Ketika Hobi Berbuah Rezeki by Wina Bojonegoro

Salah satu faktor yang membuat seseorang bisa menjadi pengusaha adalah improvement driven oportunity atau dorongan atas peluang yang ada. Faktor tersebut disebabkan naluri seseorang untuk melihat peluang, inovasi dan keahlian. (Ir Ciputra)

Traveling adalah nama tengah saya, begitu seloroh saya selalu. Meyakini nama tengah saya itu tidak belakangan. Kalau ditelusur, ketika masih berdiam di sebuah desa kecil di tengah hutan jati, Ngasem, Bojonegoro, saya sudah sering membayangkan bagaimana rasanya pergi ke dunia sebelah sana. Sebagai anak desa, traveling saya bisa cuma dua saat itu; buku dan televisi hitam putih.

Ketika dewasa dan berhasil mencari uang sendiri, saya juga tak secara otomatis dapat melakukan impian traveling itu. Keburu menikah dan punya anak membuat saya harus mengerem segala rindu dendam pada cita-cita seksi itu. Tapi ada janji saya; nanti, saat anak-anak saya sudah mampu mandi sendiri dan mengemas barang-barangnya sendiri, saya akan puaskan ber-traveling.

Sejak kecil saya suka menari, berdeklamasi dan menabuh gamelan, maka seluruh konsep traveling saya mengalami apa yang disebut penjelajahan. Ibarat orang melihat peta, saya ingin masuk ke dalam noktah-noktah peta itu bukan sekadar membaca, tapi melebur di dalamnya. Traveling bukan hanya packing, mengendarai sesuatu, berfoto, lalu berpuas-puas memandangi hasil kerja kamera. Sama sekali bukan itu, ternyata.

Setelah lima tahun (sejak 2011) mendirikan Padma Tour Organizer, saya punya kesimpulan sendiri tentang arti traveling. Traveling adalah menikmati perubahan udara, membaui detak jantung sebuah kota, mencatat hal-hal detail yang luput dari perhatian, menikmati sudut sederhana yang menyimpan dialek berbagai irama. Traveling bagi saya adalah sebuah penghayatan jiwa dan raga. Ini jelas beda dengan arti di kamus-kamus.

Saya Siap ‘Gila’

Kala masih menjadi pegawai BUMN di PT Telkom Divre V, dengan jatah cuti 12 hari kerja selama setahun, saya harus pandai mengatur waktu di antara tanggal merah dan cuti tahunan agar leluasa traveling. Meski terbatas, saya bisa memanfaatkannya untuk jalan-jalan ke mana saya suka. Setelah pensiun pada 1 Oktober 2011, saya malah makin leluasa ber-traveling.

Suatu hari seorang teman bertanya; kamu kenapa tampak selalu gembira? Karena saya suka traveling, jawab saya enteng. Teman itu bertanya lagi; tabunganmu banyak ya? Mak jleb!! Tiba-tiba saya seperti dihantam Mike Tyson dengan hook kiri. Ternyata saya tidak punya tabungan cukup sebagai pensiunan. Duit habis buat jalan-jalan, makan enak, dan berbelanja kebutuhan traveling lainnya.

Pertanyaan sederhana itu sukses membuat saya merasa malu pada diri sendiri. Tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya mengubah jalan hidup. Padahal saya telanjur jatuh cinta pada dunia traveling dan masih banyak cita-cita yang belum kesampaian. Saya ingin melihat dunia. Ah jangankan dunia, Indonesia saja saya belum khatam. Ini rasanya seperti punya bisul yang ingin lepas tapi belum juga lepas. Lama saya merenungkan ini. Apa yang salah dengan saya dan traveling?

Saya membaca buku-buku panduan wisata, berkumpul dengan para traveler, juga bergabung di berbagai milis jalan-jalan. Selain upaya untuk sharing biaya jalan lebih murah, juga ingin menemukan kearifan-kearifan dalam dunia traveling. Saya ingin mendapatkan  informasi benar dan bijak tentang pengelolaan traveling dari sisi waktu dan efisiensi biaya. Tetapi yang saya dapat justru pembenaran diri, mengapa ada manusia yang hobi banget jalan-jalan?

