Kalimera Isadora by Adam Yudhistira

Andai buih Laut Aegean kuibaratkan bulir bahagia yang memercik di hatiku, mungkin sejumlah itulah bahagiaku. Butuh perjuangan panjang untuk memasang sebentuk cincin di jari manismu. Tak cukup seribu suku kata untuk merangkai kisah haru-biru bagaimana aku menaklukkan hatimu dulu. Tapi, lazimnya sebuah kesungguhan, selalu berbuah manis pada akhir cerita. Kau menerima pinanganku dan kita mengikat janji sehidup semati setelahnya.

Aku mengigil saat angin laut menerpakan hawa dingin yang menusuk. Kau tersenyum, kemudian memelukku. Pekik jenaka burung-burung laut menertawai tingkah kita. Kita yang kasmaran, kita yang jatuh cinta dan seisi dunia seolah iri pada kebahagiaan kita. Pulau-pulau karang yang serupa permata adalah latar sempurna untuk cerita bulan madu kita di Yunani.

“Terima kasih, kau telah membawaku ke tempat yang indah ini,” ucapmu tanpa merenggangkan pelukan pada tubuhku. Aku mengangguk dan tersenyum. Bahagia yang kurasakan bermutasi menjadi cinta yang membuat dadaku rekah. Aku terpejam, menikmati pertukaran hawa hangat di tubuh kita. Deru angin bertiup sedikit kencang, menyibak rambutmu yang tergerai. Tak kujawab ucapan terima kasihmu, sebab kuyakin kau pasti tahu bahwa aku selalu bersedia membawamu ke mana pun kau mau.

Ombak laut menggoyang lembut tubuh kita. Kecipak lidah gelombang menampar lambung Ferri Dodekanisos yang kita tumpangi kala meretas ketenangan hamparan Laut Aegean. Di atas kepala kita cahaya pagi yang serupa emas, perasaanku melambung tinggi bersamanya. Tak ada kata yang terucap, aku membisu saat menatap senyumanmu.

“Kau cantik jika tersenyum.”

“Tapi senyum Afrodit jauh lebih cantik dari senyumku, bukan?” tanyamu seakan menduga aku pernah menatap senyum dewi kecantikan dalam mitologi Yunani itu.

“Tidak. Aku belum pernah menatap senyum Afrodit. Bahkan, jika pun pernah, aku berani menjamin, senyummu jauh lebih cantik dari senyumnya.”

“Kau perayu yang payah, Bram,” kau mencubit pinggangku, aku berkelit dan menggelinjang. Kau tertawa lepas, menertawakan ucapanku yang terdengar bagai dialog teater Epidaurus yang sempat kita saksikan saat kita singgah di sebuah desa kecil di selatan Kota Korintus. Hantaran alunan orkestra akustik dari Amfiteater Epidaurus menuntun kita menepi ke desa senyap itu. Di bukit-bukit bergelombang, ladang, dan rumpun-rumpun pohon zaitun kita tertegun, meresapi cinta yang mendalam di relung kalbu.

Kebahagiaan yang kita rasakan tak menguap meskipun pagi kian terang di langit Yunani. Saat-saat itu adalah saat-saat terindah yang pernah kita miliki. Di kejauhan Gunung Santorini terlihat biru. Sekumpulan awan komulus menaunginya. Matahari menggantung, menyinari dan menyaksikan semringah tawamu dan tawaku.

Satu hari sebelumnya kita masih berpeluk cium di alun-alun Kota Paris. Paginya kita berdua telah tiba di Dermaga Athena. Kita berlayar mengitari penjuru tanah Sang Zeus. Kita menuju Pulau Mykonos, Paros, Naxos dan akhirnya kita merapat di Pulau Santorini. Burung laut yang cantik, lautan sebiru turquouise menggiring kita ke suasana syahdu nan romantis.

Tetapi, rupanya kebahagiaan yang kurasakan amatlah singkat umurnya. Setelah serangkaian perjalanan indah itu, kau hilang dalam kabut yang tak bisa kuduga dari mana datangnya. Puncak dari tragedi itu membuatku tersentak. Aku kehilanganmu, Isadora. Kehilangan yang aku lupa apa pangkal musababnya.

Aku benar-benar tak ingat mengapa aku bisa kehilangan dirimu di hari-hari setelahnya. Apakah sang Poseidon yang membawamu ke dalam palung lautan? Ataukah segerombolan rusa dari Hutan Karinitia yang menculikmu kemudian mempersembahkan pada Dewi Artemisia? Rusa-rusa bertanduk emas, berkuku perunggu bisa saja menghipnotis pandangan dan membawamu lari meninggalkanku. Aku tergugu, menekur diri dalam kesunyian yang kelam.

