Keindahan Berliku Menuju Takengon

takengon (5)Suasana sejuk dan dingin akan menerpa siapa saja yang memasuki gerbang selamat datang di Takengon. Di Tanah Rencong, Takengon ibarat negeri di atas awan. Inilah Puncak Bogor atau Bukit Kintamani Bali bagi para pelancong yang menikmati wisata pergunungan di Aceh. Sebenarnya banyak alternatif ke Takengon.

Dari Banda Aceh atau Medan, juga bisa. Jika setiba di Bandara Aceh, dari Lhokseumawe perjalanan kira-kira ditempuh selama 3 jam. Umumnya transportasi yang dipakai adalah Colt L300 yang memang jadi andalan masyarakat Goya Lues. Tarifnya murah, hanya Rp 70 ribu. Selain Colt L300 ada juga bus yang hanya berangkat saat malam. Sejak berangkat dari terminal Lhokseumawe inilah, mulailah Anda menikmati perjalanan.

takengon (1)Dari sana, Anda akan melewati Kota Bireuen. Tak lama saat jalan menaik ke arah Bener Meriah, mata ini akan disuguhi pemandangan yang elok berbukit selama 3 jam lebih. Tapi tak cuma elok berbukit, tahanlah diri menikmati banyaknya tikungan di jalur ini.

Karena itulah mengapa tempat ini disebut Takengon. Sesuai artinya, kata itu dalam bahasa Aceh berarti tikungan. Cocok dengan kondisi jalan yang penuh kelokan. Tapi jangan was-was, untuk urusan menempuh tikungan setajam apapun, rata-rata sopir Colt L300 jago-jago. Antara takut dan nikmat, barangkali sudah sebuah adventure tersendiri demi menuju Tekongan.

Untungnya, kini jalan menuju Takengon lumayan mulus. Maklum, kondisi infrastruktur yang oke itu dibenahi khusus saat disiapkan untuk kunjungan Presiden RI Jokowi pada Maret 2016. Sekadar catatan, Jokowi sengaja menempuh perjalanan itu untuk bernostalgia karena pada tahun 1988, Jokowi yang tinggal bersama orang tua angkatnya itu pernah bekerja mengadu nasib di Tanah Rencong.

Selain pemandangan elok di perbukitan, di sepanjang rute kita akan sering melihat sekawanan monyet liar muncul. Seperti saat menikung ke arah Simpang Tiga Redelong, monyet-monyet itu bahkan terlihat nongkrong di pinggir jalan. Biasanya ini kita lihat layaknya monyet di Sangeh Bali, bukan? Kemunculan mereka di jalanan untuk mencari makan, agaknya karena habitat monyet ini telah banyak tergusur oleh permukiman dan aktivitas masyarakat setempat.

takengon (2)Ada dua hal yang menjadi ikon Takengon, kopi dan Danau Air Tawar. Takengon sejak dulu kala memang sudah dikenal sebagai penghasil kopi di dataran Aceh Tengah. Ini layaknya daerah dingin di tempat lain yang memang cocok menjadi lokasi budidaya kopi yang berkembang sejak zaman kolonial Belanda. Dari bumi Takengon inilah kopi jenis Arabica, Gayo Lues dihasilkan yang tergolong paling terkenal di kalangan pecinta barista kopi.

Kopi-kopi hasil olahan masyarakat setempat ini bisa langsung Anda nikmati di sejumlah warung di sepanjang tepi jalan Takengon. Warung Kupi, demikian orang Aceh menyebut. Sajiannya menarik, warung didesain mulai yang trandisional sampai berkonsep modern untuk anak muda. Ditopang dengan industri kopinya sebagai penggerak utama, perekonomian masyarakat Kota Takengon yang kecil itu terangkat.

Selain kopi, Danau Laut Tawar juga daya Tarik takengon yang tak boleh dilewatkan. Dari kota, danau ini ternyata dekat saja, seolah bersebelahan. Untuk ke sana, pengunjung tinggal bertanya ke mana arah menuju pelabuhan. Bukan pelabuhan macam di daerah pesisir. Pelabuhan adalah jalan ke arah Danau Laut Tawar yang bisa dicapai dengan hanya berjalan kaki.

takengon (3)Sayang tempat wisata ini belum dikelola maksimal oleh pemerintahan setempat. Ini terlihat dari papan selamat datang atau penunjuk yang tidak terawat dan berkarat sehingga tak mudah dikenali. Danau ini cukup lengang. Saat PADMagz datang, Danau Laut Tawar sedang sangat sepi. Hanya ada anak-anak muda bercengkerama.

Di ujung dermaga tampak pemancing menikmati suasana hening danau. Ada khas ikan yang bisa diambil di sini, namanya ikan depik. Bentuknya kecil dan enak jika digoreng. Sejauh mata memandang Danau Laut Tawar ini terlihat menawan. Air danau cukup bening membiru membuat suasana menjadi adem. Untuk menikmati sekeliling tersedia kapal boat dan kayu yang bersandar di dermaga.

Salah satunya KM Laut Tawar yang sibuk beroperasi membawa pengunjung berkeliling, utamanya di kala musim liburan. Terlepas dari semua pesona alam Takengon, kota kecil ini sejatinya tampak bersahaja. Selain danau yang eksotik, pengunjung bisa juga sekadar menikmati kota. Kalau ingin makan, bisa pilih di stand PKL di area dekat pasar dan bekas terminal lama, yang banyak menjajakan jajanan gorengan.

takengon (6)Kalau mau menginap, ada banyak wisma murah seperti di Wisma Harapan Jaya, Jl Sangeda-Lintang Lorong Kala Pasir. Bertarif Rp 120 ribu, wisma sudah menyediakan TV kabel dan kamar mandi dalam. Sebenarnya jika ingin mengeksplor Takengon, banyak sekali pilihan tujuan wisata yang bisa dinikmati.

Sebagai kota di bawah kaki Gunung Lauser, Takengon menjadi daya tarik Provinsi Aceh dalam hal destinasi wisata alam.  Misalnya dataran tinggi Gayo yang disebut Highland Gayo. Dari sana, berjalanlah ke Pontan Terong ke arah barat Takengon. Di sini, ada event tradisional khas yaitu pacuan kuda belang bekangka yang sudah dimasukkan menjadi agenda tahunan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.

Masih ada lagi Kueng Peusangan, sebuah pemandian air panas di Simpang Balek dengan waktu tempuh 30 menit dari Takengon. Pilihan lainnya ke Gua Putri Pukes, yang konon ceritanya adalah batu kutukan seorang putri durhaka kepada orang tuanya. Mirip Malinkundang versi perempuan. Sekalian jika di Takengon Anda bisa melanjutkan traveling ke Ketambe, sebuah area tracking kasaran Pergunungan Leuser yang justru lebih top di kalangan backpacker asing, termasuk Leonardo Di Caprio yang pernah mendarat dengan helikopter khusus di sana.

Selain ditempuh dengan jalan darat, Takengon juga bisa dicapai dengan mendarat di Bandar Udara Rembele di Simpang Tiga Redelong. Tempat ini juga sempat didatangi Presiden Jokowi tapi sayang bandara masih belum berfungsi maksimal. Penerbangan resmi belum digelar. Hanya pesawat baling-baling tipe Foker 50 atau CN-235 lah yang bisa landing aman di sini. Penerbangan dengan pesawat tipe Boeing dan Hercules series masih sedang tahap penataan infrastruktur. (naskah dan foto: Ferry Fansuri/hpy)

One thought on “Keindahan Berliku Menuju Takengon

Comments are closed.