Saya pikir saya ini sudah ‘gila’; kaki gatal kalau sebulan tidak jalan-jalan. Ternyata, dalam beberapa kelompok traveling yang saya ikuti, banyak yang jauh lebih ‘gila’ dari saya. Wilayah traveling mereka sudah sampai Irian dan pelosok hutan di Kalimantan, sampai menjelajah Afrika dan Amerika Latin segala. Mak jaaaaaangg!! Saya seperti tercebur ke dunia yang salah tetapi malas keluar sebab minder ternyata hobi traveling saya belum cukup jauh dan berbuah rezeki.

Terpikir dalam benak jika kalau saya hobiis traveling beneran, maka saya harus benar-benar terjun melakoninya. Saya harus menguji kedalaman hobi saya ini; apakah cuma ikut-ikutan, sok keren disebut traveler atau benar-benar hobiis sejati? Sebagai womenpreneur di bidang traveling, saya merasa hobi akan berbuah rezeki kalau diseriusi sebagai bisnis yang menggiurkan. Maka saya pun siap ‘gila’. Tak hanya dari banyaknya destinasi yang saya tuju, tetapi bagaimana saya mengelola pengetahuan traveling itu menjadi peluang bisnis.

Bisnis Pensiunan Telat

Kata entrepreneur besar Ir Ciputra, salah satu faktor yang membuat seseorang bisa menjadi pengusaha adalah improvement driven oportunity atau dorongan atas peluang yang ada. Faktor tersebut disebabkan naluri seseorang untuk melihat peluang, inovasi dan keahlian. Maka ketika memutuskan berhenti alias pensiun dini dari perusahaan tercinta, PT Telkom Divre V, alasan saya yang utama memang demi memuaskan hobi traveling, itu peluang yang saya kembangkan dengan inovasi dan keahlian saya.

Keputusan hengkang setelah 28 tahun sebagai orang bayaran sebagai Sekretaris General Manager itu mengesankan. Bersama ratusan teman lain yang mengenakan seragam perusahaan untuk terakhir kali, saya ingat menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan mata berkaca-kaca. Mewek. Terkenang, saya telah menjadi bagian dari keluarga besar ini selama puluhan tahun.

Terbayang saya pernah saling menyapa dalam lift, kepanasan bersama di lapangan upacara, menunggu di toilet ber bicara hal-hal remeh temeh atau salat berjamaah di masjid kantor. Tiba-tiba sekarang harus berpisah. Itu sungguh mengharubirukan perasaan saya yang sensitif bin lebay. Apalagi ditambah status baru dengan Surat Keputusan; pensiunan.

Tepatnya pensiunan telat karena usia saya saat itu tak muda lagi, 47 tahun. Usia yang nanggung kalau tidak mau dikatakan terlambat jika ingin memulai sesuatu bisnis baru. Tapi tak ada yang terlambat untuk sebuah niat baik meski saya sempat merasakan jalan berat selanjutnya. Itu terjadi ketika menentukan mau berbisnis apa dengan uang pesangon. Tentu saja setelah saya mengamankan diri dan keluarga dengan financial planning melalui asuransi dan investasi.

Hanya beberapa hari sebelum saya menerima SK pensiun, saya ingat seperti ada clue atau petunjuk Allah SWT. Mak bedunduk, datanglah sendiri tanpa saya pernah berpikir sama sekali tentang bisnis baru apa bagi pensiunan telat macam saya. Pemicunya bukan dari saya pula melainkan dari teman-teman sekantor yang baik hati itu. Sesuatu itu selama ini menjadi minat dan hasrat saya seumur hidup. Apakah itu? Yesssssssss, traveling!!!

Hebatnya, langsung ada tawaran menangani order pertama untuk membawa 40 orang yang tak lain adalah teman sekantor traveling ke Yogyakarta. Tahukah rasanya perasaan saya waktu itu? Saya seperti dibukakan pintu gua yang selama ini membelenggu. Saya seperti ketiban bintang jatuh. Saya seperti menemukan kapal di saat terjebak di sebuah pulau terpencil. Apakah saya tak berkeringat waktu menerima even pertama ini? Tentu saja, tapi excited.

