Ke Dhunce? Mari Nikmati Dancing Road!

Jelajah Nepal; Negeri Impian Para Petualang (3)

Setelah mengubur impian bisa ke Everest Base Camp (EBC), destinasi lanjutan yang saya bidik adalah Langtang National Park. Didirikan pada 1976 sebagai taman nasional Himalaya yang pertama, kawasan lindung ini mencakup area seluas 1.710 km2 di distrik Nuwakot, Rasuwa dan Sindhulpalchok, wilayah Himalaya tengah.

Di taman nasional itu, ada Puncak Langtang Lirung (7.245 m) yang menjadi puncak tertinggi. Juga terdapat danau yang disucikan, Gosainkunda. Di danau terbesar di ketinggian 14.100 kaki inilah, saya tentukan titik tujuan akhir petualangan saya di Nepal, negeri para petualang.

Untuk sampai ke Langtang, saya sudah atur bagaimana baiknya. Maka, begitu di hari pertama saya menjejak Nepal sekira 17 Oktober 2017 lalu, saya langsung menuju Thamel. Area ini sengaja didesain sebagai kawasan turis. Itulah makanya tersedia banyak paket wisata dengan harga bersaing.

Di Thamel, para avonturir dari berbagai negara, berkumpul, termasuk saya. Salah satu tujuan wisata di Nepal ini sudah ternama menjadi jujukan para wisatawan asing, terutama pendaki untuk menginap. Segala keperluan pendaki tersedia. Termasuk deretan toko yang menjual peralatan petualangan. Ada yang murah sampai yang ori.

Suasana Thamel dengan toko-tokonya itu mengingatkan saya pada Malioboro di Yogyakarta atau Legian di Bali. Saya pun ikut belanja beberapa alat pendakian di situ, plus menyewa kantung tidur.

Setelah belanja cepat tanpa memilah, saya segera mengejar bus di New Bus Park Kathmandu. Saya pilih kendaraan umum untuk membawa saya berangkat pukul 10.00 menuju Dhunce. Bersama saya, ada Yuba, guide berlisensi dengan jam terbang tinggi sejak 2006.

Ia menemani saya menempuh perjalanan dengan bus lokal itu sekira 8 jam lamanya. Mirip dengan bus di daerah pinggiran Indonesia, banyak penumpang yang membawa hasil panen bersama mereka. Maka jangan marah kalau kaki harus rela bergeser demi karung bawaan mereka bisa muat masuk ke dalam bus.

Sayang, infrastrukturnya rusak sepanjang jalan. Jadinya, semua penumpang seolah ‘dipaksa’ menikmati dancing road. Bukan dari lagu lho. Tapi akibat jalan yang mirip jalur off-road itu. Hahaha, asyik. Anehnya meski harus ‘berdangdut ria’, tidak seorang penumpang pun mengalami mabuk darat.

Tak saya lihat ada yang muntah akibat perjalanan yang panjang dan kondisi jalan berdebu tanpa aspal. Jadi, benarlah kalau mereka ini orang-orang kuat. Mereka seperti akrab dengan roda bus yang bergoyang ‘menggerus’ tanah basah. Padahal bisa jadi kondisi terburuknya dalah melayangkan nyawa mereka kapan saja.

Tidak ada wajah tegang di wajah penumpang-penumpang itu. Kecuali saya satu-satunya, barangkali. Saya sengaja duduk di pinggir agar bisa melihat jelas bentangan jurang menganga. Posisinya tak lebih dari sejengkal dari posisi roda bus. Saya menahan ngeri, tapi sedap.

‘Ujian’ perjalanan menuju Dhunce tak cuma itu. ‘Musuh’ bus lokal ini bukan kendaraan sembarangan. ‘Badan’ kendaraan yang lewat itu tak kalah besarnya. Ada truk hingga trailer. Yang menegangkan adalah ketika mereka harus berpapasan di atas jalan rusak. Bukan main goyangannya. Saking besarnya, kalau oleng sedikit saja, bisa-bisa menyenggol bus yang saya tumpangi.

Padahal jaraknya tak sampai selebar telapak tangan. Perjalanan sejauh itu, dengan risiko kecelakaan tinggi seperti itu sudah ada dalam referensi saya. Kebetulan sebelum pergi, saya mendapat informasi dari seorang kenalan sesama traveler dari Perancis. Ia pernah menjadi saksi kecelakaan bus yang jatuh ke jurang sehari setelah saya berangkat menuju Dunche.

Mengerikan, tapi itulah adanya. Mau tahu berapa tarif yang dipatok untuk perjalanan unsavety itu? Murah, hanya sebesar NPR 450 atau setara dengan Rp 58.500. Murah? Iya. Tapi sungguh, dengan segala kondisi perjalanan yang demikian itu, orang Nepal terbukti berfisik dan bermental luar biasa.

Saya jadi ingat akan kehebatan mereka ini dalam bidang fisik yang sudah tidak diragukan lagi dalam sejarah. Pasukan Gurkha yang hebat daya juang dan fisiknya memang diambil dari Nepal. Mereka menjadi tentara bayaran di zaman invasi Inggris yang sengaja dikirim ke berbagai negara.

Salah satu contoh kekuatan Gurkha ya Yuba, guide saya itu. Dengan perawakan kecil, ia cukup gesit dalam membawa barang bawaan ke mana-mana. Di ketinggian 3000 m ke atas hingga ke Puncak Gosaikun dengan suhu minus 5 derajat, Yuba masih mengenakan jaket yang sama dengan yang dipakainya sewaktu sampai di teahouse di ketinggian 2000 m.

Ia bilang juga tidak terbiasa untuk makan pagi sebagai bekal energi awal untuk melakukan perjalanan selanjutnya. Gambaran kekuatan Gurkha sama dengan para porter (sherpa) yang saya temui di sepanjang perjalanan. Para sherpa juga berfisik prima. Mereka menggendong beban milik para wisatawan atau tepatnya para pendaki hingga seberat -/+ 50kg.

Cara membawanya unik. Bukan dengan kekuatan bahu, melainkan semua beban dimasukkan keranjang yang diikatkan di atas kepalanya. Kaki mereka tampak tak terlindungi sepatu hiking yang memadai. Saya lihat kadang malah menggunakan sandal jepit seadanya.

Akhirnya perjalanan ke Dunche berakhir juga. Saya sampai sudah larut malam. Tak langsung beristirahat, beberapa turis justru masih bercengkerama di ruang makan. Mereka merencanakan keberangkatan keesokan harinya.

Sambil beristirahat, saya resapi lagi perjalanan dengan bus tadi. Barangkali sama dengan pikiran mereka itu, Dhunce tak hanya desa keberangkatan. Bagi saya, Dunche menjadi semacam titik awal dan gambaran betapa beratnya perjalanan di Nepal, tapi asyik! (naskah dan foto: Menur Kusuma/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)