Tahun ke tahun setelah kehilangan dirimu adalah deraan kesakitan yang mahapanjang. Aku terus berjuang mencarimu ke setiap sudut bumi. Aku mencari ke puncak gunung, ke dalam hutan, ke ceruk lembah, batang-batang sungai, muara hingga ke samudra yang semuanya tak luput dari penjelajahanku. Aku selalu mencarimu ke tempat-tempat indah, sebab aku tahu kau adalah pecinta keindahan.

Aku memutar langkahku jauh ke belakang. Mengikuti remah-remah tubuhmu yang mungkin saja melebur jadi abu. Aku bertanya pada segala yang kuanggap bisa menjelaskan perihal kepergianmu, pada angin, pada hujan dan pada musim yang terus berganti-ganti, namun semuanya bisu. Lagi-lagi aku hanya bisa mencaci waktu yang semakin banyak merenggut kebersamaan kita.

Di pelataran Kuil Parthenon sepuluh tahun yang lalu. Saat itu langkah kaki mengantarku kembali ke Yunani. “Pernahkah kalian melihat perempuan yang bermata sehijau zaitun?” tanyaku pada para pelancong yang singgah di Kota Akropolis. “Dia lebih cantik dari Dewi Afrodit?!”

Mereka tak menggubrisku. Pertanyaanku bagai desauan angin yang membawa rasa tak nyaman. Dari mata mereka bisa kutangkap, mereka menganggapku peziarah yang menderita gangguan jiwa. Saat itu senja mulai menyentuh dinding bukit dan membuat bayangan pilar kuil rebah memanjang. Di salah satu anak tangga aku terduduk kelelahan dan batin lebam dihantam kesedihan. Seorang perempuan tua duduk tak jauh dariku. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba dia menuturkan sebuah kisah kepadaku.

“Dahulu, aku memiliki kekasih yang kucinta dan dia pun mencintaiku,” ucapnya. Aku diam dan menyimak,” kekasihku direnggut paksa dariku.”

“Siapa yang merenggutnya?” tanyaku.

“Zeus.”

Aku terkejut dan beringsut mendekat. Aku tertarik mendengar kisahnya.

“Aku dan kekasihku tinggal di Dardania. Kami hidup bahagia di sana. Namun, Zeus mengutus seekor elang dan menculik kekasihku.” Perempuan tua itu menatap sayu ke angkasa. Kristal bening menggantung di pelupuk matanya yang sehijau zaitun. Mata yang mengingatkanku padamu, Isadora.

“Lalu apa yang terjadi setelah itu?” tanyaku tak sabar.

“Tidak ada,” jawabnya. Sampai pada jawaban itu aku kecewa. Aku berharap di akhir kisah yang dituturkannya, ia akan bertemu dengan kekasihnya. Aku mendesah.

Perempuan tua itu menatap ke arahku, kemudian berkata, ”Kisah kita berbeda,” katanya lembut.

“Apakah kau masih berharap dia kembali?” tanyaku menakar kemungkinan yang sama, sebab aku telah bersumpah untuk terus mencarimu apapun yang terjadi. Perempuan tua itu menggeleng dan itu membuatku kecewa untuk kedua kalinya.

“Ada harga mahal yang harus kubayar untuk mengharapnya kembali. Harga itu tak bisa kuberikan dan aku memilih untuk mengikhlaskan kehilangannya.” Perempuan tua itu bangkit dan berjalan meninggalkanku. ”Membiarkan dia hidup sebagai kenangan adalah bentuk lain dari sebuah keabadian. Dia akan abadi jika kau mau berdamai dengan dirimu sendiri.”

Aku tertegun mendengarnya. Kurenungi kata-kata itu dan dapat kurasakan kebenarannya. Tetapi sekali lagi dan persis seperti kalimatnya di awal perbincangan kami. Kisahku dan kisahnya berbeda, maka tak mustahil akhir kisah kami juga akan berbeda. Aku akan menemukanmu, bisa saja seperti itu. Harapanku teramat besar untukmu, Isadora.

“Pengorbananmu sungguh luar biasa,” pujiku kagum. “Tapi aku tak akan berhenti mencari, sebab aku masih bisa merasakan keberadaannya di sini,” ucapku sembari menunjuk dada. Perempuan tua itu tertawa kemudian berjalan meninggalkanku seorang diri. Kini, sejak pertemuanku dengan perempuan tua itu, aku masih setia mencarimu. Entah kapan aku akan berhenti mencarimu, aku tak tahu.

