dan akan menyeberangi beberapa negara. Bahkan, salah satu penerbanganku nanti akan menidurkanku pada sebuah hotel transit berbintang empat, di sebuah negeri yang konon paling beruntung di dunia, karena memiliki tanaman langka yang hanya berbunga selama dua hari saja dalam satu tahun. Tanaman itu berjudul Sakura.

Trip ini juga jauh lebih menegangkan dari ekspedisi Kilimanjaro, karena dalam misi ini terdapat pertarungan hati dan pertaruhan masa depan, yang memakan waktu 12 jam penerbangan, menyinggahi 4 bandara, dan melewatkan semalam di negeri orang untuk sekadar kencing dan atau buang hajat besar.

*

Jay, temanku yang selalu kurindukan,

Aku menata debar: masih sanggupkah seorang laki-laki menjeratku sedemikian rupa? Sering ku katakan padamu bahwa hidup kita ini misterius. Begitu banyak hal terjadi di luar rencana. Itulah yang kukatakan sebagai  keajaiban. Meskipun kau bilang tidak pernah ada kebetulan atau keajaiban di dunia ini, semua hal terjadi karena ada perencanaan, ada titik pencapaian, dan ada kemauan untuk mencapai atau melampauinya. Kau katakan pula bahwa hidup ini dipenuhi hal-hal rasional yang mendasari perilaku dan tata kehidupan sehari hari. Hanya manusia primitif saja yang percaya pada keajaiban. Menurutmu, kebetulan adalah bertemunya dua faktor secara bersamaan: harapan dan kesempatan.

*

Jay, kau sama seperti dia.

Ketika kukatakan padanya bahwa nasib percintaan kami bukanlah sebuah kepastian, dia menolak mentah-mentah. Hidup kita adalah milik kita. Kita sendirilah perencana dan sekaligus pembuat keputusan bagi seluruh hidup kita, katanya. Dan kami pun bersitegang karena itu. Aku percaya pada kemustahilan-kemustahilan yang kemudian menjelma menjadi kenyataan. Tuhan menciptakan semuanya demikian detail dan sempurna. Dan bagi Tuhan, sungguh tak ada satupun hal yang sulit, hanya dengan bersabda  kun fayakun,  maka jadilah kehendak-Nya. Tetapi manusia dengan kemampuan yang terbatas seringkali tak mampu membaca misteri di balik sebuah peristiwa. Sedangkan dia menilai bahwa sebuah peristiwa adalah hasil perbuatan kita sendiri, baik dan buruk itu adalah hasil yang kita petik dari keuletan dan usaha kita sebelumnya.

*

Jay,

Tetapi apapun kesimpulan dari persitegangan itu toh akhirnya aku memutuskan ini,  pergi jauh menemuinya. Kesepakatan kami adalah: cinta mesti diperjuangkan, tidak sekadar ditunggu lalu terjadilah. Januari masih terlalu dingin di kotanya, Korsakov. Tetapi tempo hari dia  sudah meyakinkanku bahwa kami tak akan pernah kedinginan. Dia bilang ada heater di rumahnya yang berhalaman seluas gedung Grahadi, ada house keeper yang akan siap sedia menyiapkan cokelat panas buat kami. Lumbung makanan dan pelukannya akan menghangatkan kami luar-dalam. Menurutku, dingin itu soal persepsi, manusia dibekali banyak kemampuan untuk beradaptasi dengan segala cuaca. Bagiku tak masalah seberapa dingin cuaca di kotanya yang aneh itu, yang konon kehidupannya sungguh monoton, dengan makanan yang hanya keju dan susu, hiburan yang hanya penari telanjang di kelab-kelab malam: kehadiranku bakal menjadi semacam musim semi di tengah gerai salju.

*

Jay sahabatku yang tak pernah bosan pada cerita-ceritaku,

Kumulailah perjalanan mendebarkan ini. Hidupku, masa depanku, sisa usiaku, tergantung pada perjalanan ini. Dan aku tak mampu melukiskan seperti apa gegas dalam diriku ketika  memandangnya dalam jarak tanpa batas.

“Aku tidak bisa ke Indonesia sampai akhir tahun depan,” katanya pada suatu waktu

“What??!!”