Hanya berbekal itung-itungan kasar, saya dibantu satu tim kecil terdiri dua orang; satu bertugas sebagai runner di Surabaya, dan satu orang lokal di Yogyakarta. Saya membawa teman sekantor itu naik kereta. Ide cling saya langsung keluar mengingat bagaimana kalau saya mau dibahagiakan saat traveling. Maka saya rancang, seturunnya dari kereta, mereka dijemput andong menyusuri Malioboro menuju hotel. Semua bahagia. Saya juga bahagia karena dari even pertama itu saya untung Rp 4 juta. Hahaha.

Pelajaran Pertama di Bisnis Baru

Di balik kesuksesan bisnis pertama itu ada banyak pelajaran yang saya dapat sebagai pemilik bisnis traveling anyaran. Inilah beberapa step yang saya lakukan langsung begitu menerima order jalan-jalan itu. Jangan tanggung-tanggung tampil oke di kesan pertama karena itu ibarat lokomotif yang mendorong repeat order. Kalau sudah tidak oke di penjualan pertama bagaimana mau menarik konsumen baru bukan?

  1. Untuk mendapatkan harga agen (harga termurah di dalam level harga sebuah hotel, transportasi, restoran, kendaraan, dll) Anda harus punya nama usaha lengkap dengan alamat surel, kop surat dan keperluan standar lainnya sebagai sebuah kantor. Di saat kebingungan mencari nama itulah, saya teringat bahwa saya baru saja me-launching novel pertama The Souls: Moonlight Sonata dengan tokoh utama Padmaningrum, dengan panggilan Padma.

Saya pikir ini momentum bahwa saya pernah melahirkan tokoh fiksi bernama Padma. Maka jadilah nama Padma Tour. Tetapi nama itu harus dipertimbangkan segala speknya. Kalau hanya Padma Tour, pasti sudah mainstream, maka saya harus membuatnya beda. Setelah diskusi dengan beberapa teman, lahirlah nama Padma Tour Organizer. Nama ini dimaksudkan sebagai pembeda dari travel agent lain yang rata-rata melayani jalan-jalan secara general. Dan saya ingin beda. Jadi, bukan tour and travel tapi tour organizer. Cocok!

  1. Karena ini sudah zaman teknologi tinggi di dunia maya yang orang butuh informasi apa saja hanya dengan browsing maka, website perlu dibuat. Ini agar orang mudah mencari travel agent yang dicari dan Padma Tour Organizer bisa langsung berpromosi di dunia maya. Saya segera pesan website padmatour.com. Untuk urusan ini saya ucapkan thanks kepada Iva Ambarwati yang gigih mencarikan segala sesuatu hingga menemukan desain lengkap untuk sebuah merk, stempel, logo ala kadarnya. Semua seperti sulap abrakadabra. Jadi!
  2. Di mana ngantor? Karena hitungannya adalah waktu, maka tanpa berpikir panjang, garasi saya sulap menjadi kantor. Tentu saja dengan melengkapi meja kerja, koputer, lemari, faksimili, printer, dll. Done!

Kekuatan Internet Marketing

Sukses menata kebutuhan bisnis, saya yang hanya dengan dua staf baru memikirkan strategi pemasaran. Bicara pemasaran, berarti itu bukan hanya penjualan tapi juga termasuk promosi, branding, dan membina hubungan dengan pelanggan. Ketika sebuah bisnis telah dimulai, promosi wajib dilakukan. Di era internet saat ini menuntut setiap pemilik usaha melakukan promosi online, tujuannya selain untuk meningkatkan hasil penjualan juga membuat brand mereka lebih terkenal.

