Kecewa Dibayar Bertemu Ikan Manta

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (20)

Juru Mudi Sore hari setelah cukup beristirahat di penginapan, saya mencari tumpangan agen untuk sharing cost berkeliling pulau-pulau di sekitar Labuan Bajo. Tidak mudah mencari agen perjalanan yang begitu banyak dan disesuaikan dengan kebutuhan uang serta tujuan dari setiap destinasi. Setelah hampir lima agen, akhirnya saya menemukan satu agen yang sreg dengan kebutuhan saya, itinerary 2 hari 1 malam, dengan destinasi hari pertama ‘bermain’ air dan hari keduanya melakukan trekking.Jangkar

Saya akhirnya setuju meski harus bergabung dengan turis-turis luar semuanya. Pukul 09.00 saya sudah siap di pelabuhan, di atas kapal sambil menunggu kehadiran turis lainnya. Biasanya pagi buta saya sudah melakukan perjalanan menuju destinasi-destinasi yang akan saya kunjungi, saat ini saya harus memaklumi karena status saya sebagai benalu di antara turis lainnya dan sudah menjadi kebiasaan jika turis luar itu memulai perjalanan di atas pukul 08.00.

Setelah enam turis luar itu datang, kapal akhirnya berangkat menuju pulau pertama; Pulau Kenawa. Labuan Bajo memang beda dari pelabuhan lain yang pernah saya lihat, di sana lebih didominasi kapal-kapal kayu dan pastinya kapal kayu kebanggaan nusantara, phinisi. Jumlah kapal yang dikenal sebagai kapal Suku Bugis itu berjumlah banyak sekali di sana, membuat saya takjub akan kehebatan pelaut-pelaut Indonesia.

Pulau KenawaKapal itu begitu gagah perkasa dengan bentuk yang sangat megah seakan ombak besar tidak akan sanggup menenggelamkannya. Kapal kami berlabuh di Pulau Kenawa dan tanpa banyak mengulur waktu seluruh penumpang sudah berenang untuk melihat terumbu karang di sana. Kecewa, benar-benar menyedihkan kondisi terumbu di sana karena begitu banyak sekali yang mati. Dibandingkan keanekaragaman terumbu di Karimun Jawa tahun 2011, kondisinya begitu tidak terjaga.

Tidak lama saya berenang di sana karena rasa kecewa yang saya lihat. Akhirnya setelah turis lain selesai snorkeling kapal melanjutkan perjalanan menuju Manta Point. Sudah lima hari menurut kapten kapal di sana tidak bisa melihat ikan manta karena kondisi air yang tenang. Di lain kondisi, menurut kawan saya saat dia di Manta Point, tidak perlu sampai berenang karena ikan besar bertubuh pipih tersebut akan mencari makan (plankton) pada permukaan laut.Snorkeling

Betapa beruntungnya kawan saya itu. Saya pun tidak berharap terlalu besar tetapi masih memegang teguh prinsip saya saat di Kelimutu. Pantang mundur sebelum mengetahui langsung kondisi di sana. Kapal tiba di Manta Point dengan kondisi arus yang sangat deras. Turis yang berenang pun hanya yang melakukan diving. Kapal tidak memungkinkan untuk berdiam karena akan terbawa arus jika mesin dimatikan. Setelah cukup lama ternyata kapten kapal berteriak bahwa di bawah laut sana terlihat ada ikan manta.

Saya tidak banyak berpikir, langsung saja meloncat dan mencelupkan kepala melihat dasar laut. Ah, sungguh indah sekali. Benar mempesona ikan manta itu. Mereka berenang dengan tenang di bawah sana. Ukurannya begitu besar, mungkin yang saya lihat saat itu mencapai 3 meter lebarnya. Elok sekali gerakan mereka, seakan arus besar yang saya rasakan tidak mempengaruhi pergerakan mereka.  (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)