“Aku mendapat beasiswa untuk menyelesaikan S-3 di St Petersburg.”

“Bukankah kau akan melamarku di bulan Januari?”

“Aku dalam posisi tidak mungkin menolak ini.”

“Tak bisa ditunda?”

“Kesempatan ini tak akan terulang. Kalau aku membayar sendiri pendidikan itu rupiahnya sekitar tiga ratus juta.”

Kalimat itu  menyayatku! Berarti aku tak lebih berharga dari pada 300 juta! Sementara banyak orang mengatakan cinta itu priceless!! Tidak cukup berhargakah aku untuk diberi kesempatan barang satu minggu meninggalkan negeri beruang merah itu untuk melamarku?

“Maukah kamu datang dan menemaniku sampai saatnya aku masuk kelas di St. Petersburg?”

Oh Tuhan!

Angin surga kah ini?  Setara dengan kalimat berharga lain yang sering kita jumpai dalam film-film drama. “Maukah kau menikah denganku?”

“Setelah itu kita akan buat sebuah pembaruan hidup bagi kita”

Aww!!  Ki-ta?? Pembaruan hidup? Kalimat itu, kalimat tantangan sekaligus hiburan bagi pengembara di padang tandus semacam diriku. Aku bosan dengan takdir yang beberapa tahun ini menggelinding rata bagai jalan Tol Jagorawi. Membosankan!

Yap! Korsakov! Bayangkan Jay,  Korsakov!

*

Pagi buta menyeretku tergopoh-gopoh menuju Bandara Internasional Changi yang super sibuk luar biasa.  Tahukah mereka betapa tak sabarnya sebuah hati yang  sedang berjuang mendapatkan masa depannya?

“Sabar ya, di situ kamu akan menunggu beberapa jam untuk terbang ke Narita. Kamu bisa membuka internet di business lounge, atau membaca kisah Dan Brown yang belum kau selesaikan itu.” Begitu tulisnya melalui Messenger ketika aku tiba di Bandara Changi. Jay, pernahkah ada ketenangan dalam hati yang tergesa-gesa ingin menemui kekasihnya? Tidak juga aku. Dan juga ketika aku harus tidur semalam di Bandara Narita, itulah penyiksaan paling buruk dalam sejarah penantianku. Beberapa kali kutatapi wajahnya di dalam ponselku, dan meyakinkan bahwa tak akan lama lagi, semua berakhir. Semuanya segera berakhir.

Dan begitu aku bertemu dengannya, maka lunaslah segala derita panjang ini seperti kelegaan seorang ibu yang penat selama sembilan bulan membawa air ketuban dan bayi dalam tubuhnya. Kepuasan dan kebahagiaan ibu ketika menatap wajah bayi mungilnya seketika meluruhkan segala derita dan sakit selama itu. Semacam itulah kurasa kelegaanku, kepuasanku, puncak keberhasilanku ketika memandangnya dalam jarak bilangan sentimeter.

Cihuyyy!!

*

Jay, tahu kau bagaimana rasanya bisa memandang sosoknya dalam bentuk nyata?

Di dermaga yang membawaku dengan feri dari Wakkanai, Hokkaido,  membelah Teluk Aniva menuju dermaga Korsakov di mana dia berdiri, dari kejauhan mataku segera dapat mengenalinya, wajah tampan perpaduan dari Dmitry Korsakov dan RA Rahajeng Kusumastuti. Mantel warna abu dan celana hitam membuatnya tampak seperti mafioso  dari negeri kepulauan Sisilia. Dia melambai disertai senyum aristokrat yang diwariskan ibunya. Dadaku serasa hendak meledak oleh lesakan rasa gembira yang membusung secara tiba-tiba. Mendesak, menggembung, membutuhkan aliran untuk meleleh dengan segera, sebelum aku meledak bersama rasa suka cita.