Nah, internet adalah salah satu media yang paling baik untuk memberikan informasi kepada pengguna internet (netter) tentang bisnis kita. Dengan bekal pengalaman menjadi public relations dan sekretaris kemudian account manager dan network luas, saya memanfaatkan sistem pemasaran kekinian yaitu internet marketing. Inilah beberapa alasan mengapa langkah pertama saya mengembangkan Padma Tour Organizer memakai strategi itu;

  1. Bisnis internet marketing berjalan terus secara online, selama ada jaringan internet
  2. Biaya promosi di internet lebih murah dibanding media lainnya
  3. Berjalan secara otomatis selama 24 jam per hari
  4. Menghemat waktu, apalagi dengan fenomena telepon pintar, dunia seperti dalam genggaman
  5. Tempat kerja fleksibel
  6. Ruang lingkup lebih luas
  7. Tidak perlu membayar tenaga marketing secara bulanan.

Saran saya, bisnis pemula sebaiknya langsung menjalankan strategi ini. Biarkan yang lain sedang dibangun. Toh kalau mau sedikit biaya lagi, serahkan pengelolaannya kepada orang yang sudah pakar di bidang ini. Tak mahal kok. Di permulaan, website memberikan peluang untuk memperoleh masukan dari pengguna jasa bisnis kita. Saya merasa website itu seperti etalase bisnis yang bisa langsung dinikmati calon klien sebelum bertemu atau kontak langsung.

Pelan-pelan, materi website itu memang harus di-update seiring dengan bisnis kita yang terus berjalan. Untuk sebuah usaha yang dimulai seorang ibu berusia 47 tahun seperti saya, sebuah usia yang nyaris rapuh (mungkin), internet marketing sangatlah jitu menyiasati keterbatasan-keterbatasan itu. Buktinya alhamdulillah Padma Tour Organizer tetap menyala hingga kini dengan siasat itu, seperti hobi saya yang juga tak pernah padam.

Bahkan beberapa bisnis sampingan yang berasal dari hobi awal saya itu akhirnya terbentuk mengikuti bisnis pertama tadi. Ada Padmedia, sebuah usaha penerbitan, tambah lagi ada www.padmagz.com, sebuah website yang menyiarkan informasi traveling. Terakhir pada 2015 saya dan partner, Sol Amrida, mendirikan Kedai Kreasi. Itu sebuah kedai literasi yang berhasrat menghimpun para penulis, pecinta buku, calon penulis, pemusik, perupa, fotografer, serta siapapun komunitas kreatif lainnya. Dari bisnis berbendera beragam itu, semua rezeki kini datang mampir di dompet saya cuma karena hobi. Mau? (naskah: Wina Bojonegoro (*)-diambil dari buku Otot Kawat Balung Wesi/foto: dok/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Perempuan berbintang Leo yang telah menggelandang di dunia literasi sejak 1988 ini lahir di Desa Ngasem, Bojonegoro. Sudah 9 buku yang lahir dari tangannya, terakhir Mozaik Kota Kenangan (MKK). Dari sekian kesibukannya, Wina memang paling cinta dengan menulis. Tiap hari, Wina sudah pasti mengawali paginya dengan menulis meski hanya sebaris kata-kata. Setelah MKK, Wina telah menyiapkan beberapa buku yaitu novel dan buku motivasi. Tinggal di Sidoarjo, Wina lebih sibuk mencari makan di Surabaya dan kota-kota lain. Meski telah memiliki dua cucu, anehnya Wina mengaku tetap merasa muda. Ia masih suka ber-travelling ke mana-mana demi menuntaskan cita-citanya berkeliling Indonesia. Karena itulah, sejak berhenti dari sebuah perusahaan telekomunikasi  pada 2011, Wina memilih mengelola bisnis miliknya sendiri dengan bendera Padma Tour Organizer, yang didirikan karena hobinya berjalan-jalan. Lalu berdiri media online PADMagz.com yang diawalinya dengan menerbitkan majalah PADMAgz. Satu  lagi, Padmedia, sebuah penerbitan yang menelurkan beberapa buku di antaranya buku milik Wina sendiri. Terakhir bersama Sol Amrida, Wina mendirikan Kedai Kreasi, sebuah tempat makan dan minum yang menampung segala minat pada dunia seni. Akhir tahun 2016, Wina sudah siap meluncurkan satu bisnis lagi yang sedang dirintisnya. (padmatour@gmail.com)