Kepala Tengkorak Dibasuh Darah Babi

Nyobeng: Tradisi Suku Dayak Bidayuh (5)

senyum-sang-pendekarTetabuhan terus dibunyikan, sang nenek memimpin tetua lain menari memutari persembahan untuk ritual selanjutnya yaitu mandi. Semua bahan sesajen dimasukkan ke dalam tempayan yang sudah berisi air oleh ketua adat, lalu mengambil kelapa muda dan kemudian dibelah menggunakan mandau miliknya.

Mata saya menangkap bentuk mandau yang tidak biasa, mandau ini tanpa gagang dan bagian ujung terbelah dua seperti lidah ular. Selesai memasukkan air kelapa dan isinya ke dalam tempayan lalu mandau dicelupkan.

Air dalam tempayan inilah yang digunakan untuk mandi. Warga yang ingin mendapatkan kesembuhan langsung berbaris. Air diambil dari tempayan menggunakan bambu dan dialirkan melalui pelepah bunga kelapa memyirami mereka yang berbaris.

Mereka diguyur mulai kepala dan wajah yang diusap oleh ketua adat. Badan mereka dipukul-pukul dengan daun anjuang yang sudah dicelupkan ke dalam tempayan. Ritual terakhir adalah memandikan tengkorak kepala menggunakan darah babi.

tetua-adat-dan-wanita-bidayuh-dari-malaysiaKorban persembahan ini sudah tersimpan di dekat perapian di balug. Babi yang lumayan besar ini terikat oleh kayu di kiri dan kanan tubuhnya. Sebelum dimulai, sibankng kembali di pukul 7 kali. Ketua adat yang memegang tombak langsung menancapkannya ke bagian leher sembari terus merapal mantra.

panjat-pinang-terbalik3Tetua lainnya juga mengacungkan mandau lalu menebaskan ke leher babi. Darah yang mengalir langsung diambil dengan tangan dan ditampung ke dalam sebuah mangkuk hingga dirasa cukup. Lalu ketujuh orang ini langsung menuju ke lantai 3 balug.

Entah kenapa setiap peti kayu ini diturunkan dari bumbungan nuansa mistis langsung hadir. Tengkorak kepala dikeluarkan perlahan, disimpan di dalam piring. Nuansa mistis semakin terasa saat mantra dirapalkan.

memainkan-alat-musikDarah babi tadi disapukan berulang kali ke tengkorak kepala sembari terus merapalkan mantra, kotak kayu untuk menyimpan tengkorak kepala juga dibersihkan. Hanya terdengar mantra dan semuanya hening hingga proses ini selesai.

Selanjutnya tengkorak kepala disimpan kembali ke dalam kotak kayu dan dikemudian dikembalikan ke tempatnya untuk dimandikan kembali tahun depan. Setelah semua berakhir, ketua dan tetua adat turun dari rumah balug.

Prosesi akhir adalah menyajikan sesajen terakhir untuk leluhur berupa hati babi, anjing dan ayam yang telah dikorbankan tadi dan diantarkan kembali menuju balug. Warga yang tadinya menyaksikan seluruh acara kembali melakukan tarian simaniamas diiringi berbagai tetabuhan dan sibakng. Ritual Nyobeng pun berakhir dengan menikmati makanan bersama-sama.

Paginya matahari bersinar terang, sisa kelelahan semalam masih terasa. Saya bangun lebih siang dari kemarin. Lalu mandi dan sarapan. Saya mempersiapkan diri untuk melihat ritual berikutnya karena sesungguhnya Nyobeng belum berakhir.

Masih ada ritual yaitu Balik Layar. Ini merupakan ritual penutup di mana warga mengucapkan terima kasih kepada roh leluhur dan Tipaiyakng dan mengantar mereka kembali menuju tempat tinggal mereka yang dipercaya berada di gunung dan bukit sekitar Sebujit.

Hari terakhir ini juga, ketua adat beserta seluruh warga akan mengantar tamu yang mereka undang untuk pulang. Diiringi dengan nyanyian, tarian dan tetabuhan seluruh peralatan Nyobeng dirapikan, tikar dilipat, altar dibersihkan dan balug ditutup.

Ritual ini dilakukan supaya semua yang diundang merasa senang dan roh leluhur terus melindungi dan memberikan rezeki selama satu tahun. Mereka percaya ritual ini harus terus dilaksanakan setiap tahun agar hubungan mereka dengan roh leluhur dan Tipaiyakng terus berjalan harmonis dan baik. Semoga semua makhluk berbahagia. (naskah dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/habis)