*

Jay, kau pasti tahu bagaimana rasanya…

Aku bahkan tak peduli pada dingin bibirnya yang mencium pipiku bertubi-tubi, bukankah Januari seharusnya memang masih dingin? Dan ingatlah bahwa aku segera menghangatkannya. Sebab dahagaku, rinduku, impianku telah terwujud hari ini. Tak sia-sia kutempuh perjalanan sejauh itu, tak percuma aku menunggu mengurus visa serumit itu. Hasil yang kudapat sungguh berlipat ganda karena adanya, sosoknya, dan cinta yang tak pernah sanggup diredupkan. Dapatkah cinta yang menyala-nyala ini diredupkan? Jangankan memeluk tubuhnya, memandang kedua matanya yang berwarna hijau dan bibirnya yang merona kemerahan saja sudah luluh lantak seluruh format hatiku. Dia membuat seluruh hard disk-ku tak dapat dikenali lagi partisinya. Mana jantung, mana hati, mana lambung, aarrgg… tak jelas lagi fungsinya.

*

Jay,  tahukah kau bagaimana merasa di surga?

Inilah surga itu! Sekarang aku berdiri di halaman rumahnya yang menyerupai Gedung Grahadi dalam skala kecil. Halaman rumput yang luas dan pohonpohon maple di sekelilingnya, dan juga cemara-cemara. Rumah yang megah pada sebuah kota kecil yang hanya dihuni oleh 35 ribu orang dengan latar depan laut dan teluk dan latar belakang hutan-hutan cemara. Sungguh dia tak membual bahwa kota ini hampir seperti kota mati di musim dingin seperti ini. Hanya sesekali  terdengar lalu lalang kendaraan, itupun lebih sering mobil pencair salju. Dari dalam jendela istana yang besar dan bertirai warna putih tulang, butiran salju yang turun secara maraton bagaikan buliran styrofoam yang dihamburkan dari langit. Pohon-pohon di luar sana  tak lagi terlihat hijaunya, seluruhnya putih.

Meskipun aku telah melapisi tubuhku dengan berbagai atribut antidingin, tetap saja menggigil seluruh tulang  yang terbiasa dengan udara tropis ini. Dia  tersenyum memamerkan lesung pipi dan menertawai kedunguanku, kenorakanku.  Aku tak peduli. Dari matanya yang selalu berbinar aku tahu dia sungguh bahagia saat ini, apalagi aku! Tak ada penamaan untuk bahagia yang bertubi-tubi  ini kecuali bahagia, itu saja.

*

Jay, temanku yang tak pernah pudar oleh masa,

Siang hari terasa masih terlalu pagi ketika dia menawarkan menu makan siang untuk kami. Tetapi bagiku yang lebih menarik adalah sebuah grand piano di tengah ruang keluarga itu. Aku menghampirinya dan menyentuh salah satu tuts piano, suaranya berdenting memenuhi seluruh ruang yang hanya dihuni dua manusia, aku dan dia.  Tiba-tiba dia duduk di depan piano itu dengan anggunnya.

“Sambil menanti daging kita siap disantap, mari kutunjukkan padamu bagaimana sebuah simponi dimainkan untuk sebuah  cinta,” katanya seraya memintaku duduk di sampingnya. Jemarinya yang halus menyentuh lembut tuts  piano peninggalan buyutnya itu, lalu mengalunlah Nocturne yang menyayat bilik hatiku. Pantulan energi klasiknya menyusupi rongga-rongga dalam jiwaku yang terpanggang sepi di antara hiruk pikuknya dunia. Begitu sempurna hingga ku tak dapat membedakan apakah itu Nickolay Erlangga Korsakov ataukah Frederick Chopin yang memainkannya. Aku berdiri dalam jarak beberapa depa untuk memastikan itu benar permainannya, dan ketika permainan  itu sampai di ujung penghabisan, aku merasa inilah sesungguhnya sosok laki-laki yang kurindukan untuk menggenapi dahagaku. Aku bertepuk tangan bukan sekadar bangga pada laki laki yang memiliki perasaan halus hingga mampu memainkan lagu seindah itu, tetapi juga karena ternyata laki-laki itu adalah dia, Nickolay Erlangga Korsakov, milikku. Tetapi mengapa Nocturne?

“Kau suka?” dia menoleh dengan senyum teduh  yang membuatku jatuh cinta dari menit ke menit. “Tidak, aku tidak menyukainya… tapi aku tergila gila padamu.” Dan dia merengkuhku dengan hangat. Seperti selembar selimut menghangatkan seluruh tubuh di bulan yang dingin ini.