“Kita sudah merapat di Dermaga Ormos Othinios, Tuan Bramantyo. Kita sudah berada di Pulau Santorini,” sebuah ucapan memecah lamunanku. Aku mengangguk, tapi wajahku tak berpaling dari laut yang membiru. Nikopolidis, nakhoda kapal ferri yang kusewa memandangku penuh tanda tanya. Dia pria baik dan tak masalah kubayar jasanya demikian mahal asalkan serpih-serpih bayanganmu masih bisa kutemukan.

“Baiklah. Aku akan menelponmu jika urusanku di sini sudah selesai,” sahutku santai. Nikopolidis mengangguk. “Aku akan bermalam, mungkin tiga atau empat malam di kota ini.”

Aku menuruni tangga kapal, ada haru yang mengembang saat kaki ini menginjak Pulau Santorini—pulau yang puluhan tahun lalu kutinggalkan. Aroma pesisirnya masih sama, camarnya, bebatuannya, anginnya dan lambaian pohon-pohon pinus, serta pohon-pohon yang tak kutahu namanya itu masih pula sama. Semua tak ada yang berubah.

“Kau pernah ada di sini, Isadora,” bisikku sayu.

Angin gemerisik di sela dedaunan. Pohon-pohon pinus meranggas tua, tumbuh menjorok ke tenggara. Di teluk berbatu karang yang dahulu menjadi tempat kita menyaksikan kemilau sunset yang tembaga, camar-camar terbang bercengkrama. Tebing-tebing yang tercipta dari kaldera membungkuk seolah sedang bersujud pada matahari yang kita puja.

Cepat sekali waktu membawamu, namun terasa lamban dalam benakku. Aku masih merasakan wangi tubuhmu di sini. Aku bercakap pada angin laut yang bisu dan pada ombak-ombak pecah yang mendesah. Namun setelah desahnya menyusut, aku berjalan meninggalkan tepian kenangan yang menguarkan aroma tubuhmu di pantai itu. Aku tak sanggup, hatiku perih mendapati kau tak lagi berada di sana.

Kalimera Isadora,” gumamku seorang diri.

Langkah kaki rungkuh ini terseok menyusuri jalanan Kota Santorini. Pikiran dan hatiku tertohok kenangan demi kenangan masa lalu. Di sudut kota ini kita pernah merampak cerita. Tentang tragedi letusan gunung berapi yang menenggelamkan peradaban Minoa atau tentang kisah cinta yang selalu berakhir bahagia. Aku benar-benar berharap kau berada di sini. Bukan hanya aroma tubuhmu, tapi aku ingin mendengar celotehmu. Kita menikmati elinikos kafes dan halva sembari tertawa ceria seperti dulu. Dulu, sebelum waktu merenggutmu dari sisiku. (penulis: Adam Yudhistira(*)/Heti Palestina Yunani)

(Kalimera, ucapan selamat pagi dalam bahasa Yunani. Elinikos kafes, kopi Yunani, biasanya diminum setiap sore. Halva, kudapan semacam biskuit yang disajikan bersama kopi Yunani.

(*) Adam Yudhistira adalah penulis muda asal Muara Enim, Sumatera Selatan. Beberapa karya cerpen dan puisinya  pernah dimuat di beberapa media. Saat ini Adam Yudhistira  aktif  berkecimpung di dunia sastra. Dia bahagia menulis fiksi dan menikmati setiap proses kreatifnya. Tragedi, cinta, perang dan tema-tema sosial adalah oase ide yang paling sering dijadikannya sumber inspirasi dalam menulis. Dia berharap dari apa yang dia tuliskan, bisa menjadi oase hiburan bagi jiwa-jiwa lelah dan membutuhkan istirahat. Menulis, berkontemplasi dan berdiskusi tentang segala hal sampai jemu adalah hobi yang dia gemari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TENTANG PENULIS

 

Adam Yudhistira adalah penulis muda asal Muara Enim, Sumatera Selatan. Beberapa karya cerpen dan puisinya  pernah dimuat di beberapa media. Saat ini Adam Yudhistira  aktif  berkecimpung di dunia sastra. Dia bahagia menulis fiksi dan menikmati setiap proses kreatifnya. Tragedi, cinta, perang dan

tema-tema sosial adalah oase ide yang paling sering dijadikannya sumber inspirasi dalam menulis. Dia berharap dari apa yang dia tuliskan, bisa menjadi oase hiburan bagi jiwa-jiwa lelah dan membutuhkan istirahat. Menulis, berkontemplasi dan berdiskusi tentang segala hal sampai jemu