Ke Sei Duku, Mampir Dulu di Tanjung Buton

Backpacker-an 7 Hari 7 Pelabuhan; Pelabuhan Sei Duku (1)

pelabuhan1-sei-duku-7Tidak dipungkiri Indonesia adalah negara kepulauan dan bahari. Maka, perjalananku kali ini dengan backpacker-an selama tujuh hari sengaja aku lakukan untuk menyusuri tujuh pelabuhan. Aku mencoba jalur laut dari Bumi Lancang Kuning Pekanbaru menuju berbagai pulau dari Bengkalis, Selatpanjang, Balai Karimun, Tanjung Balai dan finish di Batam.

pelabuhan1-sei-duku-6Langkah awal untuk rencana itu kulalui dengan menuju Pelabuhan Sei Duku di Kota Pekanbaru. Inilah pintu gerbang awal menuju pulau-pulau di luar Pekanbaru. Dari sini pembaca akan aku bawa betapa asyiknya melakukan perjalanan dari pelabuhan ke pelabuhan yang lain.

pelabuhan1-sei-duku-3Di sini banyak pilihan untuk diambil: apakah Anda mau memakai kapal cepat atau kapal lambat? Kapal cepat dengan jet ditawarkan beberapa pengguna jasa antara lain Nagaline, Garuda Express dan Porti Express.

Tujuanku kali ini kulalui ke Pulau Selat Panjang dahulu. Dari sana, menuju ke Pelabuhan Sei Duku sangatlah mudah. Ada banyak alternatif dari mulai ojek, taxi dan Trans Riau.

Kebetulan aku memakai jasa kapal jet Nagaline yang memang khusus melayani rute Sei Duku ke Selat Panjang PP. Tarif  tiketnya cuma Rp 160 ribu plus Rp 2 ribu buat boarding pass.

Pukul 8 pagi kapal jet Nagaline bersandar di Pelabuhan Sei Duku. Sistem di pelabuhan ini mirip dengan chek in di bandara. Seluruh penumpang diharuskan berada di ruang tunggu. Baru jika ada panggilan dari petugas, penumpang dipersilakan langsung masuk ke kapal jet.pelabuhan1-sei-duku-1

Di dalam kapal Nagaline, jangan dikira kondisinya kumuh dan berantakan. Tapi di dalam kapal ini sungguh bersih. Ruangannya ber-AC dan dilengkapi layar LED untuk memutar film. Tempatnya duduk juga nyaman dan berderet-deret rapi.

pelabuhan1-sei-duku-2Itu menjadikan perjalanan menelesuri sungai atau dalam Bahasa Melayu Sei teramat nikmat, sambil melihat pemandangan sekitar. Rute kapal jet Nagaline tidak langsung ke Selat Panjang tapi masih melalui pelabuhan lagi yaitu Tanjung Buton di Siak.

Ini karena sejatinya Pelabuhan Sei Duku hanya pelabuhan kecil atau transisi. Setelah kapal yang kutumpangi berhenti di daerah Siak, aku meneruskan perjalanan dengan bus jalur darat ke Pelabuhan Buton masuk dalam wilayah Siak Kampar. Sepanjang jalan terlihat gersang dan tandus, jalan kering biarpun di bawahnya kaya minyak.(naskah dan foto: Ferry Fansuri/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)