“Mengapa Nocturne?” tanyaku. “Bukankah lagu ini dicipta oleh komposernya akibat rasa sedih dan sepi yang menyayat di malam hari?”

“Ya, tetapi sebuah komposisi tercipta tak akan mampu menghadirkan roh dari ciptaan itu jika tak disertai cinta yang dalam ketika proses penciptaannya.”

“Tetapi menurutku Nocturne itu lagu sedih,” sanggahku. “Tidak sesuai dengan suasana hati kita yang sedang bahagia.”

“Tetapi kau hanyut ketika aku memainkan?”

Aku mengangguk.

“Karena di dalam permainan dan penikmatan ada cinta yang saling memberikan energi. Dan energi positif dari dua orang yang saling mencintai bukan sekadar menyehatkan, melainkan juga menghidupkan. Ia seperti air yang disiramkan pada sebatang pohon setelah melewati musim kering yang panjang.”

*

Jay, apakah ada alasan bagiku untuk tak bahagia dalam suasana semacam itu?

Sekarang, tak ada bedanya siang dan sore di kota ini, tetapi malam dapat ditandai dengan gelap yang perlahan-lahan merengkuh bumi dengan warna putih salju tetap menghiasi seluruh permukaannya. Agenda besok pagi telah tersusun rapi, yaitu mengunjungi grocery store satu-satunya dengan dagangan yang di dominasi blueberry, dan tentu saja menikmati restoran yang hanya dua buah, dengan makanan ala Rusia. Ke manapun, apapun yang akan dia jejalkan ke dalam mulutku, tak ada alasan untuk mengatakan tidak. Sebab ini semua adalah mimpiku. Inilah dunia yang ingin kunikmati detik demi detiknya.

Malam pertama di Korsakov berlalu dengan sukses! Surga itu telah kugenggam Jay, aku tak akan melepasnya lagi, untuk alasan apapun. Dan benar belaka bahwa cinta harus diperjuangkan. Lalu malam itu aku terlelap di atas kasur bulu angsa yang empuk dan selimut yang terlalu lembut hingga tak kusadari pagi menjelang dan suara gaduh mengetuk pintu kamarku.

*

Jay, episode yang berbeda mendadak harus dimulai dari sini.

Seorang pria Rusia mengenakan topi kerja dengan celemek di tubuhnya berdiri melotot di depan pintu seketika aku membukanya. Dia berusaha menyapa dengan bahasa yang tak kukenali, mana aku tahu bahasa Rusia itu. Aku celingukan mencari-cari di mana Nick, kekasihku. Pria itu terus berusaha berkata-kata, aku juga berkata-kata dalam Bahasa Inggris. Tetapi kami tidak menemukan titik temu. Dengan baju tidur dan sleeper aku berusaha mencari dan berteriak memanggil Nick, ke ruang makan, ke perpustakaan, ke halaman belakang, dan pria itu terus membuntutiku. Setengah menangis aku menjeritkan namanya secara lengkap, Nickolay Erlangga Korsakooov!!!

Laki-laki itu memegangi pundakku dengan tekanan, aku mulai ingin menangis….

“Speak in English please….” Pintaku. Lalu pria itu mendekati telepon, aku terduduk lesu di sofa yang semalam kunikmati berdua. Ke mana gerangan Nick? Beberapa menit kemudian datanglah dua orang polisi berseragam. Oh Tuhan! Mereka pikir aku penyusup? Jay, wajahku pasti sudah pucat pasi karenanya. Seluruh tulangku rasanya melemah, ada apa ini?

“Good morning, can I help you, Miss…..” polisi yang masih muda menyapa ke arahku…

“Sri Sulastri…..” jawabku bingung.

“Your passport, please….”  Dengan wajah pilon aku berjalan ke kamar dan menarik day pack yang belum sempat kurapikan, kemarin itu terlalu tumpah ruah segalanya, badanku, hatiku, semuanya tumpah tak terkendali, dan sekarang dua orang polisi?

