Kesasar, Dibayar Warna Toska Danau Weekuri

Eksplorasi Sumba (3)

Deburan ombak dan pantulan sang surya di jendela Hotel Mario tempat saya menginap di Sumba Barat Daya membuat saya tidak betah berlama-lama untuk tidur. Bergegas saya lekas bangun. Waktu masih menunjukkan pukul 05.42 WITA. Ah mumpung pagi segera saya pilih untuk berjalan-jalan di tepian pantai. Apalagi kalau bukan untuk menikmati matahari terbit sembari menunggu sarapan pagi yang disiapkan pihak hotel.

sumba 5Suasana itu membuat saya begitu antusias di hari ke dua saya di Sumba. Yup tentu saja, sebab inilah yang saya tunggu-tunggu sekian lama. Apalagi dalam perjalanan mengeskplorasi Sumba, saya sudah rencanakan untuk menemukan sebuah harta karun wisata di Sumba Barat Daya yaitu Danau Weekuri. Inilah salah satu danau terindah yang dimiliki Indonesia.

Pagi itu, Andre, sopir mobil yang saya sewa selama di Sumba sudah siap dengan Panther-nya. Selesai sarapan saya bergegas memasukkan semua peralatan termasuk matras balon yang telah tunai dipompa. Ternyata letak Danau Weekuri ini sangatlah jauh, sekitar 60 km dari Sumba Barat Daya. Perjalanan yang ditempuh pun tergolong tidak mudah. Saya beberapa kali tersesat dan harus menanyakan kepada penduduk lokal. Belum lagi mobil yang kami gunakan mogok karena masalah aki.

Untunglah ini Indonesia yang dikenal akan keramahannya. Masyarakat lokal terbukti memang sangat ramah dan membantu saya mendorong mobil. Keramahan masyarakat Indonesia ini bahkan sampai ke pelosok Desa Kalenarogo tempat Danau Weekuri berada. Setelah berkali-kali nyasar saya coba menggunakan kecanggihan google map. Lokasi pun mudah ditemukan. Namun di sepanjang perjalanan saya sama sekali tidak melihat ada rumah penduduk, warung ataupun petunjuk jalan.sumba-danau weekuri

Daerahnya sangat sepi dengan akses jalan yang masih buruk. Kiri kanan jalan berupa semak belukar yang kapan saja dapat menggores mobil. Mendekati area danau, barulah terdapat papan petunjuk dari kayu yang sangat sederhana. Ah akhirnya setelah dua jam perjalanan saya menemukan Weekuri. Perlahan mobil Andre memasuki area danau. Dari situ saja saya sudah dapat melihat jernihnya danau yang berwarna hijau toska dari balik dedaunan.

sumba-menjelang senjaOh semua pemandangan itu langsung membuat saya berteriak senang. “Ini gila, nggak sia-sia pokoknya perjalanan sesulit ini!,” cetus saya kegirangan. Memang itu bayaran yang mahal untuk sebuah susah payah menempuhnya tadi. Untuk menuju spot foto terbaik di Danau Weekuri ini, saya menuju ujung danau ke arah barat yang langsung berbatasan dengan lautan lepas. Jalan yang dilalui pun terbilang ekstrem karena banyak karang tajam yang sangat runcing.

Saran saya, berhati-hatilah. Salah dalam melangkah pasti dapat merobek kaki. Pukul 08.42 WITA, matahari tengah bersinar terang menyinari danau dan menambah eksotisme tempat ini. Rasanya tidak ingin beranjak. Bayangkan sembari duduk kita dapat mendengar deburan ombak yang perlahan pecah di batas karang. Air laut masuk melalui lubang di ujung danau. Itulah mengapa air danau ini tergolong danau air asin. (naskah dan foto: Yenny Fyfy/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)