Kepolosan dan Ketulusan Bagan Buat Jatuh Cinta

Pesona Magis Bagan (2)

Sebuah andong berpacu menuju Candi ThatbyinnyuSinar matahari masih menyapa dengan sopan ketika saya beranjak dari Bulethi. Pagoda Bulethi terbilang kecil bila dibandingkan dengan yang ‘raksasa-raksasa’ lainnya. Namun, lokasinya strategis dan aksesnya yang mudah untuk dipanjat menjadikannya salah satu pagoda yang dituju untuk menyambut matahari pagi di Bagan.

Udara yang bergerak masih menyisakan dinginnya malam. Sinar matahari menembus tipis dari balik pohon. Saya kembali menaiki andong untuk menikmati hari di Kota Bagan. Selain andong, ada beberapa pilihan transportasi yang dapat digunakan, motor listrik dan sepeda. Mobil jarang sekali terlihat.Sepeda merupakan alternatif transport yang awan digunakan oleh para turis

Dalam perihal pariwisata, Myanmar terbilang baru. Setelah menutup diri selama hampir 50 tahun, mereka akhirnya membuka pintunya kepada dunia luar di tahun 1990. Sejak itu, pariwisata pun marak. Setiap tahunnya, sebanyak satu juta pengunjung bertambah.

Mungkin karena makin tingginya keingintahuan dunia terhadap negara yang menyimpan banyak mitos dan legenda ini, mungkin juga karena tertarik akan keperawanan negeri itu. Tapi sebagai negara kunjungan wisata, Myanmar memang masih ‘bersih’ dan tidak komersil di beberapa sektor.

Fasilitas untuk para pelancong sayangnya masih belum maksimal. Jalanan masih belum mulus di sebagian tempat. Tidak banyak agen-agen perjalanan yang menawarkan berbagai macam paket liburan di pusat turistik.

Masyarakat lokal menyentuh patung buddha yang berada di dalam Candi ThatbyinyuDibandingkan dengan Indonesia, belum banyak masyarakat lokal yang dapat berbicara Bahasa Inggris. Bahkan, sebagian orang saya dapati merasa takut dan canggung ketika berbicara dengan saya dalam Bahasa Inggris.

Sungguh pun begitu, itulah yang membuat saya jatuh cinta kepada negara ini. Kepolosan dan ketulusan yang saya dapati, baik dari tempat ataupun penghuni-penghuninya sangat menarik hati saya. Soal kemurnian, situs arkeologi Bagan merupakan salah satu contohnya.

Itulah juga yang membuat alasan mengapa banyak orang ingin mengunjungi negara yang dahulu dikenal dengan nama Burma ini. Jikalau gambar-gambar kerajaan dalam buku-buku sejarah kuno mencuat keluar, Bagan adalah keunikan itu.

Dengan mata yang terbuka lebar, saya menerawang satu per satu situs-situs di Bagan. Salah satunya Candi Ananda. Pada candi itu, saya kagum akan mahakarya seni yang disajikan di depan mata. Mulut saya ternganga, seakan tidak percaya akan apa yang dilihat oleh mata. (naskah dan foto: Irene Barlian/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)