Ke Singkawang Tak Harus Cap Go Meh

Cap Go Meh (hari ke-15 setelah pergantian tahun Lunar) senantiasa ditandai oleh kemeriahan tiada tara pada pelbagai tempat, terutama Pontianak dan Singkawang. Untuk tahun 2017, Cap Go Meh jatuh pada 11 Februari 2017.

Biasanya, satu dua hari menjelang hari H keramaian di Pontianak atau Singkawang mulai terlihat di sana-sini. Di Singkawang, kota pesisir sejauh 3-3,5 jam berkendara dari Pontianak, punya magnet kuat dalam menarik wisatawan saat Cap Go Meh.

Mereka datang demi menyaksikan even tahunan itu berlangsung dengan meriah. Tak heran, semua hotel dipastikan fully booked selama periode tersebut. Umumnya, penginapan berbagai kelas telah dipesan jauh-jauh hari malahan ada yang setengah tahun sebelumnya.

Penduduk yang mempunyai kamar berlebih turut menyewakan pada wisatawan yang tak kebagian tempat dan mempunyai anggaran lebih rendah dari kamar hotel.  Terkait Cap Go Meh, saya sebenarnya mendamba bisa datang ke Singkawang.

Tapi ada banyak faktor saya tak beruntung menyaksikan perayaan Cap Go Meh secara langsung di sana. Pertama ya karena harga tiket Jakarta-Pontianak yang meroket dalam periode tersebut. Ke dua, saya tak mendapat kamar di hotel sesuai incaran; yang terjangkau isi dompet, sedekat mungkin dengan jalan yang dilewati arak-arakan, dan murmerber alias murah meriah bersih.

Beberapa kali saya tersenyum kecut tak terelakkan ketika mengingat pertanyaan saya ke kru hotel yang ciamik dan nyaman apakah masih ada kamar untuk ‘hari ke 14 dan 15’ setelah perayaan tahun baru Imlek. Meskipun tak jarang sejak hari ke-12, sudah banyak kemeriahan di jalanan.

singkawang (1) - perpaduan biru laut dengan biru langit itu selalu menghadirkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata2Tahun depannya lagi saya menanyakan hal itu sekitar 5,5 bulan sebelum hari  H tapi hanya dijawab senyum ramah dan penjelasan yang mencengangkan. “Sudah fully booked Mbak, dari beberapa bulan lalu,” jelasnya tanpa harus menghabiskan bermenit-menit mengecek komputer. Astagaaa!

Faktor paling besar lagi ya waktu yang kurang pas dengan kemungkinan mengklaim sisa cuti. Makanya, pada suatu long weekend,-jauh sebelum Cap Go Meh datang, saya tuntaskan hasrat bertandang ke Singkawang, mengabaikan kebingungan para rekan yang berkomentar; “Ngapain ke sana? Kalau nggak pas Cap Go Meh nggak seru! Nggak ada yang menarik!”

Ah, anggapan keliru itu dapat saya patahkan sendiri. Saya sungguh menikmati dua malam menginap di hotel yang bersih dan terkesan baru. Cukup menyibakkan tirai jendela kamar sedikit, sebuah bukit terpampang menyita pandangan mata.

Dalam perjalanan dari Pontianak ke Singkawang, sejumlah pantai siap memuaskan pancaindera dengan keindahannya. Sebut saja di antaranya Pantai Kijing, Pantai Batu Payung, Pantai PasirPanjang, Pantai Kura-kura juga Pantai Samudera Indah sempat saya kunjungi. Sebagian menyenangkan hati akan pasir putihnya.singkawang (4)- jajan pasar nan menggoda di pasar tradisional singkawang

Lainnya memesona melalui formasi bebatuannya yang apik. Menyambut pagi dengan blusukan ke pasar tradisional merupakan hobi saya ke manapun jika plesiran. Di samping mencicipi jajanan pasar yang ampuh menerbitkan air liur itu, berinteraksi dengan para pedang serta pengunjung pasar menghadirkan perasaan tersendiri.  

Singkawang  kaya akan deretan kedai kopi di pinggir jalan siap menggugah hati melakukan repeat order. Apalagi, bila menyesapnya bertemankan pisang goreng hangat yang bentuknya bak kipas, khas Kalimantan itu lho!

Aneka kwe tiauw serta masakan Tiongkok lainnya adalah pilihan tepat untuk menjawab selera makan setelah paginya menyantap bubur Singkawang yang terkenal kelezatannya. Sore harinya, masuk ke kawasan pasar yang dijuluki ‘Hongkong di waktu malam’. BTW, saya bingung kok sebutannya begitu, padahal beda total dengan Hongkong.

Tapi semua itu cukup menggembirakan saya. Selain kue basah, berbagai kudapan lain, pakaian dan pernak-pernik dapat ditemukan di sini. Dari sejumlah tempat kuliner yang saya datangi selama di Singkawang, setidaknya tiga yang pantang dilewatkan andai berkesempatan kemari lagi.

singkawang (3) - salah satu area di bukit bougenville Mereka ialah rumah makan vegetarian Maitreya (menunya banyak, rasanya enak, tempat bersih dan luas disempurnakan harga yang murah), Warkop Athin yang punya kopi dahsyat, rumah makan di atas bukit  karena asyiknya bisa menyantap hidangan sambil memandang kerlap-kerlip lampu di bawah.

Tak ketinggalan, Taman Bougenville, Sungai Hang Moy dan dua buah pabrik gerabah menutup acara pelesiran sebelum kembali meluncur ke Pontianak. Nah, masih mau bilang bahwa ke Singkawang harus semasa Cap Go Meh???? Nggak juga tuh! (naskah dan foto: Lucy Liestiyo/editor: Heti Palestina Yunani)