KBS yang Tetap Cantik di Tengah Prahara

Awal 2014 adalah saat yang sangat memprihatinkan bagi Kebun Binatang Surabaya (KBS). Bagaimana tidak, tak lama setelah seekor rusa tanduk mati dengan perut kembung, giliran seekor singa Afrika jantan bernama Michael mati tergantung sling baja di kandangnya sendiri. Foto Michael yang mati “gantung diri” segera beredar di berbagai media, bahkan sempat diliput oleh media internasional.

Penasaran dengan kondisi terakhir, PADmagz segera meluncur untuk melihat langsung apakah kondisi KBS yang pernah menjadi kebun binatang terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara itu seburuk yang diberitakan. Berbekal karcis seharga Rp. 15.000, tim memasuki area kebun binatang seluas 15 ha yang teduh dengan rimbunnya dedaunan dari pohon-pohon berusia puluhan tahun.

Tidak terlalu banyak yang berubah. Masih teduh, asri, dan udara yang dihirup masih lebih segar daripada di luar KBS. Tidak tercium aroma prahara di dalam sana. Pelan-pelan tim menelusuri area konservasi unggas. Burung berbagai jenis, ukuran, dan warna menari-nari dengan cantiknya di dalam sangkar. Pemandangan ini terus kami nikmati hingga akhirnya sampai ke area berbau sangat menyengat.

Rupanya, tim telah tiba di sangkar Pelikan yang sedang ramai dibicarakan. Memang, kandang itu menjadi terlalu sempit dengan banyaknya Pelikan berukuran besar di dalamnya. Tak tahan dengan bau menyengat, melangkah menjauhi area Pelikan adalah pilihan tepat.

Menilik sejarahnya, riwayat KBS bermula dari hobi seorang jurnalis berkebangsaan Belanda, HFK Kommer. Saat itu dia mengoleksi binatang di rumahnya di kawasan Kaliondo, Kapasan. Kommer mendekati beberapa orang yang mempunyai modal untuk mendirikan kebun binatang.

Gayung bersambut, Gubernur Jenderal segera menerbitkan SK No. 40, tanggal, 31 Agustus 1916 yang kemudian menyebut nama “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” (Kebun Botani dan Binatang Surabaya).

Setahun kemudian, Kebun Botani dan Binatang Surabaya ini pindah ke Jalan Tamarindelan, Pandegiling. Pemindahan satwa-satwa ini total memakan waktu setahun. Pada 1920, Perusahaan Kereta Api Uap Jawa Timur – Oost Java Stoomitram Maatschappij (OJS), mengusahakan tanah seluas 8 hektar, bersebelahan dengan stasiun trem Wonokromo.

Seiring dengan berkembang biaknya satwa, lahan pun berkembang menjadi 15 hektar yang areanya sampai ke kawasan Darmo sekarang. Hal ini menjelaskan, mengapa selain sebagai kawasan konservasi, Kebun Binatang Surabaya juga menjadi kawasan cagar budaya yang perlu dijaga kelestariannya.

Perkembangan selanjutnya, dari tahun ke tahun Kebun Botani dan Binatang Surabaya mengalami perbaikan dan banyak perhatian dari semua pihak. Kebun Botani dan Binatang Surabaya kini dikenal sebagai Kebun Binatang Surabaya atau mudahnya disebut KBS, dalam perkembangannya telah berubah fungsi.  Jika dulu hanya sekadar tempat penampungan satwa eksotis koleksi pribadi, kini  dikembangkan menjadi sarana perlindungan dan pelestarian, pendidikan, penelitian, dan rekreasi. Dengan koleksi hingga tiga ribuan binatang dengan 300 spesies satwa berbeda, KBS bisa dibilang memiliki koleksi keragaman satwa terlengkap, termasuk koleksi satwa-satwa langka Indonesia maupun dunia yang terdiri atas aves, mamalia, reptilia, dan pisces.

PADmagz terus melangkah hingga ke kandang terbuka yang relatif baru, tempat harimau benggala, singa, dan jerapah ditempatkan. Sampai akhirnya mata ini tertuju pada satu bangunan yang sangat tinggi. Ternyata itu adalah menara pandang sekaligus jembatan bertingkat yang bisa membawa kita melihat area KBS dari atas. Senang rasanya dapat menikmati pemandangan dari ketinggian, meski dalam hati muncul keprihatinan karena menara ini kurang terawat. Saat menuruni menara, tim menyempatkan diri beristirahat sambil memandangi para pengunjung yang mengayuh sepeda air atau naik perahu menyusuri sungai yang mengelilingi pulau buatan.

Mendekati pintu keluar, tim mendapatkan sebuah pemandangan langka. Di awal tahun biasanya KBS kedatangan “tamu”, yaitu burung dari Australia yang sedang bermigrasi ke utara, Black Crowned Night Heron. Burung-burung yang berbulu hitam legam bergaris putih di punggung ini biasa berkelompok di dekat menara. Jika hari libur, biasanya banyak pengunjung yang menikmati burung-burung itu dari atas menara.

Meski kekisruhan di Kebun Binatang Surabaya telah menjadi sorotan internasional, ternyata hal tersebut sama sekali tidak menyurutkan minat masyarakat untuk mengunjungi KBS. KBS tetap menjadi jujugan utama wisata bagi warga Surabaya dan sekitarnya. Bahkan banyak pengunjung yang datang jauh-jauh dari luar Jawa Timur hanya untuk menikmati keindahan lokasi wisata legendaris ini. Jika hari biasa kunjungan mencapai angka tiga ribuan, pada hari libur bisa membludak hingga puluhan ribu. Pada libur tahun baru 2014, jumlah pengunjung bahkan mencapai 40.000-an. Hal itu sekaligus memecahkan rekor, karena pada tahun-tahun sebelumnya jumlah kunjungan tertinggi hanya di kisaran 25.000 pengunjung.

Tidak dapat dipungkiri, kekisruhan di KBS yang belakangan diangkat ke permukaan membuahkan hikmah berupa pembenahan-pembenahan di dalamnya. CCTV mulai dipasang di banyak titik untuk mengawasi setiap sudut kebun binatang. Pemerintah Kota Surabaya pun mulai melengkapi kebutuhan akan sarana dan prasarana di KBS, salah satunya pengadaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan satwa. Juga pemenuhan makanan para satwa yang lebih diperhatikan agar tidak terlantar.

Setelah mendengarkan penjelasan-penjelasan itu, timbul perasaan lega. Memang benar, Kebun Binatang Surabaya sedang dirundung masalah pelik yang sebenarnya sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Namun, seburuk apa pun prahara di dalamnya, KBS tetaplah tempat wisata yang cantik, bak oase di tengah panasnya cuaca Surabaya.