Setelah membaca pasporku berkali-kali, membolak balik, akhirnya dua orang polisi itu memintaku duduk. Dengan lembut ia bertanya untuk apa aku di sini. Dengan kejujuran dan keluguan kukatakan aku datang untuk  menemui Nick, yang saat ini tiba-tiba raib entah ke mana.

Jay, sekarang aku seperti seorang pesakitan yang menghadapi tiga orang penuntut umum, dua orang polisi dan seorang pekerja di rumah ini. Surga dan neraka tiba-tiba begitu dekat jaraknya. Aku tak tahu akan ke mana sebentar lagi. Seumur hidup,  aku tak pernah berurusan dengan polisi. Tiba-tiba sekarang aku harus berhadapan, dan di negeri orang. Jay, aku ingin menangis sejadi-jadinya. Lalu polisi muda itu memandangku dengan iba.

“Are you sure you’ve been with him last night?”

Aku mengangguk, menahan air mata.

“It’s impossible….”

“No,  he played that piano, we got twice meal… talked in this sofa and we plan to get out to day.”

“Miss…Sulastri,  better you come with me. Mr. Nickolay Korsakov is in hospital, since 5 days ago, car accident….”

“Noooooooooo!!!!” Mana mungkin?? Jay, Jay… apakah memang orang-orang Rusia ditakdirkan untuk membuat konspirasi semacam film-film James Bond? Selama lima hari itu dia selalu berkomunikasi denganku via Messenger, email dan juga SMS, mengapa mereka mengatakan Nick koma di rumah sakit karena kecelakaan?

Jay, benarkah surga dan neraka itu berdekatan hingga kita tak dapat menerka di mana garis batasnya?

Pagi itu tentu saja masih dingin, tetapi aku ingin berlari menerjang butiran salju itu untuk mengejarnya di Korsakov Rayon Hospital yang berjarak sekitar satu kilometer. Masih dengan baju tidur dan sleeper, aku berlari sekuat tenaga menapaki halaman luas itu. Tetapi mereka mengejarku, petugas house keeping itu memakaikan mantel bulu pada tubuhku dengan wajah dingin dan mata kebingungan. Pak polisi menunggu seperti hendak memasangkan borgol di kedua tanganku. Maka begitu mantel itu terpasang di tubuhku, aku segera berlari, berlari…. sambil menahan derai tangis. Mereka bertiga berlari pula di belakangku, sambil meneriakkan namaku dalam aksen yang aneh.

Di halaman rumah sakit yang lengang itu mereka berhasil mengejarku, aku menggigil kedinginan, air mataku tumpah tanpa kendali. Dua polisi itu berbicara dengan petugas, lalu menggandeng tanganku. Tetapi petugas house keeping itu menyuruhku duduk dan menyerahkan sepasang sepatu. Ketika aku diam saja tak berbuat sesuatu, ia mengangkat kakiku dan memasukkan ke dalam sepatu longgar itu. Semuanya berjalan bergelombang dan seperti di atas kapal yang berayun-ayun, aku hanya mengikuti ke mana Pak Polisi itu membawaku.

*

Jay, aku benar-benar menangis dengan suara sekarang….

Di sebuah ruangan ICU dia tergolek di situ, memejamkan mata, dengan berbagai peralatan terpasang pada tubuhnya. Benar Jay, dia Nick. Kekasihku yang tampan itu, yang seharusnya bermata hijau dan berbibir merah, kini memucat, tertidur, bahkan ketika aku menyentuh dan menggenggam tangannya erat sekali, seraya menyebutkan namanya berkali-kali.  Aku berharap keajaiban itu datang, malaikat yang baik hati membukakan  matanya, lalu

dia bangun dan memelukku, seperti tadi malam…

Tetapi polisi dan para medis itu bersikeras bahwa Nick sudah lima hari tergeletak di sini. Lalu siapa yang bersamaku kemarin dan semalam, Jay? Siapakah yang tidak waras di antara kami? Aku yang sedang menumpahkan seluruh rasa cinta, atau para dokter dan polisi yang dingin dan tak punya perasaan itu? (naskah: Wina Bojonegoro/ilustrator: Volegov/editor: Heti Palestina Yunani)