Ke Desa Moni Mampir Batu Hijau

Ende, Keindahan di Antara Kisah dan Mitos (2)
Ende-Batu yang berwarna hijau – Pantai Batu Hijau, Ende
Batu berwarna hijau di Pantai Batu Hijau

Jalanan trans Flores yang dilewati untuk menuju Desa Moni menyuguhkan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Saya membuktikannya sendiri. Demi Kelimutu, saya menggunakan jasa sewa mobil yang kebetulan saya dapatkan dari penginapan di Desa Moni.

Sopir yang menjemput saya sangat ramah. Ia banyak menjelaskan mengenai Kota Ende, Desa Moni mulai adat istiadat  dan beberapa mitosnya, sepanjang perjalanan. Asyiknya, sebelum menuju Desa Moni, ia membawa saya ke Pantai Batu Hijau.

Sesuai dengan nama yang diberikan oleh masyarakat setempat, pantai ini memang terdapat banyak batu berwarna hijau. Inilah salah satu bentuk keajaiban alam di Ende yang begitu unik. Yang ini bukanlah mitos.

Ende-Pantai Batu Hijau –EndeSaat saya mengunjungi pantai ini, cuaca sangat bersahabat. Langit cerah berwarna biru, laut hijau toska dengan bebatuan hijau menghiasi daratan di sekitar pantai. Semua itu membuat tempat ini menjadi sangat berkesan dan menyimpan keindahan serta keunikan tersendiri.

Karena tidak ingin telat tiba di Desa Moni, maka saya segera beranjak dari Pantai Batu Hijau. Seperti yang sudah saya sampaikan di seri 1, bahwa perjalanan menuju Desa Moni harus menempuh jalan yang berkelok-kelok karena melewati gunung, maka pastikan kalian yang menuju Kelimutu, sudah mengisi perut.

Ende-Aliran sungai di bawah Jembatan – menuju desa Moni
Aliran sungai di bawah jembatan menuju Desa Moni

Itu semata agar tidak mual sepanjang perjalanan. Tapi kalau pun mual, bertahanlah karena pegunungan hijau dan tebing tinggi menjadi teman sepanjang perjalanan yang menepis rasa tak enak di perjalanan. Terkadang pemandangan diselingi hamparan sawah.

Saya terkagum saat melewati sebuah jembatan dengan aliran air sungai di bawahnya. Sopir yang baik hati seolah tahu kalau saya ingin singgah sebentar di jembatan ini. Begitu ia menepikan mobil, saya melihat jembatan dari dekat.

Udara sepanjang perjalanan menuju Desa Moni juga sangat sejuk. Apalagi di jembatan ini, semilir angin berembus memainkan anak rambut. Aliran sungai yang jernih melewati seluk bebatuan begitu menenangkan hati, tetapi perjalanan harus dilanjutkan.

Sebelum tiba di Desa Moni, ketika melewati kelok demi kelok jalan trans Flores, sopir tiba-tiba menunjuk sebuah batu berukuran raksasa di tepi jalan yang mengarah ke jurang di bawah sana. Ia lalu menceritakan mitos batu gantung tersebut yang katanya sakral.

Konon, batu yang berukuran raksasa itu tidak akan jatuh ke bawah apapun yang terjadi. Keberadaannya sudah ada sejak zaman penjajahan. Tentang mitos, di mana pun kita mengunjungi daerah di Indonesia, itu memang tidak akan pernah lepas dari kepercayaan penduduk lokal setempat. Jadi, gali dan nikmati saja ceritanya.

Begitu sampai di Moni, saya menilai desa ini adalah salah satu desa terindah yang pernah saya kunjungi. Desa itu memang cantik yang berada di kaki Gunung Kelimutu. Hamparan hijau sawah dengan terasering menjadi pemandangan utama selain bukit-bukit yang tampak memagarinya.

Jejak kesederhanaan jelas tampak dalam kehidupan masyarakat di Desa Moni. Sebelum tiba di penginapan, kami singgah di pasar tradisional yang walaupun sore hari tetap ramai dikunjungi penduduk desa. (naskah dan foto: Yenny Fyfy/editor: Heti Palestina Yunani)