Karya Sastra Kwee Tek Hoay Sering Dipentaskan

Mengenal Kwee Tek Hoay, Sastrawan Besar Melayu-China (1)

KTH 1-bHampir setengah abad lebih sejak kepergiannya 4 Juli 1952, rasanya sulit sekali menemukan orang sekaliber Kwee Tek Hoay. Tahun ini, 131 tahun kelahirannya orang masih penasaran siapa dia. Bagi Indonesia, Kwee Tek Hoay yang lahir pada 31 Juli 1886, ketokohannya layak diperingati. Sebagai jurnalis, ia tertarik menulis kehidupan masyarakat Tionghoa. Masalah ini pula yang mewarnai karya sastranya di antaranya ‘Boenga Roos dari Tjikembang’ (1972), ‘Drama di Boven Digul’ (1929-1932), dan ‘Kehidupannya Sri Panggung’ (1931).

Beberapa kali saat kelahirannya diperingati, kasrya sastranya dipentaskan. Seperti pada 2011 atau 126 tahun kelahirannya, naskah ‘Nonton Cap Gomeh’ karya Kwee Tek Hoay dipentaskan kembali oleh Teater Bejana di Klenteng Dharma Jaya Toasebio, Jl Kemenangan 3 No 48, Petak Sembilan, Jakarta Barat, pada 7 Januari 2012. Lakon yang dipentaskan sebagai rangkaian Jakarta Biennale ke-14 hingga 15 Januari itu adalah salah satu naskah adaptasi dari karya besar Kwee Tek Hoay.

KTH 1-cSebelumnya, Teater Bejana telah banyak mementaskan karya Kwee Tek Hoay seperti lakon ‘Zonder Lentera’ atau ‘Hikatnja Wijkmeester Rakoes’, ‘Boenga Roos dari Tjikembang’, dan ‘Pentjoeri Hati’. Lakon-lakon itu menurut sutradara Teater Bejana Daniel H. Jacob, diambil dari novel karya Kwee Tek Hoay yang amat terkenal. Dijelaskannya, ‘Zonder Lentera’ adalah novel yang cetakan pertamanya dicetak oleh Drukkerij Panorama pada 1930. Untuk mementaskan lakon ini, karya Kwee Tek Hoay itu diadaptasi oleh Veronica B Vonny.

Daniel sengaja mementaskannya agar masyarakat makin tahu karya Kwee. Ia pun memberanikan diri untuk mengadaptasinya tanpa menghilangkan esensi-dari naskah aslinya. Seperti ‘Nonton Cap Gomeh’, lakon itu dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada 9-10 Februari 2012 saat menyambut Tahun Baru Imlek 2662 dan menyambut Cap Gomeh’. Dalam lakon ‘Nonton Cap Gomeh’ yang juga dimaksudkan untuk menyambut Imlek dan 126 Tahun Kwee Tek Hoay.

KTH 1-aDalam lakon itu, Teater Bejana ingin berkisah tentang keluarga besanan yang berseteru gara-gara ulah mantu-mantu mereka yang saling cemberut. Ditegaskan Daniel, pemilihan karya-karya Kwee Tek Hoay itu kian menunjukkan konsistensi Teater Bejana yang didirikan Daniel dan kawan-kawan pada 19 Mei 2002, dalam mengangkat karya sastra Melayu Tionghoa yang selama ini sering terpinggirkan dalam khazanah kesusastraan Indonesia.

Karena itu ketika mementaskan semua lakon dari karya Kwee Tek Hoay, Teater Bejana selalu mempertahankan penggunaan bahasa Melayu Pasar. “Maka dalam sepanjang pementasan ini, penonton disuguhi kata-kata sapaan, seperti ncek, ncim, owe, gue, dan elu. Juga penggunaan akhiran ‘ken’ untuk kata-kata yang berakhiran ‘kan’,” katanya. (naskah: Heti Palestina Yunani/foto: net/editor: hpy/bersambung)